
** Dua hari kemudian **
"Paket!!" seru seorang pria yang sedang berdiri di luar pintu pagar rumah Bastian.
"Ya Pak." jawab Bastian.
"Paket untuk nyonya Dara!!" seru pengantar paket.
"Paket untuk saya?" tanya Dara.
"Ya paket untuk Anda." jawab pengantar paket.
Sesaat kemudian Dara menerima bingkisan paket yang diantar oleh pengantar paket, di sana tidak tertera nama siapapun. sesaat kemudian Dara menelpon Bastian dan menanyakan mengenai hadiah yang sudah terkirim.
"Mas, Hari ini kamu mengirim aku bingkisan?" tanya Dara kepada sang suami.
"Tidak sayang," jawabvBastian yang sedang berada di cafe.
"Ini ada sebuah paket yang barusan datang ke tempat kita." jawab Dara.
"Lalu, Siapa yang mengirimnya, sayang?" tanya Bastian.
"Entahlah Mas, aku jadi agak khawatir." jawab Dara yang membuat Bastian langsung memutuskan untuk segera kembali ke rumahnya.
Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada istri dan bayi yang ada di kandungan sang istri, apalagi Bu Sri sudah mengatakan kalau mantan suaminya menargetkan Dara sebagai targetnya Karena dia sudah kehilangan putranya.
Dengan segera Bastian keluar dari Cafe kemudian kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, Bastian menelpon Bu Sri dan meminta wanita itu untuk melihat Dara yang sedang berada di rumah. Bu Sri yang mendapatkan kabar seperti itu tentu saja dia langsung berlari sekencang mungkin, karena dia tidak ingin tiba-tiba orang-orang yang ingin berbuat jahat padanya melakukan sesuatu kepada Dara.
GREPP...
Seketika Bu Sri langsung menarik sebuah bingkisan paket yang sudah berada di tangan Dara. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Dara.
"Bastian tadi menelpon Ibu, katanya Ibu harus melakukan sesuatu. ibu tidak ingin terjadi sesuatu padamu." jawab Bu Sri yang kemudian langsung menyobek kertas yang menutupi bingkisan tersebut. ketika kertas kado itu dibuka terdapat kotak kado di dalamnya, Bu Sri membuka kotak kado itu, sesaat kemudian wanita itu melihat pakaian yang terdiri dari beberapa warna.
"Apa ini?" tanya Bu Sri.
Dara yang melihat hal itu seketika dia langsung tersentak. "Ini kan pakaian yang aku rancang." ucap Dara.
"Maksudmu?" tanya Bu Sri.
"Ini pakaian yang beberapa hari lalu aku rancang dan sudah diantarkan ke tempat seseorang." jawab Dara.
"Tapi, kenapa dikirimkan kemari lagi?" tanya bu Sri.
"Aku tidak tahu, memangnya aku yang mengirim." jawab Dara.
"Jangan melakukan sesuatu, ibu akan melempar barang ini keluar takutnya ada sesuatu yang akan mengancam." ucap bu Sri yang kemudian langsung melempar bingkisan tersebut keluar rumah dan wanita itu segera berlari ke dapur untuk mengambilkan Dara segelas air putih.
"Minumlah dahulu." pinta Bu Sri.
"Buat apa?" tanya Dara.
"Minumlah air ini agar kamu tidak terlalu ketakutan." jawab Bu Sri.
Setelah mengatakan hal itu akhirnya bu Sri duduk bersama dengan Dara, sekitar beberapa menit kemudian Bastian sudah kembali dari Cafe dan melihat sang istri yang berada di ruang tamu bersama Bu Sri.
"Bagaimana kondisimu, Sayang?" tanya Bastian.
"aku baik-baik saja Mas." jawab Dara
"Lalu, di mana barang itu?" tanya Bastian.
"Barangnya ada di luar, Bastian. kata Dara barang itu adalah pakaian yang didesain oleh Dara beberapa hari yang lalu. Tapi anehnya barang itu malah dikirim kembali kepada Dara." jawab Bu Sri.
"Ada apa Bastian?" tanya Mbak Tri.
"Oh ya Tri, pakaian hamil yang di desain oleh istriku beberapa waktu yang lalu, Apakah sudah dikirim?" tanya Bastian.
"Bukannya dikirim, tapi diambil oleh anak buah si pemilik pakaian." jawab Mbak Tri.
"Lalu, Apakah kamu tahu siapa orang yang membeli pakaian itu dan di mana alamatnya?" tanya Bastian kepada mbak Tri.
"Aku tidak tahu, Bastian. Karena orang itu tidak memberikan nama atau alamatnya, dia hanya meminta pakaian seperti yang dia inginkan kemudian membayar dengan lunas. sudah itu aja." jawab Mbak Tri yang membuat Bastian sedikit kebingungan.
"Apakah orang itu pernah menelponmu atau ketemu? apa kamu tahu ciri-ciri dari pria itu, Tri?" tanya Bastian kembali.
"Aku tidak tahu, Bastian. waktu itu dia hanya meneleponku kemudian meminta anak buahnya untuk membuatkan pakaian itu dengan ukuran seorang wanita hamil. setelah itu sudah pria itu membayar dengan lunas." jawab Mbak Tri.
"Apa kamu yakin?" tanya Bastian.
"Tentu saja yakin, Bastian. Memangnya ada apa?" tanya mbak Tri yang sedikit kebingungan dengan semua pertanyaan yang diajukan oleh Bastian.
"Pakaian itu berjumlah 4 kan?" tanya Bastian..
"Benar, memangnya ada apa?" tanya mbak Tri.
"Pakaian itu dikirimkan kembali kepada istriku dan ada tulisan yang mengatakan Gadis cantikku Semoga kamu menyukai hadiahku ini." jawab Bastian yang membuat mbak Tri langsung menghentikan seluruh aktivitasnya yang ada di butik.
"Tunggu dulu, Bastian. Tunggu aku 40 menit aku pasti sampai di rumahmu, jangan kemana-mana jangan diapa-apakan baju itu dan jangan lupa tolong siapkan makanan untukku karena dari tadi pagi aku belum makan." ucap mbak Tri yang kemudian membereskan barang-barangnya dan langsung keluar dari butik tempatnya.
Sekitar 40 menit kemudian Mbak Tri benar-benar sudah sampai di tempat Bastian, wanita itu membuka mobilnya dengan tergesa-gesa kemudian masuk ke dalam rumah Bastian.
"Dara!" panggil Mbak Tri.
Dara, Bastian dan Bu Sri berada di ruang tamu, nampak wanita itu melihat ketiga orang itu menatap 4 pakaian yang memang didesain oleh Dara dan dijahit oleh pegawainya.
"Ini kan pakaian yang kamu desain waktu itu, Dara?" tanya Mbak Tri.
"Karena itu Tri, aku bilang padamu apa? tadi pakaian ini dirancang oleh istriku dan dikirimkan, tapi kenapa malah pakaian itu kembali lagi ke tempat istriku dan lihatlah tulisan yang ada di kertas ini." ucap Bastian yang membuat mbak Tri langsung membaca sebuah tulisan tangan dari seseorang.
"Ini kayak surat berantai." ucap mbak Tri yang membuat Bastian langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku minta alamat orang itu." minta Bastian kepada mbak Tri.
"Aku kan sudah bilang aku tidak punya alamat orang itu, lagian orang itu mengambil barangnya menyuruh anak buahnya. Jadi kami tidak tahu di mana tempatnya, di mana rumahnya Bahkan aku juga tidak tahu bagaimana wujud dan tampangnya." jawab Mbak Tri yang membuat Bastian langsung memijit ke kepalanya.
"Seharusnya kamu itu kalau ada orang yang memesan pakaian tanyakan dengan benar dimana rumahnya, alamatnya dan seperti apa tampangnya." cibir Bastian yang kemudian menelpon Toni.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian
- Terlempar ke dimensi kerajaan