
"Pak, bapak sudah makan belum?" tanya Dara kepada pak Rusdi.
"Sudah," jawab pak Rusdi.
"Mas itu habis dari mana, kok sampai masuk angin?" tanya Bastian kepada Pak Rusdi.
"Biasa, sudah tua Bastian. kena air hujan sama kena angin aja udah seperti ini." jawab Pak Rusdi.
"Ya tentu aja Mas Rusdi udah tua, Dara aja udah dewasa." ucap Bastian sambil tersenyum kemudian pergi ke kamar mandi.
Pak Rusdi sangat yakin kalau Bastian memiliki perasaan kepada Dara, namun untuk saat ini Pak Rusdi tidak ingin menanyakan hal itu kepada Bastian. Pak Rusdi ingin semuanya berjalan dengan normal. Pak Rusdi ingin Bastian selalu berada di samping Dara dan selalu memberikan keamanan bagi Putri angkatnya itu.
"Pak, Bapak." Panggil Dara.
"Iya Dara." jawab Pak Rusdi.
"Kok obatnya belum diminum?" tanya Dara.
"Sudah, Bapak tadi sudah minum. masak disuruh minum terus sih?" ucap Pak Rusdi yang membuat Dara menunjukkan satu-obat yang Kelihatannya tidak ada ketahui.
"Lalu, ini obat apa, Pak? kok Dara tidak pernah lihat obat ini?" tanya Dara yang menunjukkan obat yang seharusnya disembunyikan oleh Pak Rusdi.
Dengan segera Pak Rusdi langsung mengambil obat itu dari tangan Dara. "Oh obat ini ya." ucap Pak Rusdi.
"Memangnya itu obat apa sih, kok langsung disembunyiin?" tanya Dara.
"Bukan ini kemarin itu obat yang salah dikasih sama dokternya, nama pasiennya sama-sama nama bapak jadi Bapak ditelepon diminta untuk tidak meminum obat ini." jawab Pak Rusdi.
Entah apa yang disembunyikan oleh Pak Rusdi, namun dara tidak akan pernah menuduh Ayahnya itu akan membohonginya.
Bastian yang dari kamar mandi kemudian pergi ke dapur. "Dara." Panggil Bastian.
"Iya ada apa, Om?" jawab Dara .
"Ambilin om makanan dong, Om lapar." ucap Bastian yang kemudian memasak air.
"Om ini lagi ngapain sih?" tanya Dara.
"Om lagi membuat kopi." jawab Bastian yang kemudian membuat dua cangkir kopi susu. Bastian selalu saja bergantung kepada gadis muda itu, bahkan pria itu seolah tidak tertarik pada wanita manapun selain Dara.
BRETTTT....
ponsel Dara yang ada di ruang tamu sudah berbunyi, Pak Rusdi melihat ponsel itu tertera di sana ada panggilan dari pria bernama Ferdi.
"Dara, ponselmu berbunyi!" seru Pak Rusdi.
"Dari siapa ya Pak?" tanya Dara kepada Pak Rusdi.
"Ini namanya Ferdi." jawab Pak Rusdi.
seketika Dara menghampiri ayahnya, mengambil ponselnya yang memang itu ada panggilan dari Ferdi.
"Iya ada apa, Ferdi?" Dara yang menjawab panggilan telepon dari Ferdi.
"Hari ini kamu ada acara nggak? Bagaimana kalau kita keluar jalan-jalan?" tanya Ferdi kepada Dara.
"Nggak tahu sih, soalnya aku nggak mau keluar bapakku lagi nggak enak badan." jawab Dara.
Bastian yang mendengar Dara menjawab seperti itu seketika pria itu tersenyum, Itu artinya Dara tidak akan keluar bersama dengan pria yang menjadi murid dari Bastian.
"Kamu mau ke mana, Dara?" tanya Bastian kepada Dara.
"Ya nggak mau kemana-mana, Om. Memangnya mau ke mana?" jawab Dara.
Sesaat kemudian ponsel Bastian juga berdering, pria itu menatap ponselnya kemudian melempar ponsel itu ke sofa ruang tamu.
"Siapa yang telepon, Om. Kok dilempar?" tanya Dara kepada Bastian.
"Orang nggak penting." jawab Bastian.
