
Setelah penangkapan sahabatnya beserta putranya yang akan dijodohkan dengan Anan, pak Yoyo merasa emosi hingga menampar kedua anak kembarnya itu.
"Praakkkk!!!"
"Kalian keterlaluan!! kenapa dari tadi kalian enggak langsung pulang hah?? jadinya kan sahabat terbaik papa sejak SMA tertangkap oleh polisi." tanya pak Yoyo dengan tegas.
Anan menjawab, "Lagian papa mau ngapain sih jodoh jodohin segala?? udah tau aku enggak mau dijodohin."
"Hei nak, ini demi uang dan persahabatan. kalau begini persahabatan papa bisa rusak dan mau disimpan wajah papa setelah kejadian tadi??" tanya balik pak Yoyo.
Anan membalas, "Papa emang enggak pernah sayang sama kita, ayo Anin kita pergi." ucap Anan yang membanting pintu dengan keras lalu ia pergi bersama Anin dengan menaiki mobil.
"Keterlaluan itu anak berdua!!" batin pak Yoyo yang penyakit jantungnya kumat.
Bu Farida yang panik segera menolong pak Yoyo, sedangkan di sisi lain Dea tiba di rumah Ryan. ia pun turun dari mobil dan berjalan ke sebuah rumah yang berada di sisi kanan rumah Ryan dan Radit.
"Ini rumah siapa??" tanya Dea.
Bu Tasya datang lalu merangkul Dea, "Ini rumah baru kamu, Ryan sudah menceritakan semuanya pada mama.. dan sebenarnya itu adalah kantor pribadi Ryan yang nantinya akan dijadikan tempat usaha pengantaran penumpang dan makanan. tapi kamu isi saja, biar rumah itu bisa terurus dan yang akan Ryan gunakan hanya sedikit."
Dea menoleh, "Terimakasih ya.." ucap Dea sambil memeluk mama Tasya.
"Sama sama, ayo biar mama antar kamu ke rumah baru." jawab mama Tasya.
Dea mengusap air matanya, "Iya.."
Dea dan mama Tasya masuk ke dalam rumah itu, lalu mama Tasya menceritakan bahwa satu tahun ini Ryan menceritakan jika ada perempuan yang satu ekstrakulikuler dengan dirinya dan ia merasa bukan seperti sedang pacaran, namun vibesnya berasa Ryan adalah seorang adik dan Dea seorang kakak.
"Ini kamar Ryan, sekaligus ruang kerja.. dan ini ruangan khusus untuk nanti Ryan membuka usaha dan inilah kamar kamu. nah, peraturan yang dibuat Ryan adalah jika Ryan akan menggunakan tempat ini berarti kamu ke rumah utama saja dulu. kalau mau masak silakan disana, nanti kalau Ryan selesai baru boleh balik lagi kesini." ucap mama Tasya.
Dea menjawab, "Oh iya, yaudah.. kalau begitu aku ke kamar dulu ya.."
"Iya, nanti ke rumah utama ya!! kita masak buat Ryan makan." balas mama Tasya.
Dea menjawab, "Iya.."
Sementara itu, Anan menangis di sepanjang jalan dan Anin pun hanya bisa merenung. mereka kebingungan apa yang akan mereka lakukan, karena ini sudah tahun ke 15 mereka mengalami perlakuan kasar dari orangtuanya khususnya papanya.
"Papa kenapa sih sampai sejahat ini??" tanya Anan.
Anin yang jauh lebih dewasa dari kakaknya hanya bisa menenangkan, walaupun dirinya sendiri juga merasakan sakit yang sama.
"Tenang ya kak, mungkin nanti ada saatnya kita akan terlepas dari ujian ini." pesan Anin.
Dari belakang, Daniel dan Agung menyalip dari lajur kanan. saat Daniel iseng curi pandang ke arah mobil Anan, ia melihat gadis mungil itu sedang meneteskan air matanya sambil berkendara.
"Haii.. ke pinggir dulu yuk!!" seru Daniel.
Anan menjawab, "Iya.."
Mereka pun menepi, Anan turun dari mobilnya dan segera memeluk Daniel sambil mencurahkan semua emosinya.
"Nielll...." teriak Anan sambil menangis.
"Niell, aku bingung harus bagaimana lagi.." teriak Anan.
Daniel membalas, "Maaf, saya sendiri kurang tahu soal apa yang sebenarnya terjadi. lebih baik kamu menghadap Radit dan Ryan, kita bahas ini bersama sama.."
"Iya.." jawab Anan.
Daniel mengusap air mata yang membasahi pipi tembem gadis itu, "Yaudah, jangan menangis ya!! kita ke rumah Radit sekarang aja yuk!!"
"Iya ayo.. bawain mobil aku, aku sendiri enggak mood bawa mobil dalam keadaan seperti ini." kata Anan.
Daniel menatap Anin, "Kamu bisa kan bawain motor saya??"
"Boleh, sini.." jawab Anin.
Daniel dan Anan masuk ke dalam mobil, lalu keduanya pergi ke rumah Radit bersama untuk menyelesaikan masalah yang saat ini dialami oleh Anan.
Dengan menembus jalanan yang berdebu, Daniel dan Anan pergi ke rumah Radit. sementara itu, Radit dihubungi oleh dr Strange of multiverse karena dirinya akan check Up esok lusa.
"Halo, Assalamualaikum Dit.. maaf mau menginformasikan bahwa lusa giliran anda kontrol.. bilang juga ke mbak Senja, saya tidak punya nomornya." ucap Dr Strange.
Radit menjawab, "Waalaikumsallam, oke nanti saya sampaikan.."
"Oke, terimakasih..." jawab dr Strange.
Daniel dan Anan tiba, disusul oleh Anin dan Agung yang mengendarai motor. mereka pun segera menemui Radit untuk membahas permasalahan yang dialami Anan.
"Assalamualaikum.." ucap Daniel dan Anan.
Radit dan Andra menjawab, "Waalaikumsallam, silakan minum dulu.. itu udah saya sediakan jaga jaga jika ada tamu."
"Oke.." jawab Anan dan Daniel.
Radit dan Andra tersenyum sinis, "Tumben tom dan Mamat damai??"
"Jerry kali..amat saha Dit??" tanya Daniel.
Radit menjawab, "Mengkalem aja, coba ceritakan ada apa kalian kesini?? waktu dan sempat saya persilakan."
"Begini, pertama ada pembukaan, kedua ada sambutan sambutan, ketiga acara inti dan terakhir penutup. daripada kita buang buang waktu, langsung ke inti permasalahan yaitu Anan tiba tiba bilang ke saya jika ia punya masalah. selebihnya saya serahkan pada Anan, waktu dan tempat dipersilakan." kata Daniel.
Andra menjitak kepala Daniel, "Tiga menit, lu bilang gitu doang??"
"Iya kenapa emang??" tanya Daniel.
"Itu buang buang waktu Udin, kenapa enggak langsung sama Anan??" tanya Andra.
Anan menjawab, "Oke.. jadi begini.."
*****
...Yuk Like, Vote, dan Komen......