I LOVE YOU UNCLE BASTIAN

I LOVE YOU UNCLE BASTIAN
Jena dan Della mendapatkan pelajaran



"Oh no." ucap Jena ketika dia melihat yang dia siram bukannya Dara dan Husna melainkan 3 ibu-ibu yang lewat ke tempat itu.


"Apa yang telah kalian lakukan, berani sekali kaliab melakukan hal ini pada kami!!" teriak 3 ibu-ibu dengan suara yang benar-benar begitu kencang luar biasa.


Jenna dan Della nampak menutup mulut mereka, mereka benar-benar sangat terkejut mereka tidak akan pernah mengira yang mereka siram bukanlah Dara tapi tiga emak emak yang lewat di tempat itu.


"Oh no..," ucap Jena.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Della.


"Berani sekali kalian menyiram kami dengan air berbau ini!!" teriak ibu-ibu yang begitu marah. ketiga ibu-ibu itu bisa mencium bau selokan yang benar-benar menusuk hidung mereka.


Dara yang berada di belakang tentu saja wanita itu akan melakukan sesuatu, langkah kaki Dara berjalan mendekati ibu-ibu yang sudah disiram oleh Jena dan Della.


"Ya ampun Bu, kenapa kalian seperti ini?!" seru Dara yang terlihat akan memercikkan kobaran api semakin membesar.


"Dua anak brengsek ini sudah menyiram kami!" seru salah seorang ibu.


"Ya ampun Bu, baunya busuk banget." ucap Dara sambil menutup hidungnya.


"Tentu saja, Lihatlah muka kami seperti apa." ucap ibu-ibu.


"Ya Tuhan..., muka kalian benar-benar menakutkan, Bu." jawab Dara.


Setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Dara, tentu saja ketiga ibu-ibu itu semakin murka luar biasa.


"Apa yang harus kita lakukan, Jena?' tanya Della sambil berbisik di telinga Jena.


"Jika kalian sampai berani melarikan diri, awas aja ya. Kami bertiga akan memberikan kalian pelajaran yang tidak akan kalian lupakan!!" teriak tiga ibu-ibu yang sangat marah karena mereka sudah di tiba-tiba disiram oleh dua anak muda.


"Maafkan kami Bu, maafkan kami. kami tidak sengaja." ucap Jena.


"Kalian tidak sengaja? Pasti kalian ingin melakukan sesuatu kepada orang lain kan? karena kami yang lewat kalian mengira kami ini adalah orang itu, bukan?!" teriak salah satu ibu dengan nada suara yang begitu kencang.


Jena dan Della tidak berani menjawab pertanyaan tiga ibu-ibu itu, namun ketiga ibu-ibu itu sudah murka luar biasa. Jena dan Della ditarik oleh ketiga ibu-ibu itu, mereka memukul dua wanita muda itu dengan kedua tangan mereka.


"Rasain kalian ya!!" teriak ibu-ibu.


Jena dan Della benar-benar mendapatkan pembalasan dari 3 ibu-ibu itu, mereka harus berpikir ulang untuk melakukan sesuatu kepada orang lain.


"Ternyata Apa yang kamu pikirkan itu benar, dara." ucap Husna.


"Tentu saja, biarin mereka dipukul sama tiga ibu-ibu itu biar pikiran mereka itu terbuka, punya pikiran kok jahat banget." cibir Dara yang kemudian mengajak Husna pergi dari tempat itu.


BUG...


BUGG...


PLAKK....


PLAKK....


"Tolong, tolong!!!" seru Jena dan Husna yang meminta tolong kepada Dara.


"Ngapain juga aku harus menolong mu, kalian aja pikirannya jahat." jawab Dara yang kemudian meninggalkan Jena dan Della yang sudah dipukuli oleh 3 ibu-ibu tersebut.


"Aduhhhh!!!" suara teriakan terus menggema. 3 ibu-ibu yang sudah marah itu tidak akan membiarkan dua mahasiswi tersebut melakukan sesuatu kepada orang lain lagi.


"Kita bawa saja kedua gadis ini ke kantor polisi!!" teriak salah satu ibu-ibu.


"Benar, biar mereka merasakan bagaimana dinginnya jeruji penjara." jawab ibu-ibu yang lain.


"Jika kalian tidak ingin masuk penjara seharusnya kalian itu tidak melakukan hal ini kepada orang lain!" teriak tiga ibu-ibu.


Hari ini Jena dan Della benar-benar mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat luar biasa, mereka akan mendapatkan apa yang namanya pukulan telak. jika mereka masih tetap saja mempunyai pikiran jahat mungkin mereka akan mendekam di jeruji penjara atau mungkin di suatu tempat.


"Hiks..hiks..," suara tangisan dari dua wanita muda itu membuat ketiga ibu-ibu itu merasa kasihan.


"Kami sudah memotret kalian, jika sampai kalian melakukan sesuatu kepada orang lain.., lihat saja kami akan melaporkan kalian ke penjara." ucap salah satu ibu-ibu.


Jena dan Della terus berakting untuk meyakinkan dua ibu-ibu itu kalau mereka benar-benar sudah bertobat, setelah menangis dan berakting akhirnya ketiga ibu-ibu itu melepaskan Jena dan Della. ketika 3 ibu-ibu itu sudah pergi terlihat Jena begitu marah.


"Lihat saja, aku pasti akan memberi pelajaran kepada wanita brengsek itu." umpat Jena.


"Kita tidak usah memikirkan hal itu dulu ya, wajahku benar-benar sakit karena Ibu-ibu itu menamparku berulang kali." rengek Della yang terlihat terus memegang wajahnya.


Tentu saja Della memegang wajahnya, toh mereka berdua habis dipukuli dan ditampar oleh ibu-ibu galak tersebut.


"Ya sudah kalau begitu, kita pulang dulu." ucap Jena.


"Langkah kaki kedua mahasiswi itu meninggalkan tempat tersebut, di tempat lain Husna dan Dara sudah berada di rumah Pak Rusdi. Husna terus menatap kedekatan antara Pak Rusdi dan Dara, kedua orang itu benar-benar begitu kompak begitu saling menyayangi dengan semua kelebihan dan kekurangan mereka.


"Oh ya darah, Aku pulang dulu ya." ucap Husna.


"Katanya tadi mau main?" tanya Dara.


"Besok aja deh, Ini kan udah agak malam. nanti malah kemalaman." jawab Husna yang membuat Dara mengantarkan Husna keluar dari rumahnya. Setelah mengantarkan Husna pulang Dara kembali masuk ke rumah.


"Dara." Panggil Pak Rusdi.


"Ada apa Pak." jawab Dara.


"Oh ya Dara, apa kamu jadi mau mengambil sekolah jurusan kedokteran?" tanya Pak Rusdi .


"Nggak usah Pak, Dara cuma ngambil D3 saja, Dara kan sudah mengambil jurusan desainer, Dara ingin segera bekerja menjadi desainer pakaian aja loh Pak." ucap Dara.


"Kan kamu waktu itu bilang ingin sekolah kedokteran?" tanya Pak Rusdi.


Memang Dara menginginkan hal itu, namun untuk sekolah di jurusan kedokteran mungkin Dara harus memikirkan ulang. biaya yang memang tidak sedikit membuat Dara tidak ingin terlalu merepotkan bapaknya itu.


"Sudahlah Pak, yang penting Dara akan mencapai cita-cita Dara, Dara tidak Ingin menggapai cita-cita yang memang tidak mungkin Dara gapai. Jadi Bapak jangan terlalu memikirkannya ya." pinta Dara.


Pak Rusdi benar-benar sangat bersyukur mempunyai anak seperti Dara, walaupun gadis muda itu bukan anak kandungnya. Pak Rusdi selalu bersyukur karena dipertemukan dengan gadis bocah berusia 9 tahun tersebut. sebenarnya beberapa hari yang lalu Pak Rusdi tanpa sengaja bertemu dengan Bu Sri, wanita itu sekarang bertambah menjengkelkan. bahkan Bu Sri seperti wanita yang tidak bisa dipanggil ibu sama sekali.


Pak Rusdi tidak ingin Dara mengetahui mengenai kabar itu, Pak Rusdi yakin jika sampai Dara mendengar mengenai kabar ibunya, Dara akan marah. Dara akan kesal luar biasa Seperti ketika Pak Rusdi mengungkit mengenai ibunya.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Mawar hitam berduri


- I love you uncle Bastian