
Jam setengah sebelas siang
Setelah semua korban berhasil dievakuasi, ternyata masih ada satu lagi korban kecelakaan yang terjebak di dalam mobil mewah miliknya. Andra pun memberi kode kepada captain Sukma untuk mendekat ke arah tepi danau.
"Monitor, masih ada satu korban lagi terjebak di dalam mobil.. unit bantuan 13 segera meluncur." ucap Andra.
Helikopter itu mendekat, lalu beberapa personel terjun ke danau untuk mengevakuasi korban yang merupakan seorang pria itu.
"Mppsshhh!!"
Seorang gadis meminta pertolongan karena mulutnya tertutup lakban berwarna hitam, "Hei, sebentar kita akan membantumu." ucap salah seorang personel.
Andra ikut terjun, lalu ia membuka paksa pintu belakang mobil sedan itu.
"Brakkk!!!"
Andra masuk ke dalam mobil, melepas lakban itu kemudian menyelamatkan gadis itu. "Ayo keluar, kamu aman bersama saya.."
"Baik.." jawab gadis itu yang kemudian digendong oleh Andra ke dalam helikopter.
Jasad lelaki itu pun berhasil dikeluarkan, lalu keduanya dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi dan penanganan medis.
Dalam perjalanan, gadis itu bersandar ke bahu Andra. lalu Andra memberikan sebotol air mineral ke gadis itu.
"Nih..." ucap Andra.
Gadis itu menjawab, "Terimakasih.."
Setibanya di rumah sakit, gadis itu digendong oleh Andra menuju ruang perawatan. setibanya di ruang instalasi gawat darurat, gadis itu pun dibaringkan untuk penanganan luka yang ia alami.
"Terimakasih mas, silakan keluar dulu.." perintah suster.
Andra menjawab, "Baik.."
Saat Andra akan keluar dari ruang instalasi gawat darurat, gadis itu memegang tangan Andra erat seolah tak ingin relawan yang sudah menolongnya itu pergi.
"Bang, jangan keluar dong!!" batin gadis itu.
Andra pun menuruti keinginan gadis itu, lalu ia akhirnya memilih menemani gadis itu dalam menjalani penanganan medis.
"Iya, saya disini.." ucap Andra.
Andra pun menemani gadis itu, tak lama kemudian keluarga gadis itu datang dengan beberapa warga.
"Hei, siapa kamu??" tanya seorang pria yang merupakan ayah gadis itu.
Andra menjawab, "Saya disini hanya menolong, tidak melakukan apapun yang melebihi dari yang ini."
"Ehh itu kayaknya suara si Andra.. kita ke dalam yuk!!" seru Radit pada Ryan.
Ryan menjawab, "Baik.."
Radit dan Ryan masuk ke dalam ruangan instalasi gawat darurat tak lama sekelompok orang itu langsung ketakutan.
"Apa ini??" tanya Radit.
Andra menjawab, "Bapak ini hampir saja menghajar saya, mungkin dia kelelahan."
"Raditya??" tanya pria itu.
Radit menoleh, "Jangan coba coba mencelakai Andra, jika anda tidak mau menerima akibatnya.."
Pria itu langsung bangkit dan segera pergi dengan seorang wanita dan beberapa warga kampung. lalu Andra memberitahukan sesuatu kepada Radit.
Radit menjawab, "Kita kerahkan tim perempuan, agar dia mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
"Baik.." jawab Andra.
Jenazah perempuan yang dievakuasi oleh Radit telah dibawa pulang, kini Radit menunggu kabar dari Ryan yang tadi membantu dari darat.
"Dreetrrt!!!"
Radit menelepon Anindita dan Anandita, salah satu murid kembar yang menjabat sebagai bagian sekretaris bersama Indira. ia meminta agar keduanya bersedia menanyakan keterangan dari gadis itu untuk nantinya diteruskan kepada pihak berwenang.
"Dreeetttt!!!"
"Halo Radit, ada apa?? oh iya untuk laporan keuangan study tour ada 39 juta rupiah sedangkan biaya pengobatan Brenda mencapai 5 juta rupiah." ucap Anindita.
Radit menjawab, "Oke, copy. laporan saya terima, untuk saat ini saya ada tugas untuk kalian.. bisakah kalian gali keterangan dari seorang gadis korban kecelakaan?? namun ada hal janggal dimana ia ditemukan dengan mulut tertutup lakban dan tangan terikat."
Anandita menjawab, "Bisa, nanti aku bersama Anindita kesana sekarang.. kamu sendiri lagi ada dimana??"
"Di rumah Sakit Cahaya Mentari.." jawab Radit.
Anindita menjawab, "Oke aku kesana sekarang, ini aku sama kak Anan baru saja setor uang study tour ke panitia. dan uang bantuan pengobatan Brenda ke pak Wahyu."
"Sip, terimakasih Anan dan Anin... ditunggu sekarang ya!!" perintah Radit.
Anan dan Anin menjawab, "Siap..."
Jam menunjukan setengah satu siang, Anan segera menancapkan gas mobilnya ke rumah sakit cahaya bakti untuk menggali keterangan dari seorang gadis korban kecelakaan dan penculikan itu.
Di perjalanan, mereka ditelepon oleh Bu Farida orangtua si kembar itu. Anin pun mengangkat telepon itu, "Halo ma?? ada apa??"
"Sayang, kamu lagi dimana?? pulang dulu yuk!! ini ada teman lama papa yang ingin bicara sama kamu.." jawab bu Farida.
Anin menoleh kepada Anan, "Bagaimana ini?? pasti salah satu dari kita atau bahkan kita berdua akan dijodohkan oleh salah satu anak teman papa?? kita balik dulu apa ke si Radit dulu??"
"Biasanya sih kita akan diminta pulang dulu, kalau tidak kita akan dijemput paksa.." jawab Anan.
Senja datang menghampiri Radit dan anak anak lainnya di depan ruang IGD, lalu ia menanyakan dimana ruang tempat Brenda dirawat.
"Assalamualaikum, Dit.. kamu tau dimana Brenda dirawat ga??" tanya Senja.
Radit menjawab, "Waalaikumsallam, nanti kamu ke lantai atas lewat eskavator, eh maksudku escalator.. disana kamu belok kanan, lalu belok kiri.. nah disitu.."
"Ruangannya??" tanya Senja.
Radit menjawab, "Bukan disana kamar mayat, kamu lurus lagi... belok kanan kiri kanan kiri, putar putar jari.."
"Ish yang benar dong Radit!!" ketus sebal Senja sambil menginjak kaki Radit.
"Awww!!! iya tinggal belok kanan, disitu sampai.. ruangan cempaka.." jawab Radit.
Senja mengangguk, "Iya, aku kesana dulu.. untung ganteng, kalau enggak udah aku tonjok itu muka.."
"Selow aja kali.." balas Radit.
*******
Yuk Like, Vote, Komen..