
Ketika Dirga sudah berada di depan wajah Dara, terlihat pria itu benar-benar sangat kebingungan. kata-katanya seketika menghilang jantungnya berdebar begitu kencang seperti dia sedang melakukan lari maraton.
Kalian itu lagi apa di sini? Kenapa kalian ada di kamarku?" tanya Dara.
"Tadi aku tidak sengaja ke sini saat mendengar salah satu perawat memanggil namamu." jawab Dirga.
Dara memang selalu kesal dengan pria yang suka menggodanya, namun pria yang ada di hadapannya ini sedikit mengesalkan terkadang pria itu selalu membuntutinya.
"Kalian berdua lagi ngapain di sini?" tanya Dara kembali. "Bosku sedang terluka. kata dokter dia harus disuntik." jawab Budi.
"Lalu, kalau dirawat kenapa kalian ke kamarku? Kalian kan seharusnya ruang perawatan." ucap Dara.
Sebenarnya Budi yang hendak mengatakan kalau Dirga takut pada jarum suntik Hal itu membuat Dirga langsung menutup mulut budi dengan sangat rapat.
"Kamu menginap di sini ya?" tanya Dirga.
"Iya, kata dokter Besok baru pulang." jawab Dara.
Pak Rusdi yang melihat perkataan pria yang ada di ruangan itu nampak pria itu tahu kalau pria yang sedang berbicara dengan putrinya itu memiliki perasaan kepada Dara.
"Budi, sekarang bilang sama perawat Aku mau dirawat di ruangan ini." ucap Dirga yang membuat Budi langsung kebingungan.
Tadi Dirga mengatakan kalau tidak mau disuntik atau apapun, tapi ketika sudah melihat Dara seketika pria itu mengatakan mau dirawat di sana. tentu saja Budi yang mendengar perkataan bosnya seketika pria itu meminta salah satu perawat untuk menyiapkan tempat jadi satu ruangan dengan Dara. melihat kesempatan yang begitu tepat Budi juga menggunakan kesempatan itu untuk meminta perawat menyuntik bosnya.
Budi terlihat mendekati Dara, meminta tolong kepada wanita itu untuk mengajak bosnya berbicara. Budi juga membisikkan sebuah informasi yang membuat Dara ingin tertawa namun itu namanya tidak pantas.
"Bisa kan, Nona?" tanya Budi.
"Oke." jawab Dara sambil tersenyum.
Dirga benar-benar sudah mabuk kepayang, pria itu duduk di ranjang yang ada di samping ranjang Dara. satu ruangan itu ternyata diisi 2 pasien karena memang itu adalah kelas ekonomi. jadi jangan berharap satu kamar ditinggali sendiri.
"Bukankah kamu pria yang waktu itu di cafe?" tanya Dara yang mengajar Dirga untuk berbicara.
DEG..
DEG..
jantung Dirga berdebar begitu kencang hingga pria itu lupa rasa sakit, lupa segalanya bahkan lupa dengan ketakutan yang dari tadi dia hindari.
Budi yang melihat hal itu tentu saja pria itu tersenyum, akhirnya bosnya disuntik akhirnya pria itu dirawat di rumah sakit bersama dengan dara.
Sedangkan di tempat lain Bastian sudah ditelepon oleh Pak Rusdi. ternyata pria itu sedang melakukan sesuatu.
Beberapa jam sebelum Bastian ke rumah sakit, ternyata pria itu harus menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu. Bastian yang melihat ke-6 pria yang sudah melecehkan Dara dan para karyawannya yang ada di cafe tentu saja pria itu marah saat mendengar kabar Kalau kelima pria itu akan dikeluarkan dari penjara. Bastian dengan segera mencari beberapa informasi ke beberapa tempat mengenai pria itu.
"Jika aku tidak bisa membuat kalian mendekam di penjara maka aku akan membuat kalian mendekam di pemakaman." ucap Bastian.
