
Dengan menggunakan helm miliknya, Ryan menaiki sebuah motor gede berwarna merah untuk pergi ke sekolah. di perjalanan, ia menyalip beberapa kendaraan karena hari sudah siang dan sebelum ia terlambat mengikuti ujian.
"Akhirnya sampai juga," gumam Ryan yang turun dari motornya, tak lama ia pun melihat gerbang sekolah ditutup.
Ryan segera berlari masuk ke areal kelas, disana ia masih bisa bernafas lega karena bu Desi belum datang.
"Wah, fiks dunia sedang tidak baik baik saja Ryan datang terlambat.." kata Indira.
Ryan pun duduk di tempatnya, tak lama bu Desi datang lalu memulai sesi ulangan akhir semester ganjil itu.
"Ayo anak anak berdoa dulu.." perintah bu Desi.
Dengan nafas yang terengah engah, Ryan mengeluarkan alat tulis dan papan board untuk mengisi soal ujian.
"Ahh hari ini sangatlah sunyi sekali, lebih baik spotting pesawat yang lewat." gumam Radit.
Ia pun memandangi langit dan aplikasi flight radar miliknya, tak lama sebuah objek garis putih terlihat di sebelah timur.
"Nah itu dia... saatnya spot.." gumam Radit.
Setelah pesawat itu melintas, Radit kembali masuk ke dalam rumahnya. sementara itu, di sekolah Ryan keluar dari kelas setelah ia berhasil menyelesaikan soal matematika lebih dulu.
"Ryan, mau cobain bekal buatan mamaku tidak??" tanya Raina, anak kelas IPA A.
Ryan menjawab, "Boleh, capek juga nih habis menyelesaikan soal matematika."
"Yaudah ambil saja sedikit,.." pinta Raina.
Ryan mengambil sedikit makanan bawaan Raina, ia pun menyantap makanan itu sambil duduk di depan kelas.
"Terimakasih ya.." ucap Ryan.
Raina menjawab, "Sama sama.."
Ryan melanjutkan makannya, begitu juga Raina yang pergi ke kantin. "Hmm.. makanan pemberian Raina enak juga, apa ini bisa aku jual bersama tahu bakso buatan Radit??"
"Ehh si Ryan enak sekali makan perkedel disini!! dari siapa??" tanya Indira.
Ryan menjawab, "Raina, kenapa emang??"
"Mentang mentang dia sekretaris OSIS, seenaknya kasih makanan ke kamu." ketus Indira sebal.
Ryan tersenyum, "Kenapa?? cemburu bukan??"
"Idih cemburu, mana mau sama cowok ahli jokes kayak kamu!!" batin Indira.
Ryan mengalihkan pandangannya, lalu ia pergi ke kantin untuk membeli mie ayam langganannya bersama Radit.
"Yaudah, saya ke kantin dulu.." gumam Ryan.
Indira menahan emosinya saat berhadapan dengan Ryan, "Ihh, kalau bukan manusia udah aku pukul.."
"Bu, beli mie ayam satu.." gumam Ryan.
"Kamu kok sendirian Ryan?? si bosmu mana??" tanya Bu Sofi.
Ryan menjawab, "Beliau masih harus istirahat di rumah karena kena HBD, eh maksud saya DBD. besok beliau bisa masuk lagi."
"Ohh begitu, kasihan dia sama kamu.. apalagi kalian adalah ketua kelas, sekaligus ketua angkatan, ketua OSIS dan ketua Ekskul Sepak Bola." kata bu Sofi.
Ryan tertawa, "Itu sudah biasa bu, dari SMP juga jadi ketua mendadak karena saat itu ketua kelasnya kena kasus dan wakilnya sakit parah. jadinya saya dan Radit jadi pelaksana tugas."
"Ohh begitu..." balas bu Sofi.
"Kasihan wakil pak ketua harus makan mie ayam sendirian, si Radit belum balik dari rumah sakit bukan??" tanya salah satu siswi.
Ryan menjawab, "Dia sudah pulang, cuman hari ini dia belum bisa masuk.."
"Ohh begitu.." jawab anak anak gadis itu.
Ryan melanjutkan makan mie ayamnya, tak lama Raina kembali datang menanyakan perihal ia ikut study tour.
"Ryan, kamu fix beneran gak ikut study tour??" tanya Raina.
Ryan menjawab, "Iya, karena perut saya agak eror. makanya buat jaga jaga enggak ikut, paling nanti ikut study tour mini."
"Yahh enggak seru dong kamu enggak ikut!!" batin Raina.
Ryan menjelaskan maksudnya itu, "Begini, Radit kan lagi sakit. terus saya juga punya tugas khusus dari pak kepala sekolah."
"Yaudah deh, nanti aku kirim foto foto bus untuk kamu dan Radit ya!!" gumam Raina.
Ryan menjawab, "Oke.."
Raina pun kembali ke ruang kelas, lalu Indira kembali menghampiri Ryan.
"Dia bicara apa sama kamu??" tanya Indira.
Ryan menjawab, "Hanya sekedar menanyakan apakah saya ikut atau tidak, sudahlah saya mau lanjut makan mie ayam lagi."
"Iya deh.." jawab Indira yang pergi membeli es seduh.
Flashback On
Ryan dan Radit sudah bersahabat sejak kelas 4 Sekolah Dasar, karena Radit saat itu pindah sekolah dari kota. dan juga Ryan selalu menjadi bulan bulanan bullying dan ejekan dari Indira dan juga keluarganya.
"Kalian berdua datang ya!! awas loh kalau tidak datang ke acara ulang tahunku." gumam Indira yang saat itu berusia sepuluh tahun.
Radit membisikan sesuatu ke Ryan, "Yan, kalau mau datang kesana mending pakai celana crame, kemeja biru dan topi hitam. nanti aku pakai kaos kuning, rompi hitam dan celana gunung berwarna crame."
"Nah oke.." jawab Ryan.
Pada sore hari, Radit dan Ryan berjalan melalui perkebunan pisang dan hutan lebat. di perjalanan, mereka melihat sebuah rumah misterius dan karena penasaran mereka pun masuk ke dalam rumah itu.
"Kreeekkkk!!!"
"Woyyy!!!"
Radit dan Ryan mengambil ancang ancang, mereka pun bertarung melawan tiga orang penjaga. dimana di belakangnya ada anak seusia Indira yang sedang diikat di tiang dengan mulut tertutup lakban.
"Ayo sini!!!" teriak Radit.
Setelah pertarungan selama setengah jam, bala bantuan datang dengan seekor burung elang yang menghantam bagian atap rumah itu sehingga menimbulkan percikan api dan kebakaran pun tak terhindarkan.
"Kebakaran!!! ayo lari!!" teriak pria itu.
"Bos, bagaimana dengan anak itu??" tanya salah seorang kawanannya.
"Itu urusan nanti, kita selamatkan diri kita dulu.." teriak bos mereka.
Radit dan Ryan pun melepaskan ikatan pada gadis itu, lalu mereka berdua pergi dari tempat itu dan mengurungkan niat menghadiri acara ulangtahun Indira.
*****
Yuk Like, Vote dan Koment Cerita ini...