
Di alam mimpi Ryan, ia sedang berjalan seorang diri di tengah hutan. tak lama ada seseorang memanggilnya dari belakang, suara itu mirip dengan Brenda.
"Ryan...,"
Ryan menoleh, ternyata ada Brenda yang tampil cantik dengan dress putih dan wajah yang bersinar.
"Kamu mau kemana??" tanya Ryan.
Brenda menjawab, "Aku mau pergi, ke tempat dimana aku sudah tidak merasakan sakit lagi. terimakasih sudah menjaga aku, dan ucapkan terimakasihku pada Radit. ingat pesan aku, jadilah diri sendiri, jangan berhenti berbuat baik dan jangan jahat sama orang."
"Tapi Brenda.." gumam Ryan.
Brenda berbalik ke arah cahaya bulan di langit, lalu keluarlah sayap berwarna putih dari punggungnya.
"Brenda, jangan tinggalin Iyan.." pinta Ryan.
Brenda berbalik menghadap Ryan, "Sudah, kamu bisa melanjutkan hidup kamu tanpa aku. ayolah Ryan, aku yakin kamu pasti sanggup."
Ryan menjawab,"Tapi..."
Brenda kembali membalikan tubuhnya, matanya menatap bulan dan ia pun terbang menuju indahnya cahaya bulan.
Brendaaa!!!!!
Ryan terbangun dari tidurnya, Radit pun memegang bahu sahabatnya itu untuk menguatkan karena memang benar kenyataannya Brenda sudah tiada.
"Yang sabar ya bro!! baca ini!!!" ucap Radit.
SFX : Foto jasad Brenda
Rachel : Assalamualaikum, Radit.. maafin aku, tadi jam 03.50 Brenda dinyatakan sudah tiada oleh dokter. ini aku masih harus urus administrasinya, sekali lagi maafin aku..
Air mata Ryan tumpah mengetahui Brenda sudah tiada, Dea yang sudah tak tahan pun segera memeluk Ryan untuk saling menguatkan.
"Sabar ya Ryan.." ucap Dea.
Radit menundukan kepalanya, ia pun mengambil nafas sejenak. "Kawan kawan, terkait masalah tadi malam.. jangan dijadikan masalah ya!! kasihan Ryan.."
"Iya Dit.." jawab Senja, Ratu, Mentari, dan Indira.
Demi cepatnya mereka bertemu dengan jasad Brenda, akhirnya mereka semua pulang menggunakan helikopter milik Hamisi Group dengan biaya yang sama seperti bus saat pulang.
Anak anak lain menjawab, "Iyaa..,"
Sisi Rachel, jam 03.50
Rachel terbangun dari tidurnya, ia melihat garis di alat komputer mulai menunjukan garis lurus. ia pun segera memanggil dokter untuk mengecek kondisi Brenda.
"Brenda?? dok..dok.." panggil Rachel.
Dr Strange pun datang, lalu beliau mengecek Brenda dengan alat pacu jantung. sedangkan Rachel menunggu diluar.
"Bagaimana dok??" tanya Suster Odah.
Dr Strange menjawab, "Pasien tidak terselamatkan, lepaskan semua alat bantu yang terpasang."
"Baik.." balas Suster Odah.
Dr Strange pun keluar ruangan dengan wajah lesu, lalu beliau menyampaikan hal itu kepada Rachel.
"Bagaimana dok??" tanya Rachel.
Dr Strange menjawab, "Dengan amat menyesal, kami menyampaikan bahwa pasien atas nama Brenda Putri Hapsari sudah dinyatakan meninggal dunia karena penyakit lambung bocor yang sudah terlalu parah."
"Innalillahi Wa Inna lilaihi roji'un, Brenda... aduh bagaimana ya bicara sama Radit dan Ryan??" tanya Rachel yang kebingungan.
Setelah semuanya bersiap siap diatas loteng, helikopter itu tiba. mereka pun naik keatas helikpter itu, "Kakek, Dito.. Ryan ke kota lagi ya!!"
"Iya, yang sabar ya Ryan.." ucap pak Daryono dan mas Dito.
Radit menutup pintu helikopter itu, lalu mereka akhirnya mulai berangkat kembali ke kota untuk melayat atas kematian Brenda.
"Dit, melihat Ryan yang didampingi sama Dea. vibes adik kakaknya sangat terasa ya?? apa jangan jangan mereka adik kakak sungguhan lagi??" tanya Senja.
Radit menjawab, "Saya rasa sih seperti itu, memang Ryan sendiri punya masalah mental dimana dia jika terkena dua problematika sekaligus dia akan mengurung diri di kamar dan menyalahkan dirinya sendiri. makanya saya meminta agar jangan ada yang mengeluh, apalagi menyalahkan Ryan."
"Baik Dit.." jawab Senja.
************
...Yuk Like, Vote, Komen dan mampir.....