
** Beberapa hari kemudian **
"Hei, lihat!" seru para wanita yang ada di cafe.
"Bukankah dia adalah pemilik cafe yang keren itu!!" teriak para wanita yang melihat Bastian masuk ke dalam cafe.
Di cafe milik Bastian para wanita terus memuja Bastian begitu pula di kampus. Bastian yang terus di eluh-Eluhkan oleh para mahasiswinya. sikap yang begitu jantan bahkan Bastian selalu melindungi para karyawannya.
"Aku tidak salah pilih, aku harus mendapatkan pria itu dan akan kujadikan suami." ucap Sarah yang terus melihat foto Bastian yang ada di media sosial.
Di tempat lain terlihat seorang wanita sedang menatap Dara yang sedang berada di perpustakaan.
"Lihatlah, wanita itu sedang bersama dengan gadis Sok alim itu." ucap Della.
"Iya, mereka memang sangat cocok." ucap Jena.
"Sekarang kan tidak ada orang, bagaimana jika kita memberi mereka pelajaran?" tanya Della.
"Kamu benar juga, sekarang kita lakukan yang terbaik. kita beri mereka pelajaran." jawab Jena.
Setelah mereka mengatakan hal itu, terlihat Jena dan Della berjalan mendekati Dara yang sedang bersama dengan Husna.
"Dor!!" Della dan Jena yang sudah mengagetkan Dara dan Husna yang sedang membaca buku.
"Kalian ini apa-apaan sih, Kenapa kalian mengagetkan kami!" teriak Dara yang sudah marah ketika dirinya dikagetkan oleh Della dan Jena.
"Kalian ini lagi ngapain, Apa lagi cari bahan pelajaran agar dapat perhatian dari Pak Bastian?" tanya Della.
"Memangnya kenapa kami harus mencari bahan pembicaraan untuk berbicara dengan Pak Bastian. memangnya Kami ingin melakukan apa?" tanya Dara yang membuat Jena nampak tersenyum.
"Kamu kan wanita penggoda, wanita tidak tahu diri yang selalu menggoda para pria di mana-mana." jawab Jena.
"Benarkah Aku adalah wanita penggoda, lalu pernahkah aku menggoda kekasihmu?" tanya Dara yang membuat Jena sedikit tersentil hatinya. Apa yang dikatakan oleh Dara itu memang benar karena pacar Jena pernah berusaha untuk menyatakan cinta kepada Dara dan agar mau wanita itu menjadi pacarnya.
"Dasar wanita tidak tahu diri, wanita murahan. kamu ini tidak pernah malu sama sekali ya terus-menerus mengganggu para pria. Kamu ini sebenarnya punya harga diri nggak!!" seru Jena.
"Aku? Tentu saja aku itu punya harga diri, tidak mungkin kan jika aku tidak punya harga diri. tapi aku bisa melakukan sesuatu di sini." jawab Dara.
Perdebatan dua orang itu benar-benar membuat Jena sangat marah. berkata seribu kali pun Jena tidak akan mampu bersaing kata dengan Dara, karena Dara memang sangat pandai membalik kata-kata orang apalagi perkataan itu tidak benar.
"Yang aku dengar kalau kamu itu mempunyai seorang ibu yang pekerjaannya menjadi pelacur ya?" tanya Jena yang membuat Dara langsung terdiam.
Masa lalu yang sudah dianggap hilang itu tiba-tiba diungkit oleh seseorang. "Jaga mulutmu jika tidak mulutmu itu akan aku tampar!" seru Dara.
"Memangnya apa yang salah dari kata-kataku? benar kan kalau ibumu itu adalah seorang pelacur yang aku dengar kalau ibumu itu sudah menikah berulang kali. mencari pria yang mempunyai ukuran yang berbeda-beda." ejek Jena yang membuat Dara langsung murka.
PLAKK...
PLAKK..
Dara langsung memberikan tamparan berulang kali kepada Jena, wanita itu memang pantas mendapatkannya. Dara benar-benar begitu marah wanita itu begitu murka saat masa lalu yang begitu menyakitkan itu diungkit oleh seseorang.
"Apa yang kamu lakukan!" teriak Della yang melihat Jena dihajar habis-habisan oleh Dara Karena merasa kesal dengan dua wanita itu. Dara langsung menjotos wajah Jena bahkan menjotos wajah Della berulang kali hingga membuat Della langsung berteriak ketika salah satu tangannya menyentuh hidungnya yang berdarah.
"Aaaaaa!!!" suara teriakan Della ketika dia melihat tangannya berdarah.
"Kamu berani membuatku terluka, Della. Seharusnya aku yang membuat mengatakan hal itu, kalian selalu saja menyakiti hati orang lain. kalian ini bedebah kalian ini sampah." Dara yang kemudian menjambak rambut dua wanita itu.
"Dara lepaskan!" seru Husna.
"Akan kuberi mereka pelajaran, akan kubuat mulut mereka itu tidak bisa berbicara lagi." jawab Dara yang benar-benar sangat marah. karena benar-benar sangat ketakutan akhirnya Husna berusaha untuk mencari pertolongan.
Memang siang itu di perpustakaan benar-benar begitu sepi karena perpustakaan hari itu memang ditutup dan Dara secara khusus meminta kepada petugas perpustakaan untuk meminjamkan kunci kepada Dara.
"Lepaskan, lepaskan!!" teriak Jena dan Della.
"Aku tidak akan melepaskan kalian, kalian harus mendapatkan pelajaran atas semua mulut busuk kalian!" seru Dara yang benar-benar kehilangan kesabarannya.
Suara teriakan tiga wanita itu begitu menggemas, sekitar 10 menit kemudian Ferdi sudah berada di perpustakaan bersama Husna. "Cepatlah Ferdi, Tolong kamu pisahkan Dara dan dua orang itu." ucap Husna.
"Tenang-tenang, kamu jangan khawatir." jawab Ferdi yang berusaha untuk melepaskan Dara yang sedang menghajar Jena dan Della.
"Lepaskan aku, lepaskan!!" teriak Dara yang kemudian melepaskan tarikan rambut Jena dan Della.
Sesaat kemudian wanita itu malah berbalik menatap Ferdi dengan tatapan mata yang begitu marah. "Aku tidak akan membiarkan kalian selalu melukaiku!!" seru Dara yang kemudian menunjuk wajah Ferdi hingga membuat pria itu sedikit kesakitan.
Pertengkaran itu masih belum selesai, akhirnya salah satu dosen yang ada di tempat itu masuk dengan wajah yang benar-benar sangat terkejut saat melihat Dara melukai tiga orang sekaligus.
"Dara, lepaskan!!" teriak salah satu dosen.
"Akan kuberi mereka pelajaran!!" teriak Dara.
Sesaat kemudian Husna tiba-tiba memikirkan sebuah nama yang harus dia cari, tapi karena hari ini pasti yang tidak ada di kampus karena hal itu wanita itu mencari salah satu dosen dan meminta dosen itu menelpon Bastian ataupun orang tua dari Dara. sekitar satu jam kemudian darah sudah berada di ruang rektor kampus.
"Tolong Pak, tolong...," Della dan Jena yang memegang wajah dan rambutnya.
"Apa yang kamu lakukan, Dara. kenapa kamu menghajar dua temanmu?" tanya Pak rektor kepada Dara.
Terlihat Dara tidak mengeluarkan sepatah kata pun, sesaat kemudian Pak Rusdi sudah berada di tempat tersebut.
"Dara." Panggil Pak Rusdi.
Dara menoleh wanita itu menatap bapaknya yang sudah berada di kampus. "Bapak." ucap Dara.
"Silakan duduk Pak Rusdi." ucap pak rektor yang mempersilahkan Pak Rusdi duduk. tatapan mata Pak Rusdi menatap 2 wanita yang wajahnya babak belur.
"Apa yang terjadi dara?" tanya Pak Rusdi.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Dara, namun Husna tidak ingin terjadi sesuatu kepada Dara hingga menceritakan kejadian yang ada di perpustakaan.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian