I LOVE YOU UNCLE BASTIAN

I LOVE YOU UNCLE BASTIAN
Kehamilan Dara



Berita mengenai kehamilan Dara benar-benar menjadi kebahagiaan untuk Pak Rusdi dan Bastian, mereka berdua akan menjadi orang-orang yang sangat bahagia karena kedatangan seorang bayi mungil. Bastian sudah pergi ke rumah sakit dan dia mengetahui kalau istrinya sudah hamil 1 bulan lebih, 3 bulan pernikahan mereka Bastian benar-benar sangat bersyukur karena di usianya yang sudah tidak muda itu dia mendapatkan kebahagiaan dengan begitu cepat.


** Satu bulan kemudian **


"Jangan terlalu capek, sayang." ucap Bastian.


"Tidak apa-apa Mas, cuma masak aja." jawab Dara.


Terlihat Dara berdiri sembari mengelus perutnya yang sudah berjalan 3 bulan tersebut. "Kamu tidak ingin makan apa-apa, Dara? Bapak mau keluar." ucap Pak Rusdi.


"Tidak Pak." jawab Dara.


"Mau Mas, tolong Mas belikan apa saja yang Mas lihat, makanan apa saja pokoknya Mas!" seru Bastian.


"Kamu ini ngidam, serakah atau kebangetan banget, Bastian?" tanya Pak Rusdi yang membuat Bastian tersenyum.


"Habis gimana lagi, Mas. kemauan cucu Mas Rusdi sih..," jawab Bastian yang membuat pak Rusdi malah menggelengkan kepalanya berulang kali. suara canda tawa terdengar dari mulut orang-orang yang ada di rumah tersebut.


"Baiklah kalau begitu aku keluar dulu, karena aku harus membahas beberapa permasalahan pekerjaan." ucap pak Rusdi.


"Hati-hati ya pak!" seru Dara.


"Ya." jawab pak Rusdi. ketika pria tua itu membuka pintu rumah Bastian, terlihat di sana seorang wanita berdiri dengan raut wajah yang benar-benar begitu pucat dan tubuh yang gemetar.


DEG...


"Sri." ucap Pak Rusdi ketika melihat Bu Sri sudah ada di depan rumahnya.


"Mas." panggil Bu Sri.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Sri?" tanya Pak Rusdi sembari menatap wajah Bu Sri yang benar-benar begitu pucat. tubuhnya kurus kering bagaikan tanaman yang tidak disiram sama sekali.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Sri?" tanya Pak Rusdi kembali.


Bu Sri nampak tidak menjawab pertanyaan Pak Rusdi, wanita itu menundukkan kepalanya sembari memegang kedua tangannya. "Bagaimana kondisi Dara, Mas?" tanya Bu Sri kepada Pak Rusdi. pria tua itu benar-benar sangat terkejut ketika mendengar Bu Sri menanyakan mengenai kabar Dara.


"Baik." jawab Pak Rusdi.


Setelah mendengar jawaban dari Pak Rusdi seketika Bu Sri memutar tubuhnya kemudian hendak pergi dari rumah tersebut, namun beberapa langkah akan keluar dari pagar rumah Bastian, seketika wanita itu langsung tersungkur tidak sadarkan diri.


BRUKK...,


Pak Rusdi terkejut ketika melihat Bu Sri sudah tidak sadarkan diri. "Sri!" seru Pak Rusdi yang kemudian berlari untuk membantu Bu Sri.


"Bastian, Bastian!!" teriak Pak Rusdi dengan suara yang begitu keras. Bastian yang berada di dalam rumah nampak pria itu sangat terkejut kemudian berlari keluar. Bastian mengira ada sesuatu yang terjadi kepada Pak Rusdi karena itu dengan segera Bastian mendekati Pak Rusdi yang sedang bersama dengan Bu Sri.


"Ada apa Mas?!" seru Bastian yang sudah keluar dari rumahnya. Bastian menatap Pak Rusdi bersama seorang wanita yang tidak sadarkan diri.


"Ada apa Pak?" tanya Dara yang sangat terkejut dengan teriakan Pak Rusdi. Dara takut terjadi sesuatu kepada bapaknya.


"Bastian, bantu aku untuk mengangkat wanita ini!" teriak pak Rusdi.


Seketika Bastian berjalan mendekati wanita yang tidak sadarkan diri tersebut, ketika hendak mengangkat wanita itu Bastian melihat seorang wanita yang beberapa bulan lalu berada di rumahnya dan membuat keonaran.


"Dia." ucap Bastian.


"Sudah jangan katakan apapun, Bastian. cepat kamu bawa wanita ini masuk ke dalam." pinta Pak Rusdi yang membuat Bastian langsung membawa wanita yang tidak sadarkan diri itu masuk ke ruang tamu.


"Apa yang dilakukan wanita ini di sini, pak?" tanya Dara.


"Sudahlah Dara, nanti saja." jawab Pak Rusdi yang kemudian masuk ke dalam rumah. Pak Rusdi meminta salah satu pelayan untuk membawakan kompres serta teh hangat, tatapan Mata Dara menatap ibunya tersebut. raut wajah yang tidak suka kebencian dan ingin mengusir wanita itu, tentu saja itulah yang dirasakan oleh Dara dengan semua sikap yang selalu ditunjukkan oleh Bu Sri.


"Minyak anginnya juga ya!" pinta Pak Rusdi.


Setelah mendapatkan semua yang diinginkan akhirnya Pak Rusdi membuka minyak kayu putih dan mengoleskan ke kepala dan leher Bu Sri. "Segera usir wanita ini, Pak." pinta Dara.


"Tenanglah dara, apakah kamu tidak lihat kalau wanita ini sedang sakit." jawab Pak Rusdi.


"Biarkan dia sakit, biarkan dia di jalanan Pak." ucap Dara kembali.


"Kamu tidak boleh seperti itu, Dara." ucap Pak Rusdi yang mencoba untuk menenangkan putrinya.


Seketika Dara langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya, wanita itu tidak mau terus menerus berada di satu ruangan bersama dengan ibunya. Dara terasa sesak nafasnya begitu sulit untuk dikeluarkan, jika mengingat wanita yang sudah membuatnya terluka tersebut. Bastian yang melihat hal itu seketika pria itu mengikuti sang istri yang berada di kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan, Ada apa Sayang?" tanya Bastian.


"Aku tidak suka wanita itu berada di sini, Mas." jawab Dara.


"Tenang saja, nanti kalau dia sudah bangun mas akan meminta penjaga rumah untuk membawa Wanita itu pergi," jawab Bastian.


"Tapi aku tidak suka sama dia Mas, aku tidak mau dia berada di sini." ucap Dara yang terlihat tidak mau melihat keberadaan Bu Sri di rumahnya.


"Apa yang harus kita lakukan, bapakmu tidak memperbolehkan kita melakukan sesuatu, kita tunggu saja sampai wanita itu sadar setelah sadar nanti kita akan minta Dia segera pergi dari sini." jawab Bastian.


Terlihat dara mulai menangis di pelukan sang suami, air matanya mengalir ketika mengingat kekejaman ibunya tersebut. dia dengan sengaja mengusir Dara dan Pak Rusdi tanpa memberikan apapun hanya pakaian saja.


"Kamu tidak boleh terlalu memikirkan hal ini, kasihan dengan bayi yang ada di kandunganmu itu. apakah kamu mau jika anak kita pusing memikirkan hal ini?" tanya Bastian yang membuat Dara menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu, Kamu harus menjadi wanita dewasa ya, kamu tidak boleh seperti ini kamu harus yakin kalau ada sesuatu yang membuat wanita itu kemari. jika niatnya jahat lebih baik kita mengusirnya, jika niatnya baik maka kita bisa menerimanya sebagai tamu." ucap Bastian.


"Aku tidak mau Mas." jawab Dara yang masih bersih kuku.


"Baiklah kalau begitu, Kamu jangan terlalu memikirkan hal ini Ya." minta Bastian sembari mengelus perut istrinya yang semakin hari semakin membesar.


"Aku sesak nafas saat melihatnya, Mas." ucap Dara.


"Iya Mas mengerti kok." jawab Bastian dengan tutur kata yang lembut.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Mawar hitam berduri


- I love you uncle Bastian


- Terlempar ke dimensi kerajaan