KalongHunter

KalongHunter
Bab 12 : Brenda Pingsan



Jam lima sore, Jalan Kebon Cabe


Dengan nafas tak beraturan, Brenda berjalan menyusuri jalanan kebon Cabe yang lumayan sepi karena berada di dekat pemakaman. karena tak ada angkutan umum, ia memilih berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya.


"Ahh.. nafasku sesak sekali!!! Raaa...."


"Braggg!!!"


Brenda jatuh pingsan, tak lama Rifan dan Wahyu yang kebetulan melintas menghampiri Brenda yang tergeletak di tengah jalan.


"Neng!! bangun Neng!!" teriak Rifan.


Wahyu mengambil ponselnya, "Lu kasih pertolongan pertama dulu, gua hubungi ambulan.."


"Oke.." jawab Rifan yang membuka mulut Brenda agar nafasnya tetap berjalan.


Rio, seorang driver ambulan dari Hamisi Group mendapat nomor itu. lalu ia menerima panggilan darurat itu.


"Halo, Wahyu disini.. ada pasien dengan kode kuning di jalan kebon Cabe no 56, samping pemakaman Kuala Baru.." ucap Wahyu.


Rio menjawab, "Baik, saya kesana sekarang!!"


Ia membunyikan sirine ambulan yang dikendarai olehnya, secara spontan Radit dan Ryan yang sedang terjebak kemacetan membukakan jalur untuk ambulan itu.


"Teeettttt!!!"


Sirine setan menggema di jalanan kota Bogor, lalu Ryan dan Radit mengangkat satu tangannya sebagai signal untuk buka jalur.


"Ayo pak... ke pinggir dulu!!" perintah Radit.


Karena panik, Wahyu berteriak minta tolong ke warga daerah itu. tak lama, sekelompok bapak bapak datang dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa dek??" tanya pak Sukardi, Ketua RT Kebon Cabe.


Rifan menjawab, "Kakak ini pingsan, wajahnya pucat.. tadi Wahyu sudah meminta bantuan ambulans.."


"Teeeoooott!!!"


Ambulans dengan kawalan escorting dari Ryan dan Radit pun tiba, betapa terkejutnya mereka saat yang akan mereka jemput itu adalah Brenda.


"Brenda?? ayo bawa dia.." ucap Radit yang mengambil tandu dari dalam ambulans itu.


Brenda diletakan diatas tandu, tak lama kemudian ia dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan oleh tim dokter.


"Terimakasih sobat, sekarang kalian boleh pergi!!" ucap Radit.


Rifan dan Wahyu mengangguk, "Baik.."


Radit dan Ryan kembali melakukan pengawalan ke rumah sakit Harapan Baru, untungnya jalan sudah lancar sehingga tidak terlalu padat.


"Ayo pak!! kasih jalur!!" perintah Radit dan Ryan.


Setibanya di rumah sakit, Brenda dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat. Radit dan Ryan menunggu di areal parkiran bersama mas Rio, driver ambulan tadi.


"Om, ini buat bensin sama beli rokok.. itu yang tadi om bawa adalah teman kita. kalau om mau pulang silakan.." perintah Radit.


Mas Rio menjawab, "Siap dek, terimakasih..".


Ryan menghubungi Dea, untuk menemani Brenda di rumah sakit. juga agar mereka berdua bisa pulang dulu karena berseragam SMA.


" Dreettt!!!!"


Ryan menjawab, "Kamu temani Brenda, dia ada di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit Harapan Baru.."


"Ihh, dia kenapa??" tanya Dea.


Ryan menjawab, "Tadi itu dia pingsan, wajahnya pucat. makanya kita bawa pake ambulans, ya sebenarnya kita berdua sih yang kawal.. dan juga untuk urusan biaya serahkan ke Radit.. nanti dia akan menggalang dana untuk membayar biaya penanganan Brenda."


"Iya sekarang juga aku kesana.." jawab Dea.


Karena jam menunjukan pukul 17.47, dan suara adzan sudah berkumandang. Radit dan Ryan memutuskan untuk shalat magrib terlebih dahulu di mushola yang ada di dekat lobby.


Beberapa menit kemudian


Dea tiba di rumah sakit, lalu ia bertemu dengan salah satu staff rumah sakit.


"Permisi, pasien atas nama Brenda apakah masih di IGD??" tanya Dea.


Suster itu menjawab, "Oh atas nama Brenda ya?? keluarganya diminta menghadap ke dr Arfan.."


"Baik sus, terimakasih.." jawab Dea.


Dea tiba di ruangan dr Arfan, lalu ia duduk menghadap ke dokter itu untuk mengetahui apa yang terjadi pada Brenda.


"Malam dok, saya Dea.. temannya pasien atas nama Brenda.." ucap Dea.


Dr Arfan menjawab, "Oke, silakan duduk.. ada hal yang akan saya bicarakan dengan anda.."


"Dia kenapa ya dok??" tanya Dea.


Dr Arfan menjawab, "Saudari Brenda terkena penyakit Asma akut, lambung bocor, dan kelelahan..untuk saat ini dia belum sadarkan diri.."


"Brendaa!! kok kamu enggak kasih tau kalau punya penyakit seberat ini??" tanya Dea yang menangis histeris.


Ryan dan Radit yang akhirnya memilih masuk ke areal rumah sakit terkejut saat mendengar suara Dea yang menangis.


"Baik dok, terimakasih ya.." ucap Dea yang keluar dari ruang dokter lalu menemui Radit dan Ryan.


Ryan bertanya kepada Dea, "Dea?? apa kata dokter??"


Dea semakin menangis histeris lalu ia memeluk Ryan. "Dea?? jawab pertanyaan saya.. Brenda kenapa???"


Dea menjawab, "Brenda mengalami Asma dan lambung bocor serta kelelahan.. aku kaget, selama ini dia enggak pernah bilang.."


"Sabar ya!! mungkin aja dia enggak mau kamu khawatir.. sabar ya!! kamu fokus saja jaga Brenda, biar nanti soal kamu ujian dan absensi saya coba bicarakan dengan wali kelas kamu.." pesan Radit.


Dea menjawab, "Iya Dit, terimakasih ya.. maaf banget udah ngerepotin!!"


"Sama sama.. tenang aja!! kalau begitu kami berdua pulang dulu ya!!" ucap Radit.


Dea menjawab, "Hati hati dijalan ya!! kabarin kalau sudah sampai.."


"Iya, kami pergi dulu.. permisi.." ucap Radit.


Dea tersenyum, lalu ia mengusap air matanya dan berjalan ke ruang ICU tempat Brenda dirawat.


******"


...Yuk Like, Vote, Komen.....