
"Ada Apa, mas?" tanya Bastian.
"Ada sesuatu yang selalu mengganggu pikiran mas, karena itu mas ingin menanyakan sesuatu kepadamu, Bastian." jawab Pak Rusdi.
"Duduk sebentar Mas, aku akan membuatkan kopi." ucap Bastian.
"Tidak usah Bastian, mas sudah membuatkan secangkir kopi untukmu dan Mas." jawab Pak Rusdi.
Sesaat kemudian Pak Rusdi meminta Bastian untuk duduk bersamanya, Pak Rusdi harus menanyakan sesuatu kepada Bastian dengan kata-kata yang lebih relevan, dia tidak ingin menyinggung Bastian dia tidak ingin berpikiran jelek kepada pria yang sudah dianggap sebagai adiknya tersebut.
"Ada apa sih Mas, kok kayaknya mas benar-benar kebingungan?" tanya Bastian.
"Begini loh Bastian..," ucap Pak Rusdi sembari menggaruk keningnya.
"Ada apa?" tanya Bastian kembali.
"Aku ingin menanyakan sesuatu dan semoga saja kamu menjawabnya, hal ini benar-benar mengganjal pikiran mas karena mas berpikir kamu mempunyai sesuatu...," ucap Pak Rusdi yang sedikit kebingungan.
"Kenapa Mas mengatakan sesuatu secara terbelit-belit seperti itu, Apakah ada sesuatu?" tanya Bastian.
"Apakah kamu memiliki perasaan sama Dara, Bastian?" tanya Pak Rusdi yang membuat Bastian langsung terdiam. pria itu benar-benar sangat terkejut dia begitu tersentak dengan pertanyaan yang diajukan oleh Pak Rusdi.
"Ada apa sih Mas, Kenapa Mas menanyakan hal itu?" tanya Bastian.
"Dengarkan aku Bastian, mas ingin menanyakan sesuatu kepadamu dan Tolong kamu jawab dengan jujur." pinta Pak Rusdi.
"Memangnya Kenapa Mas berpikiran seperti itu?" tanya Bastian. sebenarnya dia terkejut dengan pertanyaan dari mantan suami kakaknya itu.
"Bastian, mas adalah seorang pria, Mas juga pernah mencintai seorang wanita, Mas bisa merasakan perasaan itu jadi tolong kamu katakan yang sebenarnya. apakah kamu memiliki perasaan dengan Dara? Mas tidak ingin pemikiran Mas ini menggangguku, mas tidak akan pernah menghalangi kamu untuk memiliki perasaan itu. mas hanya ingin tahu apakah benar kamu memiliki perasaan itu atau tidak, jika kamu memilikinya itu tidak apa-apa bukan? mas malah suka dan senang Jika kamu benar-benar mencintai Dara, maka Mas akan semakin tenang karena kamu adalah pria yang paling tepat." ucap pak Rusdi yang kemudian minum kopi yang sudah dia buat.
"Semenjak Kapan mas Rusdi tahu mengenai perasaanku?" tanya Bastian yang membuat Pak Rusdi sangat terkejut dengan jawaban yang dikatakan oleh Bastian. ternyata pemikirannya selama ini itu benar kalau Bastian memang menyukai Dara.
"Jadi kamu benar-benar menyukai Dara, Bastian?" tanya Pak Rusdi.
Bastian menganggukkan kepalanya, pria itu menatap pak Rusdi kemudian meminum kopi yang sudah dibuatkan oleh pria itu. "Tapi aku minta sama Mas untuk tidak mengatakan mengenai masalah ini kepada Dara, Aku tidak ingin dia mengetahui perasaanku. Aku tidak ingin dia terganggu dan kecewa dengan perasaan yang aku miliki ini." ucap Bastian.
"Kenapa?" tanya Pak Rusdi.
"Aku takut mas karena Dara hanya menganggapku sebagai seorang pria yang berstatus sebagai adik dari ayahnya, aku takut apa yang dia pikirkan, aku takut jika dia langsung menghindar dariku." jawab Bastian.
"Lebih baik kapan-kapan kamu mengatakan perasaanmu yang sebenarnya." minta Pak Rusdi yang kemudian pulang kembali ke rumahnya.
Ketika pria itu hendak masuk ke dalam rumah terlihat seorang wanita sudah mengikuti Pak Rusdi.