Dara nampak melihat ponselnya di sana ada sebuah nama yang tertera yang tidak lain adalah Sarah. "Pacar Om telepon tuh." ucap Dara.
"Dia bukan pacarku, jangan pakai mengatakan hal itu." ucap Bastian.
"Itu bukan urusan Om." jawab Bastian yang kemudian memberikan secangkir kopi susu kepada Pak Rusdi.
Tatapan mata Pak Rusdi terus menatap Apa yang dilakukan oleh Bastian, pria itu tidak pernah bersikap sesederhana itu kepada seorang wanita. sikapnya kepada orang lain pria atau wanita itu tidak pernah menyenangkan, berkata hanya sedikit berinteraksi hanya sedikit.
BRETTTT....
ponsel Bastian terus berdering.
"Om angkat ponselnya, kalau tidak diangkat Aku yang angkat." ucap Dara.
"Angkat aja, kamu bilang yang punya ponsel orangnya lagi pergi entah ke mana!!" seru Bastian yang kemudian mengambil makanan yang sudah dimasak oleh Dara.
"Ini orang kok nyebelin banget sih, dia itu dulu lahir dari mana sih." gerutu Dara yang kemudian mengambil ponsel Bastian dan menjawab panggilan telepon tersebut.
TUT...
Dara sudah menjawab panggilan ponsel dari seorang wanita. "Sayang, kamu ini di mana saja sih. aku dari tadi menelponmu loh!" seru seorang orang wanita yang membuat Dara langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.
"Pakai malu-malu kucing, padahal wanita ini selalu memanggil dia sayang." ucap Dara yang membuat Bastian memalingkan wajahnya.
Sarah yang berada di tempat lain nampak wanita itu terus menelpon Bastian tanpa lelah sama sekali, dia terus mengoceh panjang lebar kali luas kali lain sebagainya.
"Halo." ucap Dara yang membuat Sarah yang berada di tempatnya langsung terdiam.
"Ini siapa siapa ya, kok kamu menjawab panggilan telepon pacarku!" teriak Sarah.
Dara yang memang sedikit jahil seketika wanita itu melakukan sesuatu.
"Halo, kamu ini siapa ya?" tanya Dara.
"Aku ini pacarnya Bastian, kamu siapa berani sekali kamu menjawab telepon orang lain!" teriak Sarah.
"Maaf ya, Seharusnya aku yang mengatakan hal itu. aku ini pacarnya Bastian, Kenapa kamu bilang kamu pacarnya. Oh my God, jangan-jangan kamu selingkuhannya ya, jadi pria itu selingkuh dariku ya!!" seru Dara dengan ekspresi yang benar-benar begitu nyata.
Pak Rusdi yang melihat hal itu nampak pria itu hanya menggelengkan kepalanya. "Sebentar, apa yang kamu katakan itu akan membelenggu dirimu, kamu akan terjebak pada ucapanmu sendiri." guman Pak Rusdi dalam hati.
Bastian sendiri yang mendengar kata-kata untuk ucapkan oleh Dara terlihat pria itu sedikit bangga dan begitu senang, Bastian berdiri kemudian menepuk dahi Dara .
"Sudah, matikan ponselnya." ucap Bastian yang kemudian mematikan ponselnya.
Sarah yang berada di lain tempat nampak Wanita itu benar-benar sangat kesal dengan semua yang dilakukan oleh Bastian kepadanya. senyum yang begitu menawan di tunjukkan oleh Bastian. sore itu akhirnya Bastian benar-benar menghabiskan waktu di rumah Pak Rusdi.
"Kamu sedang ngapain Dara?" tanya Bastian.
"Ini loh Om, lagi membuat desain pakaian." jawab Dara.
"Memangnya kamu bisa mendesain pakaian?" tanya Bastian kepada Dara.
"Bisa sih." jawab dara.
Seketika Bastian duduk di samping Dara, pria itu terlihat menatap gambar yang dibuat oleh Dara.
"Lebih baik warnanya ini jangan terlalu cerah, kalau terlalu cerah seperti bibirmu yang merah merona." ucap Bastian yang membuat Dara mencibirkan bibirnya.
"Kata-katanya selalu membuatku kesal dan jengkel." ucap Dara tak berselang lama. akhirnya Bastian berpamitan kepada Pak Rusdi.
"Kamu mau ke mana, Bastian?" tanya Pak Rusdi.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian