KalongHunter

KalongHunter
Bab 16 : Firasat Brenda



Jam setengah sepuluh pagi


Setelah kakinya diobati oleh seorang bapak pelanggan bengkel milik kakak kelasnya, Ryan mencoba menghubungi Radit apakah bisa ia mengikuti ulangan kedua atau tidak.


"Dreerrrtttt!!!"


Radit menerima panggilan itu, "Kenapa Yan??"


"Dit, coba lu bilang ke Pak Nandi atau ke guru piket atau panitia ulangan lah. gua masih diizinin ikutan ulangan kedua tidak?? soalnya kaki gua sama motor gua udah agak baikan." gumam Ryan.


Radit menjawab, "Wait.."


Raditya Achbaar : Assalamualaikum pak, apakah Ryan masih diizinkan ikut ulangan kedua?? tadi beliau memberikan info jika bisa melanjutkan ulangan.


Pak Nandi : Waalaikumsallam, boleh.. langsung ke kelas aja..


Raditya Achbaar : Siap Pak..


Radit meneruskan pesan ke Ryan


Ryan : Oke, gua ke sekolah sekarang..


Ryan memberikan uang dua ratus ribu pada Ilham, atas perbaikan pada bagian aki motornya. "Ini bang."


"Oke sip, terimakasih bro.. hati hati ya jalannya!!" pesan Ilham.


Ryan menjawab, "Oke, mari bang.."


Ryan melanjutkan perjalanan ke sekolahnya, lalu ia akhirnya tiba di sekolah lalu memanggil pak Dayat satpam penjaga gerbang.


"Assalamualaikum pak, maaf saya tadi sempat crash dan oli saya bocor.. untuk ulangan pertama saya izin, tapi yang kedua saya mendapat izin untuk melanjutkan ulangan." ucap Ryan.


Pak Dayat menjawab, "Oke, silakan masuk Ryan.."


"Terimakasih pak.." ucap Ryan.


"Sama sama.."


Dengan tertatih tatih, Ryan berjalan menyusuri lorong sekolah. lalu ia bertemu Raina yang terkejut karena ia baru saja datang.


"Kamu kok datang terlambat?? mana cara jalan kamu agak tertatih. kamu kenapa??" tanya Raina.


Ryan menjawab, "Saya crash tadi, mana oli motor sampai bocor.."


"Ya ampun, kamu enggak apa apa??" tanya Raina.


Ryan mengangkat jempolnya tanda baik baik saja, namun saat akan menaiki tangga ia sangat meringis kesakitan.


"Aaaaa!!!!"


"Ehh sini biar aku bantu!!" ucap Raina yang memapah Ryan berjalan menuju kelasnya.


Melihat Ryan berjalan tertatih tatih, Radit pun memberi bantuan untuk memapah Ryan menuju kelas. dimana kejadian itu membuat hati Indira perih, karena ialah yang paling membenci Ryan saat dahulu dan juga masih dihantui rasa bersalah meski kejadian itu telah berlalu.


"Enggak apa apa bro, ini hal yang normal. sebagai laki laki kita enggak bisa menghindar dari hal seperti ini, sudah menjadi resiko." pesan Radit.


"Lah kan gua gak bawa motor, ini aja nebeng ke si Andra." balas Radit.


Ryan menjawab, "Baguslah, nanti lu bonceng gua aja.."


"Oke.." jawab Radit.


Jam menunjukan pukul setengah tiga sore, Radit dan Ryan akhirnya tiba di rumah mereka yang saling berdekatan. lalu mama Tasya, mama Ryan membantu turun anaknya yang tadi mengalami crash.


"Aww!!" batin Ryan.


Mama Tasya mengelus kepala anaknya itu, "Sabar ya sayang, mungkin hari ini belum rezeki kamu."


"Iya, maafin Ryan ya ma..." ucap Ryan.


Mama Tasya menjawab, "Iya enggak apa apa, kamu istirahat saja dulu.."


"Ini kunci motor lu Yan.." ucap Radit.


Ryan membalas, "Terimakasih Dit.."


"Sama sama.." jawab Radit.


Di rumah sakit, Brenda disuapi makan oleh Dea, nasibnya yang sama seperti Cinderella membuat dirinya tidak ada beban untuk tidak pulang karena itulah tujuan dari wanita yang ia sebut nyonya jahat.


"Kamu enggak kepikiran buat pulang??" tanya Brenda.


Dea membalas, "Kalau aku pulang, nanti kamu sama siapa??"


"Iya juga,.." jawab Brenda.


Dea menceritakan kisah hidupnya, "Asal kamu tahu Brenda, kehidupan aku sama kayak cinderella. hidup sama mama tiri yang selalu cari muka dan mengadu domba papaku."


"Lalu bagaimana denganmu??" tanya Brenda.


Dea menjawab, "Aku sendiri jarang diperhatikan oleh papaku, andai aku punya saudara laki laki kayak Ryan sih enggak akan jadi masalah.."


"Kenapa harus Ryan??" tanya Brenda.


Dea menjawab, "Karena Ryan memunculkan aura adik, saat aku berbicara dengannya seolah seperti berbicara dengan adikku sendiri."


"Kurasa bukan cuma itu, aku, kamu, Ryan, Radit, Senja, Indira dan Raina seperti dalam satu keluarga besar yang sama deh.. cuman aku belum tahu apa yang terjadi dahulu sehingga pikiran seperti ini melintas di benakku." batin Brenda.


Dea mengangguk, "Semoga aja ya, kalau benar Ryan adalah adikku aku ingin setiap akhir pekan quality time bersama dia.. tak peduli jika aku sudah menikah nanti."


" I hope it that, Aku harus bisa lihat Ryan menemani kamu menikah sebelum aku pergi!!" gumam Brenda.


Dea terdiam, "Iya.."


*************


...Yuk Like, Vote, Komen.....