
"Katakan ada apa Dara, Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Bastian.
Dara masih belum mengeluarkan sepatah kata pun, Gadis itu terlihat masih menangis. sakit yang ada di hatinya benar-benar belum hilang sepenuhnya.
"Minumlah dulu, Paman sudah mengambilkanmu air." ucap Bastian.
"Hiks..,hiks..," Dara masih menangis.
Bastian tidak ingin lagi menanyakan sesuatu kepada Dara, pria itu terlihat begitu sesak saat hatinya benar-benar begitu terluka. Bastian melihat Dara menangis di pelukannya, Bastian memeluk Dara begitu erat, mengelus rambutnya bahkan menenangkan gadis itu.
"Tenanglah, luangkan hatimu dan jangan biarkan semua masalah itu membuatmu seperti ini." ucap Bastian yang kemudian menggendong Dara dan meletakkan gadis itu di sofa ruang tengah.
Dara memejamkan matanya, terlihat gadis itu merasakan sesak di dadanya. "Jangan pergi, om." pinta Dara.
"Tenanglah, om Bastian tidak akan pergi lagi." jawab Bastian yang terus memegang tangan Dara. tatapan mata Bastian terus menatap Dara yang sedang memejamkan matanya.
"Om," panggil Dara
"Ada apa?" tanya Bastian.
Sesaat kemudian Dara duduk, gadis muda itu sedang terdiam.
"Kemarilah." ucap Bastian yang kemudian menarik Dara dan memeluk gadis itu sambil duduk di sofa. "Ada apa, kenapa kamu seperti ini?" tanya Dara sambil memeluk Dara.
* Anggap aja visual Bastian dan Dara lagi posisi duduk gitu 😁😁
"Heh...," dara menghembuskan nafasnya.
"Ada apa?" tanya Bastian.
"Tadi aku melihat wanita itu..," ucap Dara.
"Siapa?" tanya Bastian.
"Wanita yang sudah menelantarkan aku." jawab Dara.
"Kenapa kamu harus memikirkan hal itu?" tanya Bastian.
"Aku sangat sakit, om. aku benar-benar terluka dengan semua yang dilakukan oleh wanita itu." jawab Dara.
"Sudahlah, kamu tidak usah memikirkan mengenai apapun. kamu tidak boleh terlalu terpuruk dalam masalah masa lalumu, Kamu harus menjadi wanita kuat, katanya kamu ingin membuat bapakmu bahagia?" tanya Bastian yang membuat Dara tersenyum.
Terlihat Dara memeluk Bastian seolah gadis muda itu menganggap Bastian sebagai ayahnya sendiri, entah bagaimana jika darah tahu kalau Bastian memiliki perasaan kepada dirinya, mungkin akan terjadi perang dunia 2 atau mungkin Dara akan menerimanya.
"Oh ya Om, katanya om tadi keluar? Memangnya om mau ke mana?" tanya Dara kepada Bastian.
"Sebenarnya Om ada tugas dari kampus untuk pergi bersama dengan para dosen ke Jogja." jawab Bastian.
"Lalu, kok Om kembali lagi?" tanya Dara yang membuat Bastian tersenyum kemudian memukul dahi Dara.
"Tadi ada yang telepon sambil menangis dan kebingungan gitu, Karena Om khawatir jadi Om balik lagi deh..," jawab Bastian yang membuat Dara tersenyum sembari menutup mulutnya.
"Jadi ini gara-gara Dara dong." ucap Dara.
"Ya ngak gitu juga, lagi pula sebenarnya Om enggak terlalu suka sih pergi ke tempat seperti itu." jawab Bastian yang kemudian meminta Dara untuk menyiapkan dia makanan.
"Memangnya pagi tadi Om belum makan?" tanya Dara kepada Bastian.
"Belum, Karena Om tadi bangunnya agak telat jadi Om belum makan." jawab Bastian.
"Kalau gitu mau Dara buatkan apa?" tanya Dara pada Bastian.
"Bisa masakin nasi goreng rendang seperti kemarin, nggak?" tanya Bastian.
"Boleh." jawab Dara.
Akhirnya pagi itu Dara dan Bastian masak bersama, Om nggak mau ke cafe? udah lama loh Om nggak ke sana." ucap Dara.
"Iya sih, Om memang jarang ke sana. kalau gitu kamu berangkat sama om ke cafe ya." minta Bastian.
"Siap Om." jawab Dara yang kemudian mempersiapkan nasi goreng yang tadi dia buat.
Pagi itu Dara sudah berpakaian sederhana seperti biasanya, Bastian yang melihat Dara tidak pernah berpakaian yang sangat aneh Hal itu membuat Bastian selalu menyukai Dara apa adanya.
"Pak Bastian!" seru para pegawai wanita yang sudah lama tidak melihat Bastian.
"Pagi." ucap Bastian.
Sekitar 20 pegawai yang ada di cafe nampak menatap Bastian yang memang selalu terlihat tampan dan benar-benar membuat para pekerja wanita selalu nyaman.
"Bagaimana, apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Dara kepada para pegawai.
"Tentu saja Pak Bastian, semuanya baik-baik saja." jawab para pegawai.
Dara selalu tersenyum saat melihat ekspresi wajah dari para pegawai wanita saat melihat Bastian ke cafe.
"Aku mau masuk dulu, Dara. nanti kalau ada apa-apa kamu cari Om di kantor." ucap Bastian.
"Siap Om." jawab Dara.
Rumor mengenai hubungan terlarang yang disebarkan oleh salah satu karyawan cafe sudah terkikis karena Dara mengatakan Bastian adalah adik dari ayahnya.
"Dara!" seru Nita.
"Ada apa sih Mbak Nita." jawab Dara.
"Nanti kamu tolong bereskan pembukuan dari cafe ya, nanti aku akan serahkan laporannya sama Pak Bastian." ucap Nita yang terlihat berusaha untuk mencari perhatian kepada Bastian.
"Kenapa nggak dikerjakan sendiri, kenapa harus minta tolong sama aku?" tanya Dara yang membuat Nita sangat kesal.
"Kamu itu kan di sini digaji, sekarang kamu mau enak-enakan?!" seru Nita.
"Ya Mbak Nita itu yang enak-enakan, itu kan pekerjaan Mbak Nita kenapa harus aku yang mengerjakannya. Ya aku jelas tidak mau dong." ucap Dara yang kemudian meninggalkan Nita.
"Dasar kurang ajar, Kalau dia bukan keponakan dari Pak Bastian pasti aku akan memecatnya sekarang juga." Nita yang benar-benar sangat kesal karena darah tidak mau mengerjakan laporan keuangan cafe.
Sekitar satu jam kemudian begitu banyak pengunjung kafe yang sudah mulai berdatangan, Dara terlihat melayani beberapa pembeli yang ada di luar cafe. Dara yang memang wajahnya begitu imut dengan tinggi badan yang hanya 160 cm membuat beberapa pria selalu menatap Dara seperti boneka porselen yang begitu indah.
"Wanita itu benar-benar cantik ya." ucap seorang pria.
"Iya, aku benar-benar menyukainya. setiap kali aku datang ke sini aku ingin sekali memilikinya." ucap pria yang lain.
"Apa dia belum punya pacar?" tanya Pria A.
"Belum, Katanya dia masih sendiri." jawab pria B.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita goda dia." ucap pria A.
"Aku ingin sekali menjadi pacarnya." jawab pria B.
"Ketika Dara mengantarkan makanan ke meja 2 pria tersebut, tatapan mata dua pria tersebut menatap Dara dengan tatapan mata yang begitu nakal. salah satu tangan pria itu nampak langsung menyentuh pantat Dara hingga membuat darah langsung menoleh.
"Bisakah kalian bersikap sopan?!" seru Dara.
"Maaf tadi tanganku tidak sengaja." jawab pria A.
Sesaat kemudian saat Dara meletakkan satu piring kembali si pria langsung memukul pantat Dara lagi, Hal itu membuat Dara langsung menoleh dengan dua bola matanya yang melotot.
"Apakah kamu tidak punya sopan santun sama sekali?!" seru Dara yang mulai marah.
Si pria nampak tersenyum kepada Dara seolah mengatakan kalau itu biasa terjadi.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian