I LOVE YOU UNCLE BASTIAN

I LOVE YOU UNCLE BASTIAN
Bu Sri, ibu Dara



** Dua hari kemudian **


TIN..


TIN..


TIN..


suara klakson mobil yang begitu kencang luar biasa, Dara yang sedang berada di jalan nampak wanita itu langsung menoleh.


"Ini orang kayak punya jalan sendiri aja, klakson mobil kok kayak preman." ucap Dara sambil melajukan motornya.


TIN..


TIN..


TIN..


klakson mobil yang terus di bunyikan. Dara yang menaiki motor di samping mobil tersebut, nampak Gadis itu menoleh dan menatap sebuah mobil berwarna hitam mengkilap sudah berada di samping motornya.


"Jalan besar gini kok melajukan mobilnya di samping motorku, apa dia ingin menabrak motorku apa." ucap Dara yang benar-benar kesal.


Sesaat kemudian terlihat mobil tersebut kaca mobilnya dibuka, Dara tidak menghiraukan mobil yang berada di sampingnya itu.


"Kamu mau ke mana?" tanya seorang pria kepada Dara.


Dara tidak menghiraukan panggilan dari seseorang, wanita itu melajukan motornya dengan begitu kencang.


"Kita Dicuekin Bos." ucap Budi.


"Gadis ini benar-benar luar biasa." jawab Dirga .


"Apa mau dikejar, Bos?" tanya Budi.


"Kalau tidak dikejar Mana aku tahu dia mau ke mana." jawab Dirga.


Setelah mengatakan hal itu akhirnya Budi melajukan motornya dengan kencang, terlihat Dirga benar-benar ingin tahu kemana kepergian dari gadis muda yang sudah membuatnya jatuh cinta tersebut.


"Dia mau ke mana Bos?" tanya Budi kepada Dirga.


"Mana aku tahu, kalau aku tahu aku tidak akan menyuruhmu untuk mengikutinya." jawab Dirga sambil memukul pundak Budi.


Pagi itu Dara pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan makanan yang memang sudah habis, Dara harus segera mencari beberapa barang-barang yang ada di rumahnya. Dara menatap dari spion motornya, wanita itu kelihatannya ingin melakukan sesuatu kepada orang yang ada di dalam mobil.


"Apa-apaan sih itu mobil, kenapa terus mengikutiku. apa Dia mungkin penculik?" ucap Dara yang kemudian melajukan motornya dengan sangat cepat hingga membuat Dirga kehilangan keberadaan Dara.


"Kok hilang bos?" tanya budi.


"Kamu itu yang nggak bener, masa mengikuti wanita aja nggak bisa!" teriak Dirga yang benar-benar kesal.


Di sebuah tempat yang ada di jalan kecil, terlihat Dara melajukan motornya. niat hati ke toko bahan pangan malah dia berada di jalan sepi yang tidak dia ketahui. "Kan jadi salah jalan gara-gara Itu mobil ngikutin aku." ucap Dara.


Sekitar beberapa detik kemudian Dara mematikan motornya, wanita itu nampak menatap tempat keberadaannya.


"Ini ada di mana ya, kok tempatnya nggak aku kenal." ucap Dara yang kemudian membelokkan motornya.


Ketika hendak berbelok tatapan mata Dara menatap seseorang yang terlihat begitu familiar di matanya. seorang wanita yang sudah mengusir dirinya dan pak Rusdi. saat melihat wanita itu seketika Dara membeku, wanita itu menatap seorang wanita yang sudah melahirkannya dulu. seorang wanita yang sudah menyia-nyiakan dia dan sudah membuatnya terluka luar biasa.


"Dari dulu sampai sekarang wanita itu kelakuannya tetap sama saja, dasar wanita murahan." ucap Dara yang kemudian melajukan motornya untuk dan terbalik menuju salah satu toko bahan pangan.


Sekitar 2 jam kemudian Dara sudah kembali ke rumah, terlihat di sana Pak Rudi tidak ada di rumah. hari ini Pak Rusdi memang sudah bekerja karena sudah satu minggu itu dia izin libur. ketika Dara berada di rumah, Dara kembali mengingat seorang wanita yang dulu menyakitinya. seorang wanita yang selalu menganggapnya hanya sebagai pembantu di rumah.


"Apa yang dilakukan wanita itu di sini." ucap Dara.


Sudah 8 tahun Dara tidak pernah bertemu dengan ibunya, gadis muda itu tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang ada di hatinya. seorang wanita yang tidak lain adalah ibu kandungnya, seorang wanita yang tidak pernah memberikan dia kenyamanan, memberikan dia perhatian bahkan tidak pernah sekalipun Bu Sri memberikan kenyamanan kepada Dara.


Terlihat gadis muda itu memasuki dapurnya, gadis muda itu menatap barang-barang yang sudah dia beli. "Aku berharap aku tidak pernah bertemu wanita itu lagi, aku benar-benar tidak pernah berharap wanita itu muncul di hadapan kami." ucap Dara yang terlihat benar-benar tidak ingin melihat wanita yang sudah melahirkannya itu.


Sakit yang teramat membuat Dara hanya bisa terdiam, merasakan sakit yang selalu dia pendam sendiri. setelah kedatangan Pak Rusdi Dara baru merasakan sebuah ketulusan dari seseorang dicintai, sebagai seorang anak bahkan diperlakukan dengan begitu baik. Dara benar-benar tidak bisa menenangkan hatinya, Wanita itu benar-benar sangat kesal luar biasa, dia harus menceritakan sesuatu kepada orang lain agar beban yang ada di hatinya itu bisa dia ringankan.


Tatapan mata Dara menatap ponsel yang tergeletak di meja ruang tengah, seketika Dara menelpon Bastian. "Halo Om ada di mana?" tanya Dara.


"Om lagi keluar, Memangnya ada apa?" tanya Bastian.


Mendengar nada suara Dara yang begitu berat, Bastian yakin ada sesuatu yang terjadi kepada Dara. "Kamu kenapa, Dara?" tanya Bastian.


"Tidak ada apa-apa, Om. kalau begitu Om hati-hati di jalan ya." ucap Dara yang kemudian mematikan ponselnya.


Seketika Dara meneteskan air matanya, dadanya begitu sesak luar biasa. hatinya bagaikan hancur berkeping-keping setelah melihat ibunya kembali. gambaran kesakitan dan perlakuan yang tidak pernah manusiawi itu didapatkan Dara dari ibunya. sekitar satu jam kemudian Dara terduduk di dapur, wanita itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Bastian memasuki rumah Pak Rusdi, Bastian benar-benar sangat khawatir seharusnya Bastian Hari ini pergi ke Jogja. Namun karena ditelepon Dara dan mendengar suara Dara seperti itu, pria itu langsung merubah rencananya. Bastian segera kembali ke rumah Pak Rusdi dia mencari keberadaan Dara, dia membuka satu persatu pintu kamar namun tidak ada Dara di sana.


HIKS...,


suara tangis yang lirih terdengar di telinga Bastian, dengan segera Bastian berlari ke dapur. terlihat di sana Dara meringkuk dan terduduk dengan kondisi kakinya ditekuk.


"Dara." Panggil Bastian.


Seketika Dara menoleh, gadis muda itu menatap Bastian yang sudah ada di rumahnya. dengan segera Dara berdiri gadis muda itu langsung memeluk Bastian dengan begitu erat.


"Ada apa, apa yang terjadi denganmu?" tanya Bastian yang begitu khawatir.


Dara terus menangis, Gadis itu merasakan sesak yang teramat di dadanya. "Cobalah tenang, Ada apa denganmu?" tanya Bastian.


Dara belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun, bebannya terlampau berat.


"Kamu tenang ya, di sini ada Om Bastian. Om ambilkan air dulu ya." ucap Bastian yang kemudian berdiri untuk mengambilkan air buat Dara. Terlihat Bastian mengelus punggung Dara pria itu menatap Dara yang benar-benar terlihat begitu sedih.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Mawar hitam berduri


- I love you uncle Bastian