
Setelah mendengar perkataan dari Husna tentu saja Pak Rusdi sangat tahu bagaimana hati Dara.
"Maafkan saya pak, tapi saya tidak bisa menyalahkan putri saya atas apa yang dia lakukan. tapi jika anda ingin menghukum putri saya maka berikan saja hukuman itu kepada saya." ucap Pak Rusdi.
"Mengapa bapak ini selalu melindungi Dara, padahal yang saya tahu kalau Dara itu bukanlah anak bapak?" tanya Della.
"Orang luar mungkin tidak bisa satu darah dengan kita, Dara yang kental dengan kita tidak menjamin dia akan baik kepada kita. orang asing bisa menjadi keluarga namun keluarga bisa menjadi orang asing." jawab Pak Rusdi.
Pak rektor yang mendengar kata-kata yang begitu bijaksana keluar dari mulut Pak Rusdi membuat pria itu nampak tersenyum. "Kenapa Anda mengatakan hal itu, Tuan?" tanya pak rektor.
"Saya dan Dara Memang tidak mempunyai hubungan darah, tapi bagi saya Dara adalah anugerah yang sangat istimewa. anak yang dikirimkan oleh tuhan kepada saya, seorang putri yang tidak pernah saya miliki. namun Dara adalah jiwa Saya, jantung saya dan segalanya. Dia memang bukan putri saya tapi dialah pemberi nafas kepada saya." jawab Pak Rusdi yang membuat Pak rektor tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Della yang ingin mengatakan sesuatu pun nampak Gadis itu langsung terdiam.
"Baiklah kalau begitu, karena awal dari kesalahan ini Dari Della dan Jena, maka untuk 2 minggu yang akan datang kalian Bapak skor sedangkan Dara, saya minta kamu untuk tidak melakukan hal ini lagi." pinta pak rektor.
Dara menganggukkan kepalanya, gadis muda itu nampak memeluk Pak Rusdi dengan begitu erat. pak Rusdi adalah dunianya, harapannya dan semua mimpi-mimpi Dara.
"Kenapa Bapak harus ke sini?" tanya Dara.
"Kenapa tidak boleh? Bapak ingin melihat putri Bapak." jawab Pak Rusdi yang membuat pak rektor benar-benar terenyuh dengan kedekatan dua orang yang tidak mempunyai hubungan darah namun mereka adalah contoh yang luar biasa.
"Baiklah kalau begitu, Pak rektor saya pamit pulang dan mohon maaf atas apa yang dilakukan oleh putri saya." ucap Pak Rusdi yang membuat Pak rektor hanya mampu menganggukkan kepalanya.
Tidak akan ada contoh kehidupan sebaik Pak Rusdi dan Dara, tidak ada hubungan darah namun Mereka berdua adalah sebuah kebaikan. sebuah contoh bahkan sebuah gambar keindahan dari dunia.
"Di mana Bastian? tumben sekali Dia tidak tahu kalau kamu dipanggil di kantor Pak rektor?" tanya Pak Rusdi kepada Dara.
"Om Bastian lagi di cafe, Pak." jawab Dara.
"Pantas aja aku tidak lihat batang hidungnya, kalau dia dengar kamu dalam masalah biasanya kan dia langsung nongol. Kok tumben sekali ini orangnya tidak nampak." ucap pak Rusdi yang membuat Dara tersenyum.
Husna yang melihat semua yang terjadi itu gadis muda itu ingin memperbaiki hubungannya dengan orang tuanya, keinginan yang tidak bisa digapai oleh Husna membuat Husna menjauh dari keluarganya. namun ketika melihat hubungan antara Dara dan Pak Rusdi Hal itu membuat Husna memikirkan apa yang harus dia lakukan. seharusnya dia tidak melakukan sebuah kebodohan yang mungkin akan membuatnya semakin menderita.
Siang itu akhirnya Dara pulang bersama sang ayah, terlihat mereka berdua ingin berjalan-jalan di sekitar pasar tradisional untuk membeli beberapa makanan.
"Pak, Bapak ingin makan apa?" tanya Dara kepada bapaknya.
"Jangan yang goreng-gorengan, nanti bapak asam uratnya kambuh lagi." jawab Pak Rusdi yang membuat Dara tersenyum.
"Bapak ini kok punya penyakit seperti itu sih, Memangnya dulu Bapak ngapain aja?" tanya Dara yang membuat Pak Rusdi kembali tersenyum.
Tak berselang lama terlihat sebuah mobil yang melaju begitu kencang, mobil berplat tidak terlihat itu melaju ke arah Pak Rusdi dan Dara. Pak Rusdi dan Dara berbincang-bincang tanpa melihat kanan dan kiri namun sebuah mobil keluaran lama itu langsung melesat ke arah Dara dan Pak Rusdi hingga membuat beberapa orang yang berjalan di dekat mereka berdua langsung berteriak untuk memperingatkan.
"Minggir!!!" teriak orang-orang.
Dara menoleh, terlihat tatapan mata Dara menatap sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya.
"Awas Pak!!" teriak Dara yang kemudian menarik tubuh Pak Rusdi.
BUK..
Dara tersungkur di aspal jalanan hingga membuat tangan dan kakinya terluka cukup parah, sedangkan mobil yang hendak menabrak Dara itu ternyata menabrak trotoar hingga terhenti ketika tiang listrik yang ada di tepi jalan itu ikut menghadang.
BRAKK...
mobil itu menabrak tiang listrik, terlihat Kepulan asap mulai keluar dari dalam mobil. Dara yang terluka membuat Gadis itu langsung berdiri sembari melihat Pak Rusdi yang terluka di bagian tangannya.
"Bapak tidak apa-apa, kamu bagaimana?" tanya Pak Rusdi.
Dara menggelengkan kepalanya, walaupun tangan dan kakinya terluka namun Dara tidak ingin menunjukkan luka itu kepada bapaknya.
"Dasar orang tidak punya mata!" seru beberapa orang yang berjalan ke arah mobil yang sudah menabrak tiang listrik itu.
Seorang pria nampak keluar dari dalam mobil, mungkin usianya sekitar 35 sampai 40 tahun tersebut. "Pergi Kalian!!" teriak si pria.
"Kamu itu sudah hampir menabrak orang, bukannya meminta maaf malah berteriak seperti itu!" seru para pejalan kaki.
Tak ada kata yang keluar dari mulut si pria, namun salah satu dari pejalan kaki melihat pria itu ingin melarikan diri.
"BRUKK..," seorang pria langsung menangkap si pria. "Jangan-jangan kamu memang mau menabrak dua orang itu ya? Sekarang kamu mau melarikan diri!!" teriak para pejalan kaki.
"Lepaskan, ini hanyalah kecelakaan Mana mungkin aku ingin membunuh wanita itu!" teriak si pria.
"Kalau begitu kamu harus bertanggung jawab!" seru para pejalan kaki.
Akhirnya orang yang hendak menabrak Dara itu dibawa ke kantor polisi oleh para pejalan kaki, sedangkan Dara dan Pak Rusdi diantar oleh seorang pria ke rumah sakit terdekat.
"Bapak yakin Bapak tidak apa-apa?" tanya Dara yang benar-benar takut terjadi sesuatu kepada Pak Rusdi.
"Bapak yakin, tapi kamu tidak apa-apa juga kan?" tanya Pak Rusdi balik.
"Tidak apa-apa Pak, Dara cuma lecet saja." jawab Dara.
setelah mendengar jawaban dari Dara, Pak Rusdi benar-benar tidak percaya. pria itu seketika menarik tangan Dara dan terdengarlah suara kesakitan yang keluar dari mulut Dara.
"Dokter, dokter!" seru Pak Rusdi.
"Iya Pak." jawab beberapa perawat.
"Tolong kamu periksa putriku." pinta Pak Rusdi.
"Aku tidak apa-apa Pak." jawab Dara.
"Tidak mungkin, kamu tadi membentur aspal jalanan." jawab Pak Rusdi.
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Pak Rusdi, Dara mengalami luka di bagian tangan kaki dan benturan bagian kepala yang ternyata mengeluarkan darah.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian