
"Memangnya berapa Mbak?" Dara yang sedikit penasaran karena perkataan mbak Tri benar-benar seperti menggoyahkan imannya,
"Kamu tahu Dara, Mbak harus membayar sejumlah uang yang fantastis." jawab Mbak Tri.
"Berapa Mbak?" tanya Dara yang memang penasaran.
"Kamu tahu, Mbak harus membayar dengan nominal 20 juta untuk kami makan berempat." jawab Mbak Tri yang membuat Dara langsung mengibas mukanya dengan salah satu tangannya.
"Mbak yakin?" tanya Dara.
"Tentu saja aku yakin, karena itu aku dan suamiku menjauhi makanan yang bernama telur caviar tersebut. bisa bangkrut kalau kami makan lagi, bayangkan 4 porsi makanan yang seukuran sendok teh itu dihargai 5 juta per orang." ucap mbak Tri.
"Memangnya masnya berapa gram, Mbak?" tanya Dara.
"Gak usah kepo deh Dara, aku cerita ini benar-benar membuat dompetku ngilu." jawab Mbak Tri yang kemudian tertawa terbahak-bahak.
Sesaat kemudian akhirnya Dara dan Bastian masuk ke dalam sebuah ruangan yang ternyata ruangan itu adalah kamar VVIP milik salah satu konglomerat yang berasal dari Dubai.
"Oh ya mbak, kita ini berada di sini mau ngapain sih, Mbak?" tanya Dara.
"Kita itu memiliki pesanan pakaian dari kekasih atau tunangan pria asal Dubai ini. lah konglomerat itu meminta kita ke tempat ini dan meminta kita untuk membuatkan desain pakaian." jawab Mbak Tri.
Sekitar beberapa menit kemudian Dara dan Pak Tri sudah masuk di ruangan tersebut, ruangan yang begitu mewah cetar membahana membuat kantong berteriak sempurna.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu penjaga kamar tersebut.
"Mohon maaf kami di minta oleh Tuan Abdul untuk kemari." jawab Mbak Tri.
"Lalu, apa yang ingin kalian lakukan?" tanya pengawal konglomerat itu kembali.
"Majikan Anda meminta kami ke sini untuk mendesain pakaian buat tunangannya." jawab Mbak Tri.
"Baiklah kalau begitu, silakan masuk dan anda duduklah di sini. saya akan memanggil tuan saya." ucap salah satu pengawal yang kemudian meminta memanggil majikannya.
Sekitar beberapa menit kemudian keluarlah seorang pria dengan pakaian khas timur tengah, Dara dan Pak Tri menatap pria tersebut. mereka kira pria itu seperti biasanya memakai pakaian standar orang Indonesia.
"Ini orang apa raksasa, Mbak?" bisik Dara di telinga mbak Tri. wanita itu mengira Kalau pria yang ada di depannya itu tidak bisa berbahasa Indonesia. Dara salah besar karena pria yang ada di depannya itu sangat menguasai bahasa Indonesia dengan sangat baik.
"Memangnya Berapa tinggi mu hingga kamu mengatakan kalau aku ini raksasa?" tanya pria yang bernama Abdul kepada Dara hingga membuat Dara langsung menoleh sembari menutup mulutnya.
"Maaf mister, mister bisa bahasa Indonesia ya?" tanya Dara yang sedikit kebingungan.
"Tentu saya bisa bahasa Indonesia, Saya tinggal di Indonesia beberapa tahun dan saya sering ke sini." jawab Abdul yang membuat Dara langsung terdiam dengan semua yang terjadi.
Saya mohon maaf ya mister, saya kira mister itu tidak bisa bahasa Indonesia. Saya hanya terkejut Mister tinggi banget." ucap Dara yang terlihat tersenyum kepada pria yang ada di depannya itu.
"Oke tidak apa-apa, Apakah kalian membawa apa yang saya minta?" tanya Abdul kepada mbak Tri.
"Saya membawa semua yang Anda minta, tuan. saya juga membawa beberapa desain pakaian yang mungkin anda sukai." jawab Mbak Tri.
"Baiklah kalau begitu, aku minta kalian buka desain itu. aku akan memilih apakah itu cocok untukku atau tidak." Jawab Abdul yang kemudian meminta Dara untuk membawa beberapa gambar desain pakaian tersebut.
Tatapan mata Abdul tiba-tiba saja menatap gadis muda yang ada di depannya itu, begitu riang begitu ringan saat berbicara bahkan tutur katanya benar-benar sangat nyeleneh luar biasa. "Berapa usiamu?" tanya Abdul kepada Dara.
"Memangnya kenapa mister? apa saya kelihatan tua seperti emak-emak?" tanya Dara yang kebingungan sembari memegang pipinya.
"Tidak, Aku cuma mau tanya saja." jawab Abdul.
"Entah mengapa Abdul menatap Dara seolah pria itu mengenal Dara yang barusan dia lihat, wajahmu benar-benar begitu mirip dengan seseorang." ucap Abdul.
"Apa saya seperti ibu anda atau Adik Anda?" tanya Dara.
Abdul tidak menjawab pertanyaan dari Dara, seketika pria itu meminta untuk membuatkan dua pakaian yang sudah dia pilih. "Tolong ukur pakaian ini sesuai ukuran wanita itu." pinta Abdul yang kemudian menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengatakan kepada mbak Tri dan Dara agar mengikuti mereka ke suatu tempat.
"Kami akan diajak ke mana, Tuan?" tanya Mbak Tri.
"Tuan mengundang kalian untuk makan." jawab pengawal Abdul.
"Ini makan sendiri atau dibayarin Mbak?" tanya Dara yang tiba-tiba sedikit ngilu setelah mendengar cerita dari Mbak Tri.
"Kalau kita disuruh bayar berarti pria itu benar-benar sangat keterlaluan." jawab Mbak Tri yang kemudian menarik di sebuah ruangan istimewa yang sudah dipersiapkan oleh Abdul.
Sesaat kemudian terlihat mereka makan di sebuah tempat, sebuah ruangan yang begitu istimewa bahkan sebuah tempat yang tidak akan pernah dipikirkan oleh Dara.
"Silahkan makan, Jika kalian ingin makan." ucap Abdul yang kemudian meminta pelayan untuk mempersiapkan makanan.
Entahlah apa yang terjadi, namun pria itu mengundang mereka untuk makan jadi mbak Tri tidak mungkin menolak keinginan dari pelanggannya tersebut. beberapa makanan yang bernilai sangat fantastis Hal itu membuat Dara ataupun mbak Tri menelan ludah mereka.
"Kalau kita makan membayar sendiri bisa ludes bayaranku selama 1 tahun." ucap Dara yang membuat Mbak Sri menganggukkan kepalanya.
"Jangan khawatir, aku yang membayarnya Jadi kalian tidak usah memikirkan membayar makanan ini." ucap Abdul dengan suara yang begitu keras hingga membuat Dara benar-benar sangat terkejut.
"Ya ampun mister, ngomongnya kok keras banget ya. untung saja piring sama sendok ini tidak melayang." ucap Dara yang kemudian melahap makanannya. terlihat Abdul menatap Dara dengan tatapan mata yang benar-benar begitu intens.
Hari ini benar-benar hari yang melelahkan, setelah pertemuan itu akhirnya mbak Tri dan Dara kembali ke butik. Sore sudah berganti malam terlihat di butik sudah ada Bastian yang menunggu kedatangan sang istri.
"Kamu sudah lama, Mas?" tanya Dara kepada sang suami.
"Barusan datang Sayang." jawab Bastian kemudian membuka pintu mobil.
"Bastian, aku nebeng. aku tadi nggak bawa mobil mobilku ada di bengkel." ucap mbak Tri yang kemudian membuka pintu sendiri.
"Arah Kita akan berbeda, kenapa aku harus mengantarmu?" tanya Bastian.
"Kamu itu pelit amat sih, jadi orang itu jangan pelit. kalau pelit apa kamu mau kuburanmu sempit." canda mbak Tri yang membuat Dara hanya mampu menggelengkan kepalanya.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian
- Terlempar ke dimensi kerajaan