I LOVE YOU UNCLE BASTIAN

I LOVE YOU UNCLE BASTIAN
Pria itu lagi



Sekitar 2 jam kemudian terlihat seorang pria berdiri di depan sebuah kamar.


"Bos, cepatlah masuk." pinta Budi kepada Dirga.


"Kamu tahu sendiri kan aku tidak suka disuntik, kamu ini mau mencari masalah denganku?!" teriak Dirga yang benar-benar marah kepada orang kepercayaannya.


"Tapi, kalau tidak disuntik Bos itu lukanya tidak akan cepat kering. lagian Dokter bilang kan harus disuntik." ucap Budi.


"Tapi aku tidak suka disuntik, kalau kamu mau kamu gantikan aku yang disuntik. biar aku tidak melakukannya." jawab Dirga.


Walaupun Dirga adalah seorang pria yang terkenal karena sikapnya yang benar-benar sangat keras, Namun ternyata pria itu memiliki sesuatu yang dia takuti.


"Ayolah bos, masa bos takut disuntik. jarum itu tidak sakit Bos." ucap Budi.


"Enak aja kamu bilang seperti itu, sana kamu gantikan aku. kamu yang disuntik!!" bentak Dirga.


"Bos ini malu-maluin deh, apa Tidak malu sama para perawat cantik yang dari tadi tersenyum melihat Bos." ucap Budi.


"Biarin aja, Ngapain juga aku harus malu." jawab Dirga sambil memalingkan wajahnya. padahal dalam hati Dirga juga malu dengan semua yang dia lakukan, tapi bagaimana lagi Dirga sangat takut dengan jarum suntik hingga membuat bulu kuduknya berdiri semua jika berhadapan dengan jarum suntik.


"Bos, Kalau bos ke rumah sakit lalu bagaimana caranya bis dirawat?" tanya budi Yang benar-benar penasaran.


"Itu urusanku, jangan tanya-tanya." jawab Dirga dengan nada suara yang ketus, bahkan terlihat sangat tidak menyukai pertanyaan Budi.


"Pria tampan, kaya, menawan di puja banyak cewek tapi takut jarum suntik, ini Bos kok aneh banget sih." guman Budi dalam hati yang kemudian terdiam sembari menatap Dirga dari ujung kepala samping ujung kaki.


"Nona Dara!" Panggil salah satu perawat yang membuat Dara menjawab dengan nada suara yang begitu keras dari dalam ruangannya.


"Iya suster." jawab Dara.


Dirga yang sedang marah-marah kepada Budi nampak pria itu sangat penasaran dengan nama yang dipanggil oleh salah satu perawat.


"Dara itu Dara Siapa?" tanya Dirga kepada Budi.


"Ya tidak tahu Bos, itu darah siapa? apa mungkin ada salah satu pasien yang membutuhkan banyak darah." jawab Budi.


"Kamu itu telinganya di mana sih, itu perawat memanggil nama seseorang dan nama orang itu Dara bukan darah berwarna merah, itu Dara manusia nama..,nama." Dirga yang benar-benar kesal dengan kata-kata yang diucapkan oleh Budi.


Terlihat Budi hanya memanyunkan bibirnya, pria itu terkadang kesal dengan semua ucapan dari Dirga. "Dara siapa sih Bos?" tanya Budi.


"Jangan-jangan Itu darah yang aku cari selama ini." ucap Dirga.


"Gadis yang mana?" tanya Budi kembali.


"Itu pelayan cafe yang benar-benar membuatku jatuh hati itu." jawab Dirga.


"Si cantik itu?" tanya Budi.


"Iya, siapa lagi." jawab Dirga yang kemudian berjalan mengikuti salah satu perawat yang sudah masuk ke salah satu ruangan. Dirga benar-benar penasaran dengan sosok yang bernama Dara. apa benar dia darah yang seperti dia pikirkan atau orang lain.


"Mbak Dara," Panggil perawat kembali.


"Iya suster." jawab Dara.


"Mungkin Mbak Dara harus menginap di sini untuk satu hari, karena benturan yang ada di kepala Mbak Dara belum diperiksa oleh dokter." ucap perawat.


"Kenapa harus menginap, suster?" tanya Dara.


"Iya suster, emangnya ada apa?" tanya Pak Rusdi.


"Tidak apa-apa Pak, cuma ingin memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi." jawab Seorang perawat.


Terlihat Dara tersenyum agar Pak Rusdi merasa tenang. "Tenanglah Pak, Dara tidak apa-apa kok. dokter kan ingin memastikan kondisimu baik-baik saja." ucap Dara.


"Dara, bapak juga akan menemanimu di sini." ucap Pak Rusdi.


"Ternyata benar itu si cantik yang membuatku jatuh cinta." ucap Dirga yang tersenyum sembari menatap Dara.


Sekarang Dirga ada di ruangan Dara, bukannya merasa takut dengan jarum suntik malah Dirga tersenyum begitu menawan saat melihat Dara yang ada di rumah sakit.


"Ya ampun...,ternyata benar Budi." ucap Dirga.


"Ada apa Bos?" tanya Budi.


"Ternyata dia benar si cantik." jawab Dirga yang terlihat tersenyum seperti seorang bocah kecil yang bertemu pujaan hatinya.


"Ini orang kok aneh banget ya, tadi buru-buru minta pulang sekarang malah di depan kamar ini tersenyum seperti seorang pria yang ketemu sama bininya." ucap Budi yang benar-benar mengelus dadanya.


Langkah kaki Dirga terlihat memasuki ruangan tersebut, Dara yang sedang berbicara dengan Pak Rusdi nampak wanita itu menoleh karena ada suara langkah kaki masuk ke dalam ruangannya. seorang pria yang beberapa waktu lalu terus menggodanya.


"Kamu?" ucap Dara .


"Hai." jawab Dirga.


"Kamu lagi ngapain Di Sini?" tanya Dara.


Dirga tidak menjawab, pria itu terlihat tersenyum sembari menggoyangkan tubuhnya. tatapan mata Dara menatap ayahnya. Pak Rusdi terlihat menatap seorang pria yang sudah berada di ruangan putrinya.


"Siapa dia, Dara?" tanya Pak Rusdi.


"Nggak tahu pak, itu kayaknya salah satu pelanggan yang ada di cafe Om Bastian." jawab Dara.


Dirga tidak mengeluarkan sepatah katapun, terlihat pria itu hanya tersenyum sembari menatap Dara yang berbicara dengan seorang pria tua.


"Siapa pria itu?" tanya Dirga kepada Budi.


"Tidak tahu Bos." jawab Budi.


Langkah kaki Dirga berjalan memasuki ruangan Dara, terlihat pria itu menatap Dara dengan tatapan mata yang benar-benar ingin mencari tahu mengenai sosok pria yang bersama dengan Dara.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dirga.


"Aku?" tanya Dara balik.


"Iya, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dirga sambil tersenyum.


"Kamu lihat sendiri kan kalau tubuhku ini penuh luka, masa gitu tanya terus. kamu nggak punya mata ya." jawab Dara dengan nada bicara yang sedikit menjengkelkan.


"Ya mungkin aja Kamu lagi ngapain di sini." ucap Budi.


"Hello om-om, dengarkan aku baik-baik ya. Apa kalian itu tidak lihat kalau aku itu sedang terluka, kalau orang terluka memang ada di rumah sakit kalau orang tidak terluka jalan-jalan pastinya dia ke pusat perbelanjaan, kalian itu kalau bertanya tanyalah pada tempatnya Jangan menanyakan sesuatu yang tidak pada tempatnya." jawab Dara yang membuat Dirga hanya tersenyum sembari menggoyangkan tubuhnya.


"Ya ampun, gadis ini benar-benar membuatku tergila-gila. kata-katanya begitu pedas wajahnya begitu menarik, Ya ampun aku bisa-bisa meletus di sini. aku seperti gunung yang siap meledak." guman Dirga dalam hati yang sembari menatap darah yang terus menatapnya.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Mawar hitam berduri


- I love you uncle Bastian