
Jam setengah dua siang
Ulangan hari pertama telah usai, Ryan bersama anak anak lainnya berada di sebuah kelas setelah mengikuti rapat untuk acara classmeeting. tak lama ponsel Ryan berdering, ternyata itu videocall dari Radit dan ia pun menerima panggilan gambar itu.
"Halo Dit, ada apa??" tanya Ryan.
Radit menjawab, "Tolong anak anak yang tidak ikut study tour kumpulkan dalam satu ruangan dengan barisan yang terpisah."
"Baik Radit.., yang tidak ikut study tour harap duduk di meja masing masing." perintah Ryan.
Indira menjawab, "Oke.."
Setelah anak anak itu duduk, Radit memulai presentasi untuk kelompok Study Tour. "Baik, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.."
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh.." jawab anak anak di kelas.
Radit memulai presentasinya, "Oke untuk study tour mini setelah ulangan nanti, saya akan membacakan nama kelompok resmi. sebelumnya kalian sudah diberitahu oleh Ryan, tapi yang ini laporan jelasnya terkait siapa saja nama anggota kelompok yang saya beri nama RadRya group ini sebagai berikut.
Ketua : Raditya Achbaar Gustara
Wakil : Ryan Ramadhan Syahreza
Sekretaris : Ratu Nasywa Maharani
Bendahara : Mentari Kusuma Putri
Dokumentasi : Andra Ramawan Sanjaya
Pembawa Acara : Indira Mayra Restami
Pembawa Acara 2 : Senja Rinjani Pramaishella
"Nah itu untuk jabatan timnya, kalian jangan saling beda bedakan teman ya!! semuanya adalah tim yang harus saling membantu." pesan Radit.
Ryan mengangkat tangannya, "Dit, itu Senja siapa??"
"Murid baru yang akan masuk besok bareng sama saya, nanti yang akan menemani Indira menjadi host." balas Radit.
Ryan menjawab, "Oke.."
"Hanya itu saja dulu, nanti kalau ada apa apa saya laporkan lagi.. kalian jika sudah selesai rapat untuk clasmeeting diperbolehkan pulang." kata Radit.
Ryan menjawab, "Oke.."
Ryan berjalan keluar dari kelasnya, lalu ia kembali bertemu Raina. seseorang yang sudah ia selamatkan bersama Radit dulu.
"Kamu mau langsung pulang??" tanya Raina.
Ryan menjawab, "Mau ke rumah si Radit dulu, ada urusan yang mau dibicarakan."
"Oh Yaudah, hati hati ya!!" pesan Raina.
Ryan menjawab, "Oke, kalau begitu saya permisi dulu.."
"Iya.." balas Raina.
Ryan pergi meninggalkan area itu, lalu Indira keluar dari kelas dan menanyakan perlihal hubungan apa dengan Ryan.
"Raina, aku mau tanya deh.. kamu sama Ryan ada hubungan apa??" tanya Indira.
Raina menjawab, "Enggak ada apa apa, aku sama dia hanya berteman saja.. kenapa memangnya??"
"Enggak, aku cuman pengen tau aja.. yaudah aku duluan ya!!" ucap Indira.
Raina membalas, "Hati hati.."
Di perjalanan, Ryan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. lalu ia terkejut karena ada seseorang yang sedang dikeroyok oleh sekelompok orang, ia pun berusaha mengalihkan sekelompok orang itu.
"Ahha, ada ide.."
"Wiuu.... tot...tot..tott..".
Ryan berhadapan dengan delapan orang sekaligus, dengan doa dan ketajaman matanya. Ryan berhasil melumpuhkan semua preman preman itu.
"Mas tidak apa apa??" tanya Ryan.
Lelaki berjaket abu abu itu menjawab, "Tidak mas, hanya lebam saja di wajah saya.."
"Kenapa dia dipukuli??" tanya Ryan dengan penuh amarah.
Salah satu warga menjawab, "Karena dia dianggap telah mencuri.."
"Ada bukti spesifik kalau dia pencuri??" tanya Ryan.
Warga menjawab, "Kata salah satu preman itu.."
"Itu kurang kuat, bisa saja preman preman ini diperintah oleh seseorang untuk membunuh pria tak bersalah ini. mungkin dengan tuduhan pencuri itulah cara mereka menghilangkan nyawa lelaki ini." jelas Ryan.
Ryan menghubungi polisi, tak lama polisi datang menangkap preman preman itu.
"Siapa bos lu bro??" tanya Ryan pada salah satu preman itu.
Preman itu menjawab, "Pak Hendra.."
Ryan mengangguk, "Oke, bawa dia.."
Ryan pun melanjutkan perjalanan, lalu sebagian orang lagi diperiksa sebagai saksi kasus penganiayaan itu.
Di sebuah acara ulangtahun, Angga dan Dhika yang berpakaian layaknya polisi dengan kemeja biru, dan kaos biru serta celana crame berjalan menemui Brenda, seorang gadis berusia 17 tahun yang sedang berdiri di depan bersama Pak Hendra ayahnya, Bu Indi ibunya, serta mas Rion, Bu Ajeng dan Pak Yoga sahabatnya yang nantinya akan menjadi besan.
"Selamat ulang tahun ya Brenda.." ucap Angga.
Brenda tersenyum, "Terimakasih ya.."
"Sama sama.." jawab Angga.
Ryan yang sebenarnya tak diundang ke acara itu dan kebetulan sedang melintas di depan rumah Brenda berusaha menghalau seseorang yang memaksa masuk ke rumah gadis itu.
"Hei... berhenti!!" teriak Ryan.
Lelaki itu melepaskan diri dari pegangan Ryan, lalu ia menerobos sekelompok orang dan berusaha menyerang Rion.
"Papa awass!!!" teriak Brenda.
Angga spontan menjegal Lelaki itu, lalu ia menahannya bersama Dhika.
"Kalian adalah intel??" tanya Rion penuh curiga.
Ryan yang baru saja tiba pun justru membuat keadaan semakin rumit, dimana ia seharusnya diundang ke acara itu namun nyatanya tidak.
"Hmm... tidak memungkinkan melawan mereka disini, banyak backingannya.. sudahlah lebih baik membawa lelaki ini keluar dari sini." batin Ryan.
Dengan kepala yang menggeleng keheranan, Ryan membawa lelaki itu keluar bersama Angga dan Dhika.
"Ryan???" panggil Brenda.
Ryan menoleh, "Maafkan aku Brenda,..."
Dengan penuh penyesalan, Ryan membawa keluar lelaki itu bersama Angga dan Dhika.
"Hiks...hiks..hiks.. Ryaaannn!!!" teriak Brenda.
Karena tindakan Ryan, Dhika dan Angga. harga diri pak Hendra langsung jatuh dan membuat pak Yoga naik pitam.
"Kita pulang saja ma!! Rion ayo pulang!! mau disimpan dimana wajah kita jika keadaannya seperti ini." batin pak Yoga.
Keluarga calon besan pun pulang dengan wajah kesal, tidak ada lagi persahabatan, kekeluargaan dan perjodohan diantara Rion dan Brenda.
*****
Yuk Like, Vote dan Koment...