I LOVE YOU UNCLE BASTIAN

I LOVE YOU UNCLE BASTIAN
Siapa pria itu?



Langkah kaki Bastian terhenti di depan sebuah kamar.


"Apa benar ini kamar Nona Dara?" tanya Bastian kepada salah satu perawat.


"Benar mas," jawab seorang perawat sambil tersenyum kepada Bastian.


Setelah mendengar jawaban dari salah satu perawat, seketika Bastian memasuki kamar Dara. terlihat di sana seorang gadis muda sedang bercakap-cakap dengan seorang pria tua, Dara yang dibalut tangan kaki serta dahinya itu tersenyum begitu lebar kepada sang ayah.


"Kalian ini sebenarnya habis melakukan apa sih, kok wajahnya pada bonyok semua gitu?" tanya Bastian yang sudah memasuki kamar Dara.


Dara dan Pak Rusdi yang mendengar perkataan seperti itu seketika dua orang itu menoleh dan menatap Bastian.


"Bastian, Kamu dari mana saja?" tanya Pak Rusdi.


"Habis dari melakukan pekerjaan Mas." jawab Bastian.


Seorang pria yang berada di samping Dara terlihat pria itu menatap Dara dengan tatapan mata yang begitu intens, kedatangan seorang pria membuat pandangan Dirga langsung teralih pada sosok pria bertubuh kekar mungkin tinggi yang sekitar 180 lebih.


"Siapa pria itu, kenapa dia ada di sini? Bukankah dia itu adalah pemilik cafe." guman Dirga dalam hati sembari terus menatap Dara.


"Bagaimana kamu bisa seperti ini, Dara?" tanya Bastian.


"Ada kecelakaan Om, enggak tahu orangnya tadi mungkin lagi enggak konek, mungkin." jawab Dara.


Terlihat Bastian langsung memukul dahi Dara, walaupun pukulan itu tidak terlalu keras namun Dirga yang berada di samping Dara tentu saja pria itu langsung melotot.


"Apa yang kamu lakukan?!" seru Dirga.


Bastian menoleh, pria itu menatap seorang pria yang berada di sebelah ranjang Dara. "Kamu siapa?" tanya Bastian.


Dirga seketika tersadar dengan semua yang dia lakukan. "Khemm, khemm.., Maaf bukannya bermaksud ikut campur. hanya saja kamu memukul dari seorang wanita." ucap Dirga yang tersenyum setelah itu dia menatap Dara kemudian duduk di samping Dara.


"Katakan apa yang terjadi, Bagaimana bisa kamu mengalami hal seperti ini?" tanya Bastian.


"Ceritanya panjang banget Om." jawab Dara.


"Sepanjang apa? apakah sepanjang perjalanan dari rumah ke Merauke?" tanya Bastian sembari tersenyum.


Dara yang mendapat perkataan seperti itu tentu saja wanita itu juga ikut tersenyum. "Apaan sih Om, kalau jalan dari sini ke sana sih ya bisa pingsan aku." ucap Dara.


"Nggak mungkin kalau ada Om, kamu enggak mungkin pingsan." jawab Bastian.


Dara benar-benar tidak pernah mengerti dengan semua yang dikatakan oleh Bastian, sinyal-sinyal itu hanya dianggap Dara sebagai gombalan dari seorang Paman kepada keponakannya.


"Oh ya Bastian, nanti tolong kamu bantu Mas ya." minta Pak Rusdi.


"Memangnya ada apa, mas?" tanya Bastian.


"Bantu Mas untuk menjaga Dara, Kamu tahu kan Mas akhir-akhir ini kurang enak badan. walaupun mas berada di sini nanti mas minta kamu menginap di sini juga ya." pinta Pak Rusdi kepada Dara.


Walaupun Pak Rusdi mengatakan hal itu sebenarnya dia ingin berjaga-jaga karena putrinya tinggal di satu ruangan dengan seorang pria.


"Tenang saja Mas, aku akan di sini aku nanti akan memberikan kalian makanan. lagi pula hari ini aku enggak ada pekerjaan kok." jawab Bastian.


Dirga yang berada di samping ranjang Dara terlihat pria itu benar-benar penasaran dengan hubungan gadis muda dan pria seusianya tersebut. "Sebenarnya apa sih hubungan mereka berdua, kenapa juga gadis muda itu memanggilnya Om? cintaku kamu benar-benar membuatku merasakan patah hati." guman Dirga dalam hati.


Budi yang berdiri di samping Dirga terlihat pria itu hanya menggelengkan kepalanya, bosnya benar-benar seperti seorang pria bodoh yang dari tadi tersenyum sendiri sembari menggelengkan kepalanya.


"Bos, apa Bos mau aku belikan makanan?" tanya Budi kepada Dirga.


"Belikan aku yang banyak makanan, minuman buah-buahan apa aja bawa ke sini." jawab Dirga tanpa memikirkan apa yang dia katakan.


Setelah mendapatkan perintah dari bosnya tentu saja Budi berpamitan untuk pergi mencari makanan, Dirga terus menatap Dara yang bersikap begitu manja dengan pria yang baru masuk tersebut.


"Apakah kamu tahu ciri-ciri dari pria yang menabrakmu tadi?" tanya Bastian.


"Ya sudah kalau begitu, lebih baik kamu istirahat dulu biar kamu tidak terlalu pusing." ucap Bastian.


"Oh ya Om, minta tolong boleh nggak?" tanya Dara.


"Apa." jawab Bastian.


"Tolong belikan aku makanan, minuman dong. Aku tidak suka makanan yang ada di rumah sakit, Aku ini tidak sakit parah masa' diberikan nasi lembek seperti itu." ucap Dara yang membuat Bastian tersenyum.


"Seberapa banyak?" tanya Bastian.


"Ya jangan terlalu banyak lah, Om Om kira aku ini rakus apa." jawab Dara.


"Ya sudah kalau begitu, Om belikan dulu kamu jangan kemana-mana." pinta Bastian yang membuat Dara malah tersenyum mengejek.


"Aku ini di rumah sakit Om, bukan di bioskop." ucap Dara.


Tatapan mata Bastian menatap seorang pria yang berada satu ruangan dengan Dara. tatapan mata ditunjukkan oleh Bastian, hal itu menunjukkan kalau pria itu akan waspada kepada pria yang berada di satu ruangan dengan Dara. langkah kaki Dirga mencoba untuk mendekati Dara terlihat pria itu menatap Dara yang sedang melihat ponselnya.


"Oh ya, tadi?" tanya Dirga kepada pasti Dara.


"Dia yang mana?" tanya Dara.


"Yang tadi." jawab Dirga.


"Oh pria yang tadi ya, namanya Om Bastian pemilik cafe biasa kamu di sana. dia adalah adik dari bapakku." jawab Dara yang membuat Dirga benar-benar begitu bahagia. hatinya serasa seperti mendapatkan kejutan yang sangat luar biasa.


Bagaimana tidak, Dirga akhirnya tahu pria yang berada di cafe itu adalah Om dari gadis cantik yang dia cintai tersebut.


"Kenapa kamu terus seperti itu?" tanya Dara kepada Dirga.


"Tidak apa-apa, hanya sedang bahagia saja." jawab Dirga yang kemudian duduk di ranjangnya.


Terlihat pria itu sudah memikirkan 1000 pemikiran yang luar biasa, Entahlah pria itu sedang memikirkan apa namun yang jelas pria itu sudah memulai memikirkan kebahagiaan, keharmonisan dan selain sebagainya.


Sekitar 30 menit kemudian Bastian sudah kembali dengan membawa beberapa kotak makanan, sedangkan Budi terlihat juga sudah datang dengan membawa begitu banyak makanan.


"Beli makanan apa saja, Om?" tanya Dara.


"Semuanya untukmu." jawab Bastian sambil tersenyum.


Satu kotak makanan nasi campur kesukaan Dara sudah dibuka, terlihat Bastian langsung menyodorkan sesendok nasi di hadapan Dara.


"Aku bisa makan sendiri Om." ucap Dara.


"Buka mulutmu." pinta Bastian yang benar-benar memperlakukan Dara seperti istri yang sedang terluka.


Pak Rusdi nampak hanya tersenyum, pria itu mengambil sekotak makanan kemudian duduk di samping Bastian.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Mawar hitam berduri


- I love you uncle Bastian