
"Brem!!!"
suara laju mobil yang keluar dari rumah mantan suami Bu Sri.
"Kita ikuti mereka." pinta Bastian.
"oke." jawab Toni.
beberapa saat kemudian Bastian meminta tim delapan untuk berkumpul di titik yang sudah di tentukan.
Bastian dan Toni telah merancang semua rencana yang akan mereka lakukan saat pengejaran.
Bastian sangat pandai membuat strategi penyerangan. Saat para pasukannya telah berkumpul, pria itu dengan cekatan memberikan aba-aba kepada para pasukannya. Mereka menyerang dari sebuah tempat yang berbeda dan setiap tim berjumlah 3 orang.
Hari ini Bastian harus menuntaskan semua misinya, tidak peduli apa yang akan terjadi namun Bastian yakin kalau suami dari Bu Sri adalah orang yang berbahaya. pria itu mampu melakukan apapun dan pria itu mampu berbuat apapun.
"Kita harus menangkap pria itu secepatnya, Bastian. Jika benar atasan kita juga memiliki andil dalam permasalahan ini kita harus membuat pria itu mendapatkan hukuman." ucap Toni.
"Tentu saja Toni, kita akan memberikan mereka hukuman. enak sekali mereka mempermainkan kita, kita ini bukan barang permainan mereka harus menerima konsekuensi atas semua yang mereka lakukan." jawab Bastian yang kemudian memberikan perintah kepada timnya.
Dengan segera tim Bastian langsung melakukan semua yang diperintahkan oleh Bastian, setelah pengejaran hampir 2 jam lamanya akhirnya Bastian dan Toni mendapatkan letak di mana keberadaan dari suami Bu Sri. pria itu harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah dia perbuat.
"Kita langsung masuk Bastian, kita tidak perlu menunggu waktu lama lagi." ucap Toni yang kemudian langsung melajukan mobilnya hingga menabrak pagar yang sudah tertutup tersebut.
Mantan suami Bu Sri nampak melihat dua orang yang sudah berada di tempatnya, tatapan mata mereka menatap keberadaan orang-orang yang tiba-tiba muncul di tempatnya.
"Siapa Kalian?!" teriak mantan suami Bu Sri.
"Kami kemari karena kami harus segera menangkap kalian." jawab Bastian.
Setelah mendengar jawaban dari Bastian dan Tony seketika mantan suami Bu Sri meminta anak buahnya untuk menghadang Bastian atau tidak membunuh pria itu. "Habisi Mereka, jangan sampai mereka bisa menangkapku!!" teriak mantan suami bu Sri.
"Kalian ingin membunuh maka lihat saja apa yang akan terjadi.* jawab Toni yang kemudian menembak satu persatu anak buah mantan suami Bu Sri.
DOR..
DOR..
DOR...
Suara tembakan terdengar, Hal itu membuat mantan suami Bu Sri benar-benar sangat ketakutan bahkan pria itu langsung terduduk lemas tidak berdaya.
"Menyerahlah atau kami akan membunuhmu!!" seru Bastian yang membuat mantan suami Bu Sri benar-benar tidak berdaya. pria itu nampak menatap Bastian dengan tatapan mata yang begitu benci.
"Kita introgasi pria ini untuk mendapatkan jawaban yang kita butuhkan." ucap Toni.
"Tentu saja, kita akan membawanya Dan mengintrogasi Dia." jawab Bastian yang kemudian meminta beberapa anak buahnya untuk membawa mantan suami Bu Sri ke pusat.
Bastian dan Toni benar-benar ingin tahu Apakah benar kalau atasan mereka itu berkhianat ataukah itu hanya prasangka mereka. dengan tertangkapnya mantan suami Bu Sri itu berarti komplotannya pun ikut keluar semuanya, waktu sedikit berjalan namun perlahan satu persatu musuh-musuh Bastian sudah tertangkap dan dipenjara. ternyata orang yang sudah memesan dan meneror dara, adalah mantan suami Bu Sri.
Setelah kejadian itu kehidupan Dara dan Bastian mulai berasur membaik.
kehidupan Dara juga berangsur membaik dengan semua cerita cintanya. Bu Sri terus berusaha untuk mendapatkan Maaf dari Dara, tidak peduli bagaimanapun dia ingin mempunyai kehidupan di masa tuanya. tidak apa jika Dara menganggapnya sebagai pembantu asalkan dia bisa bertaubat atas semua yang sudah terjadi.
Beberapa bulan kemudian hari kelahiran sudah datang, Bastian dan Pak Rusdi benar-benar begitu kebingungan. kedua pria itu seperti layang-layang yang tertiup angin. mereka berada di rumah sakit untuk menunggu kelahiran bayi Dara.
"Kok lama banget ya?" tanya Bastian.
"Kurang tahu, Bastian." jawab Pak Rusdi.
"Kurang tahu, Bastian." jawab Pak Rusdi.
"Mas ini lebih dari 2 jam loh." ucap Bastian kembali.
"Tenang saja, Bastian." jawab Pak Rusdi.
"Kok dari tadi jawabannya begitu terus ya, Mas. Mas itu tidak khawatir apa dengan Dara?" tanya Bastian dengan raut wajah yang benar-benar sangat kesal.
"Memangnya kamu mau apa, Bastian? kalau kamu kebingungan Kenapa tadi tidak ikut masuk? seharusnya tadi kamu ikut menemani istrimu melahirkan, kalau seperti ini kamu seperti layang-layang putus daripada tadi mondar-mandir membuatku pusing lagi." jawab Pak Rusdi yang membuat Bastian mendumel tidak karuan. padahal di dalam hati Pak Rusdi sendiri juga benar-benar kebingungan dengan semua yang terjadi.
"Mas." Panggil Bastian kembali.
"Ada apa lagi?" tanya Pak Rusdi.
"Kok lama banget ya?" tanya Bastian kembali.
"Sudahlah, Bastian. kalau kamu terus bertanya tanpa henti nanti mas akan carikan kamu lakban. Aku mau menutup mulutmu itu biar tidak bertanya terus." jawab Pak Rusdi yang membuat Bastian sedikit terdiam kemudian bertanya terus-menerus.
Bu Sri yang juga berada di rumah sakit nampak wanita itu mencoba untuk menenangkan dirinya, terkadang dia tertawa geli melihat Pak Rusdi dan Bastian bertengkar tanpa ada hentinya.
"Duduklah yang tenang, Bastian. orang melahirkan itu memang lama, jika kamu terus melakukan hal itu nanti Dara juga akan merasakan hal itu. Tenanglah coba duduk di sini." pinta Bu Sri yang sembari menepuk kursi panjang yang dia duduki.
"Bagaimana aku bisa tenang, Istriku itu melahirkan Bu." ucap Bastian.
"Ibu juga dulu melahirkan istrimu tapi cobalah tenang sedikit, kalau kamu seperti itu terus malah membuat kepala ibu pusing." jawab Bu Sri.
Bastian tidak mau menghiraukan perkataan mertuanya tersebut, dia mondar-mandir tidak karuan sembari berdoa sebanyak mungkin untuk sang istri. sekitar satu jam kemudian akhirnya suara bayi terdengar.
OEKKK..
OEKKK...
suara tangis bayi terdengar begitu keras dari ruang bersalin. Bastian dan Pak Rusdi yang Mendengar hal itu seketika kedua pria itu langsung berdiri untuk melihat Bagaimana kondisi bayi Dara. bahkan Bagaimana kondisi dari ibu yang melahirkan tersebut sudah lahir.
"Mas!!" teriak Bastian.
"Sudah dengar, Bastian." jawab Pak Rusdi yang mencoba untuk menenangkan hatinya.
Sekitar beberapa menit kemudian salah satu perawat meminta Bastian untuk mengumandangkan adzan di telinga bayi kecil yang barusan lahir tersebut. suara adzan berkumandang begitu indah, seorang gadis kecil berkulit bersih dengan bola mata yang berwarna kebiruan. gadis cantik berambut gelombang seperti gelombang Kehidupan yang sudah mengantarkannya pada jalan hidup yang baru.
Setelah beberapa menit kemudian Dara keluar dari ruang bersalin, terlihat wanita itu memejamkan matanya setelah 3 jam berusaha untuk mempertahankan bayi manis tersebut. kehidupan benar-benar berjalan dengan sangat luar biasa, Bu Sri mendapatkan Maaf dari Dara bahkan Pak Rusdi meminta wanita itu untuk menikah lagi dengannya Cinta. memang tidak ada batasnya kehidupan, memang tidak ada yang tahu kemana akhirnya Bastian dan Dara mempunyai gadis kecil yang sangat luar biasa. seorang gadis kecil yang akan menjadi kelanjutan cerita cinta mereka, gadis kecil yang bernama Melodi Cinta.
** TAMAT **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian
- Terlempar ke dimensi kerajaan