Terlihat pria itu mencari salah satu pria yang mencoba untuk melecehkan orang-orang yang ada di cafe, sore itu Bastian menemukan salah satu pria yang sudah menjadi targetnya. salah satu pria itu bukanlah putra dari pejabat. namun pemuda itu adalah salah satu putra dari orang kaya yang selalu melakukan kekerasan kepada para karyawannya Bastian.
BUKK...
BUKK...
"Aku hanya memberitahukanmu, jika sampai kamu berusaha untuk membantu teman-temanmu Maka jangan salahkan aku jika aku akan membunuhmu. aku bukanlah pria baik, aku bisa membunuhmu di mana pun dan Apa yang kamu lakukan tidak akan luput dari semua penglihatan ku." ancam Bastian yang kemudian menepuk pipi salah satu pria dari 6 orang yang sudah mengganggu Dara di cafenya.
Bastian masih harus menyelesaikan sebuah tugas, terlihat pria itu meminta salah satu temannya untuk melakukan sesuatu yang mengatakan kalau mereka itu adalah anak para pejabat.
"Baik, tuan. saya akan melakukan seperti yang Anda perintahkan." jawab si pria.
"Jangan sampai aku menghabisimu, dengarkan Aku baik-baik. kelima temanmu itu akan kubuat masuk ke dalam jeruji penjara jika sampai mereka keluar maka kamu akan kehilangan nyawamu. mungkin saja aku akan menghancurkan keluargamu dengan semua bukti yang aku miliki. Oh ya, aku juga memiliki bukti dari orang tua kalian semua, bukti korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia." ucap Bastian yang membuat pria itu terdiam.
Tentu saja Bastian langsung mengirimkan beberapa bukti-bukti itu kepada orang tua ke-5 pria yang sudah melakukan pelecehan.
"Jika sampai aku mendengar kelima temanmu itu dibebaskan, Maka jangan salahkan aku Cak aku memburu mu." ucap Bastian yang kemudian pergi meninggalkan salah satu pria.
setelah menyelesaikan tugasnya seketika Bastian kembali ke sebuah tempat.
"Kamu mau ke mana, Bastian?" tanya teman Bastian.
"Aku mau ke rumah sakit, Aku mau melihat kekasih kecilku itu." jawab Bastian.
Teman Bastian nampak tersenyum saat mendengar jawaban dari Bastian. "Cepat utarakan cintamu sebelum ada pria yang mengambilnya darimu." ucap teman Bastian.
Tak akan kubiarkan satu lalat pun berusaha untuk menyentuh kulitnya, jika mereka berani melakukan hal itu kamu tahu sendiri kan seperti apa aku." jawab Bastian yang kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Sekitar 50 menit kemudian pasti yang sudah berada di rumah sakit, pria itu berjalan memasuki rumah sakit dengan penampilannya yang kece badai. memakai jaket kulit berwarna coklat dengan celana berwarna putih dan kaos berwarna putih. Bastian memasuki area rumah sakit karena Pak Rusdi sudah memberitahukan dia Di mana keberadaan darah dan dirinya.
"Cowok itu ganteng banget ya, Kenapa akhir-akhir ini banyak cowok tampan yang berkeliaran ya." ucap salah satu perawat.
"Dia masih bujang atau sudah menikah?" tanya perawat yang lain.
Bastian yang Mendengar pembicaraan dari para perawat nampak pria itu menghentikan langkah kakinya, terlihat Bastian menatap dua perawat yang dari tadi membicarakannya.
"Maaf ya nona, Aku adalah seorang pria yang sudah mempunyai kekasih. jadi Maaf aku tidak bisa menerima pujian kalian." ucap Bastian yang kemudian meninggalkan dua perawat tersebut.
Raut wajah kedua perawat itu nampak bersemu merah ketika Bastian menyampaikan kata-kata itu sambil tersenyum ke arah mereka. "Tuh cowok benar-benar sangat sempurna." ucap salah satu perawat.
"Iya, kira-kira Seperti apa ya kekasihnya?" tanya perawat yang lain.
Langkah kaki Bastian terhenti Di sebuah lorong....,
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian