
Jam setengah dua siang
Rintik hujan turun dengan derasnya, Daniel dan Agung segera menepi untuk berteduh. tak lama, Anan pun menepikan mobilnya hanya untuk berteduh.
"Ayo turun Anan!!!" seru Anin.
Daniel dan Agung menatap si kembar itu sambil keheranan, "Lha?? kalian kan pake mobil.. ngapain ikut berteduh??" tanya Daniel.
Anan terdiam, "Iya juga ya!!"
"Tapi kayaknya berteduh dulu, kak Anan enggak akan bisa berkendara dengan hujan sederas ini.." gumam Anin.
Daniel mengangguk, "Oh begitu ya??"
Hujan pun semakin deras, Daniel dan Agung memilih duduk sambil menunggu hujan reda. sedangkan Anan menghubungi Radit karena kondisi hujan semakin deras.
"Dreettt!!!"
"Halo?? Dit, maaf aku kejebak hujan.. ini lagi berteduh dulu.." ucap Anandita.
Radit menjawab, "Lah bukannya pakai mobil??"
"Ehh gini ya pak ketua, aku enggak bisa bawa mobil dengan kondisi hujan sederas ini. kalau bisa kamu jemput lah, sama siapa kek gitu.." jawab Anan.
Radit menoleh ke Andra, "Motor lu dimana??"
"Oh iya, tadi udah dibawain sama relawan ke rumah lu.. gua nitip sebentar ya!!" jawab Andra.
Radit menjawab, "Oalah, yaudah kita susul si Anan pakai payung.."
"Masalahnya, payungnya dimana??" tanya Andra.
Radit membuka tas miliknya, lalu ia mengeluarkan dua buah payung untuk mereka gunakan.
"Lha?? itu tas apa kantong doraemon?? apa aja bisa ada disitu??" tanya Andra.
Radit membalas, "Sudah pakai saja, kita susul si Anan."
"Oke.." jawab Andra.
Senja masuk ke ruangan tempat Brenda dirawat, lalu ia menemui Dea untuk memastikan sudah sampai mana perkembangan Brenda.
"Assalamualaikum, hai Brenda..Dea.." sapa Senja.
Dea menjawab, "Waalaikumsallam, hai Senja.. kamu disini mau menggantikan aku jagain Brenda??"
"Iya, kamu kalau mau pulang, silakan.." jawab Senja.
Dea membalas, "Yaudah, Brenda.. aku pulang dulu ya!!"
"Iya.." jawab Brenda.
"Siapa itu??" tanya Dea.
Ryan datang dengan menggunakan kupluk putih, kaos silver dan celana tactical berwarna crame menghampiri Dea sambil membawa payung.
"Hai Dea.." sapa Ryan.
Dea menjawab, "Hai juga, kamu tumben kesini??"
"Biasalah, mau ketemu pak bos si Radit.. ada keperluan yang tidak mungkin dibahas lewat whatsapp.." jawab Ryan.
Dea mengangguk, "Ohh begitu.. yaudah aku duluan ya!!"
Ryan memegang tangan Dea, "Sini, ikut dulu ketemu si Radit."
Dea menelan ludahnya, "Yaudah iya ayo.."
Ryan berjalan menemui Radit yang sedang bersama Andra, untuk mengabarkan bahwa kawan satu tongkrongan sejak SMP sudah tiada.
"Assalamualaikum Dit,.." ucap Ryan.
Radit menjawab, "Waalaikumsallam, ada apa Ryan?? katanya kaki lu kumat lagi??"
"Lu tau si Andriawan enggak?? salah satu anak kelasan kita saat SMP sudah tiada. baru saja dikebumikan dua jam yang lalu." balas Ryan.
Radit mengeluarkan uang seratus ribu, "Nih lu nanti beli amplop, tulis atas nama kita berdua.. lu yang pergi kesana. saya ada urusan lain.."
"Oke siap, kalau begitu saya sama Dea pamit." ucap Ryan.
Radit membalas, "Jangan aneh aneh ya!!"
"Iyaaaa..," balas Ryan.
Hujan sudah reda, Anan dan Anin kembali masuk ke dalam mobil.
"Dreettt!!"
"Halo?? apa Anin??" tanya Radit.
Anin menjawab, "Ini hujannya sudah reda, aku sama kak Anan akan kesana. tapi aku mau pulang dulu, ada keperluan soalnya.."
"Baik, saya tunggu.." jawab Radit.
******
Yuk, Like, Vote, Komen...