I LOVE YOU UNCLE BASTIAN

I LOVE YOU UNCLE BASTIAN
Pria misterius



"Siapa pria itu?" tanya Bastian.


"Aku tidak tahu Bastian, tapi kelihatannya dia pria asing." jawab Bu Sri.


"Aku harus mencari keberadaan suamimu, dahulu." ucap Bastian yang kemudian pergi dari rumah pak Rusdi.


Seharusnya Bastian marah kepada Bu Sri, namun Bastian dapat melihat kata-kata yang diucapkan oleh Bu Sri itu adalah sebuah kebenaran. "Aku harus mencari tahu mengenai kata-kata yang diucapkan oleh wanita itu, aku harus mencari tahu apakah itu benar atau dia hanya berdusta saja. jika sampai dia berani membohongiku maka akan kubuat wanita itu merasakan akibatnya. aku tidak peduli Jika dia adalah orang tua kandung dari istriku." ucap Bastian yang kemudian menelepon Toni untuk meminta pria itu mencari tahu mengenai beberapa bukti yang dikatakan oleh Bu Sri. jika benar apa yang dikatakan oleh Bu Sri maka Bastian harus secepat mungkin untuk mencari keberadaan dari suami Bu Sri.


"Apa mungkin jika pria itu mempunyai hubungan dengan salah satu musuhku, Jika benar maka aku harus segera melakukan sesuatu." ucap Bastian.


Setelah dari rumah Pak Rusdi terlihat Bastian kembali ke rumahnya, terlihat pria itu memasuki kamarnya dan menatap sang istri yang masih tertidur pulas. Bastian membelai rambut Dara, memberikan kecupan di keningnya kemudian memeluk erat istrinya.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu dan bayi kita." ucap Bastian yang kemudian ikut terlelap di samping sang istri.


Beberapa hari setelah kedatangan Bu Sri, terlihat Dara harus menjaga dirinya, dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada bayi yang ada di kandungannya.


"Mas, siapa dua pria itu?" tanya Dara.


"Mulai sekarang mereka akan tinggal di tempat bapakmu, mereka akan bertugas dengan mas untuk beberapa kasus." jawab Bastian.


"Memangnya kasus apa Mas?" tanya Dara.


"Nanti akan Mas beritahu, Kamu jangan terlalu memikirkan apapun ya. mas tidak suka jika kamu terlalu memikirkan masalah apapun." ucap Bastian.


Terlihat Dara tersenyum, sesaat kemudian Dara melihat Bu Sri yang sedang menyapu pekarangan rumah tempatnya dulu bersama dengan Pak Rusdi. Entah berapa puluh tahun tapi kekecewaan yang dirasakan oleh Dara masih begitu melekat, wanita itu masih belum bisa memberikan maaf kepada Bu Sri atas semua yang dia lakukan dahulu.


"Apa yang sedang kamu lihat, sayang?" tanya Bastian kepada sang istri.


"Tidak ada, Mas." jawab Dara yang kemudian masuk ke dalam rumahnya.


Bu Sri yang melihat Dara nampak Dia hanya bisa tersenyum kecut dengan semua perlakuan Dara, salah kan saja dirinya sendiri yang selalu memperlakukan Dara tidak selayaknya ibu dan anak.


BRERTTTTT...


BRETTTT...


suara ponsel Dara berbunyi wanita itu sedang membaca beberapa majalah di ruang tamu, tatapan mata Dara menatap ponsel yang ada di sampingnya. "Mbak Tri." ucap Dara yang kemudian mengambil ponselnya dan menjawab panggilan telepon dari mbak Tri.


"Iya, ada apa mbak Tri?" tanya Dara.


"Hari ini kamu ada waktu, tidak?" tanya mbak Tri.


"Iya Memangnya ada apa ya, Mbak." tanya Dara balik.


"Bisa kirimkan beberapa contoh gambar untuk desain pakaian ibu hamil, tidak?" tanya Mbak Tri.


"Desain pakaian ibu hamil? Memangnya ada pesanan pakaian hamil mbak?" tanya Dara.


"Iya, ada pesanan dari seseorang yang mengatakan kalau dia ingin memesan beberapa pakaian hamil untuk istrinya." jawab Mbak Tri.


"Sebentar ya Mbak nanti akan aku kirimkan gambarnya, Aku sedang tidak mood, mbak tahu sendiri kan semenjak kehamilanku ini terkadang aku susah untuk melakukan sesuatu." ucap Dara.


"Ya sudah kalau begitu, kalau tidak nanti aku akan ke rumahmu ya." ucap Mbak Tri.


"Terserah mbak sajalah kalau begitu." jawab Dara yang kemudian mematikan ponselnya.


Sepiring kue dan sepiring buah-buahan yang sudah dipotong si mbok sudah berada di depan wajah Dara. "Banyak banget mbok?" tanya Dara.


"Tentu saja, biar kandunganmu itu semakin hebat luar biasa." jawab si Mbok


Sekitar satu jam kemudian Mbak Tri sudah berada di rumah Bastian, wanita itu tersenyum begitu manis sembari menatap perut Dara yang semakin membuncit. "Aku jadi pengen hamil lagi." ucap mbak Tri ketika berada di depan rumah Dara dan menatap Dara yang semakin hari semakin cantik, bahkan tubuh Dara semakin berisi.


Tujuan mbak Tri ke rumah Dara adalah tujuan pekerjaan, wanita itu akan meminta beberapa desain pakaian ibu hamil kepada Dara.


"Memangnya berapa ukuran badan dan tinggi orangnya, Mbak? berat badannya berapa gitu?" tanya Dara.


"Orangnya bilang sih suruh mengukur ibu hamil pada umumnya." jawab Mbak Tri.


"Lalu, kita akan mengukur Siapa Mbak?" tanya Dara kembali.


"Itu sih yang membuat Mbak bingung, kita harus mengukur Siapa? yang hamil kan cuma kamu saja, bagaimana kalau mbak mengukur dengan ukuran tubuhmu?" tanya mbak Tri.


"Lalu, kalau kurang tinggi Bagaimana? jadi kependekan dong pakaiannya." ucap Dara.


"Bagaimana lagi, Dara. orangnya minta begitu Kok." jawab Mbak Tri.


Akhirnya Dara mendesain beberapa pakaian seperti permintaan seorang pria misterius untuk istrinya, Dara dan Mbak Tri bekerja dengan begitu giat.


"Dara, makan dulu!" seru Pak Rusdi.


"Aku tidak ingin makan Pak, nanti aku akan cari makanan di luar kalau mas Bastian udah pulang." jawab Dara.


"Memangnya kamu ingin makan apa sih?" tanya pak Rusdi.


"Aku mau makan sayur asem sama pecel lele, Pak." jawab Dara.


Bu Sri yang mendengar dari luar rumah Bastian nampak wanita itu segera bergegas pulang untuk memberikan makanan yang tadi dia masak.


Sesaat kemudian Pak Rusdi mendapatkan telepon dari Bu Sri dan mengatakan kalau dia memasak seperti yang diinginkan oleh Dara, Pak Rusdi yang Mendengar hal itu seketika dia keluar ke rumahnya.


"Bapak mau ke mana?" tanya Dara.


"Mau membelikan kamu makanan yang kamu katakan tadi, Kalau menunggu Bastian kasihan bayimu itu." ucap pak Rusdi yang kemudian pergi.


Pak Rusdi harus menunggu sekitar 15 menit untuk kembali ke rumahnya agar Dara tidak curiga.


"Mas, jangan bilang kalau ini dari aku. nanti dia tidak mau makan." ucap Bu Sri.


"Iya Tenang saja, aku tidak bakal bilang kalau aku bilang sama dia nanti dia membuangnya." jawab Pak Rusdi.


"Terima kasih ya Mas." ucap Bu Sri yang terlihat tersenyum kepada Pak Rusdi.


"Terima kasih kembali ya karena kamu tidak sengaja memasak makanan ini." jawab Pak Rusdi sambil tersenyum.


Entah mengapa hati seorang ibu tiba-tiba tergerak, bu Sri begitu menginginkan sebuah kebahagiaan. selalu saja dengan diam-diam Bu Sri menatap Dara yang perutnya semakin hari semakin membesar, perasaan sebagai seorang ibu dan sebentar lagi menjadi seorang nenek terkadang membuat Bu Sri begitu mengharapkan pengakuan dari Dara.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Mawar hitam berduri


- I love you uncle Bastian


- Terlempar ke dimensi kerajaan