
Jam setengah sembilan malam
Senja sedang belajar di depan rumahnya, tak lama sebuah objek berkelap kelip bergerak cepat dari timur ke barat. disertai dengan suara gaduh desitan mesin yang terdengar samar samar menghiasi malam hari yang cerah itu.
"Wihh pesawat apaan ya?? coba aku cek di aplikasi.." gumam Senja.
Senja membuka aplikasi penerbangan di ponselnya, ternyata benar maskapai dari Singapura sedang terbang menuju Australia dengan ketinggian 34.000 kaki.
"Tinggi juga ya rupanya?? pasti si Radit lagi spotting juga.." gumam Senja.
Ternyata benar juga, Radit dan kawan kawannya sedang spotting di rooftop villa milik ibunya Rachel. mereka melakukan itu sambil menikmati satu gelas kopi.
"Sudah jauh, gua zoom out ahh.." gumam Radit.
Senja kembali masuk ke dalam rumahnya, lalu ia duduk di meja belajar dan memandang sebuah foto pesawat Airbus A350-941 milik Hamisi Airlines yang pernah dikemudikan oleh Radit dua tahun lalu.
"Radit hebat juga ya!! orang umur segitu cuman bisa main sama teman temannya, nongkrong di cafe atau sejenisnya lah.. dia langsung menjadi pahlawan setelah mengemudikan pesawat dari atas langit Turki ke London menggantikan pilot yang sesak nafas.." gumam Senja.
Tak lama, Pak Yoga datang lalu ia memberitahu dirinya bahwa keluarga besar Pak Indra akan datang besok sore, untuk sekedar silaturahmi.
"Senja, besok kamu jangan pulang terlalu sore.. keluarga pak Indra akan datang besok.." pesan pak Yoga.
Senja membalikkan tubuhnya, "Mau apa sih?? jangan bilang kalau mau menjodohkan aku!!" ketus Senja sebal.
Pak Yoga menampar Senja,.
"Prakkkk!!!"
Pak Yoga melirik ke dinding, lalu berusaha mencopot poster pesawat penumpang yang menempel di dinding kamar anaknya itu.
"Pasti karena poster ini kan??" teriak pak Yoga.
Sambil mengelus pipinya yang panas karena tamparan itu, dan juga tetesan air mata yang keluar. Senja berusaha mencegah bapaknya merusak poster itu.
"Jangan pa.." teriak Senja.
Entah mengapa, tubuh pak Yoga mendadak terpental seolah poster itu menolak untuk dicopot.
"Braakkk!!!" pak Yoga jatuh membentur dinding, lalu Senja berjalan mendekati bapaknya itu dengan tatapan mata yang putih tanpa bola mata.
Senja tersenyum, "Cepat atau lambat, kamu akan menerima akibatnya jika berani merusak masa depan anak ini.."
"Kamu siapa??" tanya Pak Yoga.
Senja menjawab, "Jika kamu tetap memaksa masuk kesini dan berbuat macam macam terhadap anak adopsimu ini... ingatlah, keluarganya akan datang menjemput dan kehancuran menanti keluargamu."
Pak Yoga langsung bangkit, dan pergi dari kamar Senja. ia bersumpah tidak mau menganggu Senja lagi.
"Aku kenapa tadi??" tanya Senja yang menoleh untuk memastikan poster itu tetap berada di tempatnya.
Senja langsung ke tempat tidurnya dan memejamkan matanya, semoga tidak ada sesuatu yang akan terjadi.
Jam menunjukan pukul lima lewat enam menit, usai shalat subuh bersama di villa itu. Radit bersama kawan kawannya langsung pergi berangkat sekolah, karena jalanan akan padat jika sudah masuk setengah tujuh pagi.
Dengan memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, Radit dan anak anak lainnya menyelinap diantara kendaraan yang terjebak macet.
"Akhirnya sampai juga," gumam Radit yang melepas helm miliknya.
Ryan menjawab, "Iya, lumayan juga tuh si Andra sama Agung makan asap..
"Ah elu tinggalin gua anj*r..," gumam Andra.
Radit dan Ryan berjalan menuju kelasnya, tak lama Brenda datang lalu kembali meminta maaf soal kejadian pada hari itu.
"Ryan, aku mau bicara sama kamu.. sebentar aja!!" pinta Brenda.
Ryan menjawab, "Silakan.."
"Yan, sekali lagi aku mau minta maaf.." ucap Brenda dengan nada sendu.
Ryan tersenyum, "Mau sampai kapan kamu mau minta maaf melulu Brenda?? kan jelas jelas saya sudah maafkan kamu.. dan juga saya yang seharusnya meminta maaf.. karena saya acara bahagia kamu menjadi kacau.."
Brenda mengusap air matanya, "Yaudah, kalau begitu terimakasih udah maafin aku.. nih ada sesuatu buat kamu.."
"Apa apaan ini?? saya tulus dan ikhlas maafin kamu enggak usah kasih kayak beginian!!" tegas Ryan menolak.
Brenda memanyunkan bibirnya, "Terima aja, soalnya sebulan atau dua bulan ke depan takutnya aku enggak bisa ketemu kamu lagi.."
"Hah??" raut wajah Ryan dan Radit berubah setelah mendengar perkataan Brenda, Radit pun memberikan kode untuk menerima pemberian Brenda.
"Tidak apa apa nih??" tanya Ryan.
Radit mengangguk, "Yaudah, ayo ke kelas sekarang.."
"Iya, terimakasih ya Brenda..." ucap Ryan yang berjalan ke kelas bersama Radit.
"Semoga kamu bahagia ya Ryan.." ucap Brenda.
*********
Yuk Like, Vote dan Koment..