
Setelah apa yang terjadi akhirnya suami Bu Sri membawa Bu Sri pergi dari tempat itu, pria itu berjanji tidak akan mengganggu Dara kembali, terlihat Dara juga memberikan sebuah kata-kata bijaksana kepada ayah tirinya tersebut.
"Jika kita berdoa dengan tulus meminta dengan tulus pasti Tuhan akan memberikan kita jalan keluar, tuan. dulu aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan seorang ayah yang mau menerimaku apa adanya, mau memberikan aku kasih sayang mau bersamaku hingga nyawa kami sudah di akhir hidup kami. Tuhan benar-benar memberikan aku kesempatan memiliki seorang ayah yang sangat luar biasa, seorang pria yang sudah dicampakkan oleh ibuku seorang pria yang mengizinkan diriku untuk memanggilnya dengan panggilan bapak. seorang pria hebat seorang pria yang sudah membesarkanku hampir 10 tahun." ucap Dara sambil menatap Pak Rusdi. terlihat pria itu meneteskan air matanya Pak Rusdi benar-benar sangat berterima kasih karena Allah masih memberikan dia panjang umur untuk melihat Dara mempunyai keluarga.
"Maafkan aku jika aku telah menyakitimu, Aku benar-benar tidak tahu rasa sakit yang telah kau lalui. Maafkan Aku." ucap suami Bu Sri yang kemudian meminta izin untuk pergi.
Setelah suami Bu Sri pergi terlihat Bu Sri sendiri mengejar suaminya itu, dia tidak ingin ketakutan yang selama ini menghantuinya benar-benar terjadi. "Mas, Mas!!" teriak Bu Sri yang berlari mengejar suaminya.
"Bastian terlihat memeluk Dara, menenangkan gadis itu sembari memberikan kecupan di pucuk kepalanya.
"Sudah sudah ini sudah malam ayo bubar." ucap Pak Rusdi yang terlihat meminta Bastian untuk segera pergi.
"Mas aku ingin bicara sebentar." ucap Bastian.
"Bicara apa lagi, Bastian?" tanya Pak Rusdi.
"Duduklah Mas, aku ingin bicara." jawab Bastian.
"Iya ada apa, bukankah tadi kalian habis ke pesta?" tanya Pak Rusdi.
"Mas, aku mau bicara serius sama Mas Rusdi." ucap Bastian.
"Ada apa lagi sih Bastian, kok kayaknya serius banget?" tanya Pak Rusdi.
"Mas, Jika aku meminta untuk bersama dengan Dara atau Aku meminta Dara bersamaku selamanya.., Apakah Mas Rusdi mengijinkanku?" tanya Bastian.
Pak Rusdi yang mendengar perkataan Bastian seketika pria itu menatap mantan adik iparnya tersebut. "Maksudmu?" tanya Pak Rusdi.
"Aku tidak ingin menganggap Dara sebagai seorang keponakan, Aku ingin menganggap Dara sebagai seorang wanita." jawab Bastian dengan tegas.
Pak Rusdi yang Mendengar hal itu tentu saja wanita pria itu tidak akan terkejut karena dia sudah tahu. "Memangnya kamu sudah tanya sama yang punya jawaban? kalau mas sih terserah yang ngelakuin, yang menjalani hidup kan Dara sendiri." jawab Pak Rusdi dengan begitu santai.
Dara yang mendengar jawaban dari bapaknya itu seketika Dia mendekati pria tua tersebut. "Apa Bapak sudah tahu kalau Om Bastian menyukaiku?" tanya Dara yang membuat Pak Rusdi sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan Dara.
"Pak, Bapak sudah tahu?" tanya Dara kembali.
"Ya nggak tahu sih, Dara. tapi kalau dilihat dari semua kelakuan Bastian bapak bisa menebak kalau Bastian itu tidak sedang menganggapmu sebagai seorang keponakan, tapi Bapak yakin kalau Bastian itu menyukaimu. Dia memiliki rasa untukmu." jawab Pak Rusdi yang membuat Dara sedikit terkejut.
"Kenapa Bapak tidak bilang sama aku?" tanya Dara.
"Oh ya Bastian, Besok kan kamu harus ke kampus sedangkan Mas besok harus ke tempat arsitek Mas untuk membicarakan pembangunan. Ya sudah kamu tidur aja, mas Rusdi juga mau tidur." ucap Pak Rusdi yang kemudian langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya. Pak Rusdi tidak ingin mendapatkan omelan dari Dara, sedangkan Bastian terlihat pria itu menatap Dara dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Udah denger sendiri kan Om, sana pergi aku juga mau tidur Besok aku kuliah masuk pagi." ucap Dara yang kemudian mengusir Bastian.
"Lalu, jawabanmu apa Dara?" tanya Bastian.
"Udah malam om, nggak baik ke rumah wanita malam-malam." usir Dara yang membuat Bastian malah tersenyum malu.
"Apaan sih Om senyum-senyum terus, sana pergi." usir Dara.
Terlihat jantung Dara benar-benar berdebar begitu kencang, gadis itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dara memegang dadanya. Entahlah Dara benar-benar merasakan sesuatu yang begitu berbeda, biasanya Dara bersikap manja luar biasa kepada Bastian namun sekarang wanita itu harus memikirkannya kembali.
DEG..
DEG..
"Ini jantung Kenapa sih kok berdebar terus." ucap Dara yang kemudian menutup pintu rumahnya. terlihat Dara mengintip Bastian yang sudah keluar dari pagar rumahnya. Entah mengapa Dara terlihat tersenyum sendiri dengan semua yang dia lakukan, malam ini Dara akan bermimpi begitu luar biasa, sedangkan Bastian sendiri tentu saja pria itu sedang senyum-senyum sendiri dengan semua pernyataannya di pesta kampus hari ini.
Mungkin mereka berdua sedang merasakan api asmara, di tempat lain Sarah benar-benar sangat marah dengan semua pernyataan yang diucapkan oleh Bastian. "Bodoh bodoh, Kenapa semua ini harus terjadi. Bagaimana bisa Bastian mengatakan hal itu di depan begitu banyak orang." ucap Sarah.
Terlihat Sarah benar-benar tidak bisa menerima semua kenyataan hari ini, wanita itu memukul dan membanting barang-barang yang ada di kamarnya. aku tidak terima aku tidak terima jika Bastian mencintai Wanita itu. aku akan melakukan sesuatu agar mereka tidak bisa bersama." ucap Sarah.
Memang rumor selalu mengatakan kalau Sarah dan Bastian mempunyai hubungan, tapi ketika Bastian sudah mengatakan semuanya pria itu malah mengatakan perasaannya kepada Dara. rumor mengenai kisah cinta dosen dan murid itu sudah menyebar di sekitar kampus, terlihat mereka selalu menatap Dara dengan pandangan yang begitu menjijikkan.
"Ternyata Dara sama Pak Bastian itu tidak ada hubungan darah sama sekali, lalu Mengapa wanita itu memanggil pak Bastian, om?" tanya salah satu mahasiswi.
"Kalian tidak tahu ya, Karena kakak dari Pak Bastian itu menikah dengan pria yang menjadi Bapak Dara." jawab Della. wanita itu mulutnya memang benar-benar sangat ember, dia tidak pernah capek dengan semua kata-kata yang diucapkan.
"Lihat saja, aku pasti akan membuat pelajaran sama wanita itu." ucap Della.
Dara yang sedang berjalan itu nampak dia menghentikan langkahnya, Dara menatap Della dengan tatapan mata yang seolah mengatakan Kamu adalah wanita brengsek.
"Ada apa kamu menatapku?" tanya Della.
"Siapa bilang aku menatapmu, aku tidak sedang menatapmu. aku melihat tembok itu loh." jawab Dara sambil menunjuk pagar tembok yang ada di kampus.
"Kamu kira aku ini tembok apa!" seru Della.
"Ya nggak tahu sih, dari tadi aku lihat tembok kamu bilang aku lihat kamu. pede banget sih!" jawab Dara yang membuat Della langsung memegang dadanya sambil melongo.
"Dasar wanita tidak tahu diri!!" seru Della.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian