KalongHunter

KalongHunter
Bab 13 : Ini Bukan Uji Nyali



Jam setengah tujuh malam


Daniel, Agung dan Andra tiba di depan rumah Brenda yang nampak acak acakan. dengan penerangan senter, mereka mencoba mencari orangtua Brenda untuk memberitahukan perihal Brenda yang masuk rumah sakit.


"Permisi, Assalamualaikum.." ucap Agung.


Tak ada jawaban, Andra mencoba bertanya ke warga sekitar. "Permisi bu, orangtuanya Brenda ada di rumah tidak ya??"


"Tidak tahu A, coba saya hubungi pak RT dulu.." jawab seorang ibu pemilik warung.


Tak lama kemudian, pak RT datang lalu menemui Andra, Daniel dan Agung. "Assalamualaikum A, ada keperluan apa ya??"


"Waalaikumsallam, perkenalkan saya Andra.. orangtuanya Brenda apakah ada di rumah?? kami ingin menginformasikan bahwa Brenda masuk rumah sakit." jawab Andra.


Pak RT mengangguk, "Ohh oke, kalau begitu saya temani kalian masuk ke dalam.."


Daniel mengetuk pintu, tak lama pintu terbuka dan suasana mencekam menghampiri dirinya. "Ini bukan uji nyali, lah kok merinding ya??"


"Tidak terkunci??" tanya Agung.


Andra dan Pak RT masuk lebih dulu, betapa terkejutnya mereka saat menemukan mamanya Brenda sudah tergeletak di tengah rumah.


"Astaghfirullah!!" teriak Andra dan Pak RT.


Daniel menelepon papanya yang merupakan polisi, lalu nantinya akan ditangani oleh aparatur setempat.


"Halo?? Papa.. disini ada orang yang meninggal dunia secara tak wajar. segera kirimkan bantuan kesini ya!!" ucap Daniel.


Papa Ronald menjawab, "Siap Niel, Papa bersama Anggota nanti kesana sekarang. dimana tempatnya??"


"Jalan Kamboja no 117..," jawab Daniel.


Papa Ronald menjawab, "Baik.. papa kesana sekarang!!"


Agung menghubungi Radit, lalu memberitahukan soal apa yang ia temukan pada sahabatnya itu.


"Halo, Dit.. mamanya Brenda, ditemukan meninggal dunia di rumahnya. diduga mengakhiri hidup!!" kata Agung.


Radit menjawab, "Kasihan Brenda, yaudah lu bilang ke anak anak jangan sampai beritahu itu ke Brenda.. meskipun saat ini gua belum dapat info bahwa Brenda siuman."


"Baik Dit, siap laksanakan.." jawab Agung.


jenazah mamanya Brenda pun dibawa ke rumah sakit untuk keperluan autopsi, kemudian polisi memasang garis polisi untuk keperluan penyidikan.


"Kenapa Dit??" tanya Ryan.


Radit menjawab, "Mamanya Brenda ditemukan meninggal dunia di rumahnya, diduga mengakhiri hidup."


"Kasihan Brenda, yaudah kita tanggung aja biaya perawatan Brenda di rumah sakit. nanti koordinasi dengan stakeholder yang ada.." seru Ryan.


Radit menjawab, "Oke.."


Mereka melanjutkan aktivitasnya yaitu makan ayam bakar padang, yang tersedia di sekitaran areal pondok.


"Kita kira kira bisnis apaan ya??" tanya Ryan.


Radit berpikir sejenak, "Bentar, gua kan suka superhero batman ya.. kita bikin usaha namanya Kalong Food gimana??"


Radit mengangguk, "Oke.."


Dreettttt!!!!


Ingin sekali Senja mengangkat telepon dari Dea, akan tetapi situasi dirinya sedang terjepit oleh kedua orangtuanya dan keluarga calon besan.


"Maaf banget Dea, aku enggak bisa angkat telepon dari kamu.." gumam Senja.


Dea merasa cemas, karena teman temannya tak ada yang merespon. ia pun memutuskan menelepon Radit kembali agar ia bisa mendapat bantuan untuk menelepon sahabat sahabatnya.


"Drettt!!!"


"Halo Assalamualaikum Dea.." ucap Radit.


Dea menjawab, "Waalaikumsallam, Dit aku minta tolong dong.. coba kamu hubungi teman teman dari kelasan kamu atau kelasan aku.. penting banget ini."


"Bentar.." jawab Radit.


Radit menuliskan sebuah surat, yang dimana surat itu akan diantar oleh seekor burung Elang yang sudah ia latih.


"Oke sip, jangan khawatir.. nanti akan saya tindak lanjuti.. sekarang kamu fokus jaga Brenda ya!!" ucap Radit.


Dea menjawab, "Baik Dit.."


Radit memberikan surat itu kepada Elang Golden, untuk nantinya diantar ke rumah Senja, Mentari, Ratu atau Indira.


"Kirimkan ini!!" perintah Radit.


Elang itu terbang, kemudian membawa surat itu kepada rumah beberapa teman Brenda.


"Bagaimana nih Senja?? lamaran dari anak saya apakah diterima??" tanya pak Aswandi.


Belum juga Senja menjawab, seekor burung Elang mendarat di depan rumah. lalu ia melompat lompat masuk ke dalam rumah, kemudian memberikan secarik kertas kepada Senja.


"Dari siapa ini??" tanya Senja.


Elang itu menggerakan sayapnya membentuk huruf seperti RADIT.


"Radit?? apa isi suratnya??" tanya Senja.


From Raditya Achbaar, Ketua Osis & Ketua Kelas IPS A


To : Kawan kawan


Note : Selamat malam semuanya, disini saya sebagai ketua kelas dan ketua angkatan serta ketua OSIS meminta kesediaan kawan kawan untuk membantu Brenda yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit. untuk itu, maka kalian yang akan memberikan bantuan kepada Brenda berupa uang bisa dikumpulkan di bendahara kelas lalu nantinya dikirim ke Bendahara OSIS dan diserahkan oleh pembina OSIS. dan untuk proposal bisa langsung dibuat oleh Anindita Khairina selaku sekretaris. nanti besok akan saya laporkan ke Pak Aji selaku kepala bagian kesiswaan.


Senja tersenyum, "Aduh pak ketua kelas, orang lain pake merpati dia pake Elang.. yaudah aku foto dulu nanti di share ke grup kelas."


"Oke.." jawab Indira.


...****************...


...Yuk Like, Vote dan Komen...