"Ternyata kamu tinggal di sini?!" seru seorang wanita yang sudah memanggil Pak Rusdi.
Pak Rusdi yang hendak masuk ke rumah itu terlihat dia menatap wanita yang ada di depan rumahnya, tatapan mata Pak Rusdi benar-benar sangat terkejut ketika melihat Mantan istrinya itu berada di depan rumahnya.
"Kamu, Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Pak Rusdi kepada Bu Sri yang sudah berada di depan rumahnya.
"Aku? Tentu saja aku ke sini karena aku ingin mengambil putriku." jawab Bu Sri yang mengatakan perkataan seperti itu dengan begitu ringan. seolah wanita itu tidak melakukan kesalahan, seolah Wanita itu sudah lupa dengan apa yang dia lakukan.
"Apa yang kamu katakan tadi?" tanya Pak Rusdi.
"Aku kemari karena aku harus menjemput putriku, kamu sudah membawa kabur putriku selama bertahun-tahun." ucap Bu Sri yang membuat Pak Rusdi nampak terdiam membeku.
Dara yang mendengar suara ramai di depan rumahnya seketika wanita itu membuka pintu rumahnya. "Ada apa Pak?" tanya Dara kepada ayahnya yang dari tadi belum masuk malah berbincang-bincang dengan seseorang di depan rumahnya.
"Masuklah Dara." minta Pak Rusdi.
"Ternyata kamu sudah besar, Dara." Panggil Bu Sri yang membuat Dara langsung terdiam menatap seorang wanita yang sudah berbicara dengan bapaknya itu.
Dara menatap seorang wanita yang tidak pernah diharapkan kehadirannya. Seketika dara membeku menatap wanita yang begitu dia benci, wanita yang melahirkannya namun selalu menyiksanya. "Apa yang kamu lakukan di sini?!" seru Dara kepada Bu Sri.
"Ada apa denganmu, Dara. Apakah kamu lupa ini ibu, ibu ingin mengajakmu pergi dari tempat jelek ini." ucap Bu Sri.
"Pergi dari sini, bapak. cepat masuk!!" seru Dara yang terlihat hatinya mulai bergejolak luar biasa. rasa sakit itu kembali muncul wanita yang begitu dia benci itu kembali ke hadapannya kembali, memberinya luka yang begitu dalam.
"Dara!" Panggil Bu Sri.
Seketika Dara dan Pak Rusdi masuk ke dalam rumahnya. kedua kaki Dara langsung lemas wanita itu menangis sembari memeluk Pak Rusdi.
"Apa yang dia lakukan di tempat ini, Pak?" tanya Dara.
"Aku tidak tahu, Dara. Kenapa wanita itu tiba-tiba berada di sini." jawab Pak Rusdi.
"Aku tidak mau melihatnya, Pak. aku tidak mau melihatnya!!" teriak Dara.
"Tenang Dara, tenang." minta Pak Rusdi.
Dara menangis, sakit hati yang begitu dalam itu telah dilupakan oleh Dara. namun luka yang sudah terkubur itu kembali nampak saat wanita yang tidak pernah memberikan kasih sayang kepada dahak itu muncul kembali.
BRAKKK...
BRAKKK...
Bu Sri yang mendobrak pintu rumah Pak Rusdi. "Keluar, keluar kamu Rusdi!!" seru Bu Sri.
Dara yang mendengar suara Bu Sri dia terus menutup telinganya, Dara benar-benar tidak akan mau melihat wanita yang selalu memberikannya rasa sakit tersebut.
"Tenanglah, Dara. tenang." minta Pak Rusdi.
Seketika Dara langsung mengambil sesuatu dari dalam rumahnya, wanita itu mengambil ember air kemudian membawanya keluar.
BYURR...
Dara langsung menyiram seember air ke arah Bu Sri.
"Pergi dari sini, pergi!!" teriak Dara dengan begitu keras hingga membuat beberapa tetangga langsung keluar, begitupun dengan Bastian dan 2 pembantunya.
"Ada apa Dara?" tanya Bastian yang sudah berada di sana.
"Iya ada apa Dara?" tanya beberapa tetangga Dara yang sudah keluar dari rumah mereka, Bu Sri yang melihat hal itu wanita itu nampak sangat terkejut.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian