
"Ma, aku bersumpah atas namamu, Ma! Aku tidak pernah berselingkuh, dengan Deffri maupun pria lain, Ma," ucap Emilia berlinang air mata.
"Apakah saat menikah dengannya, kau masih perawan, Nak?" tanya Asih.
"Pertama kali tubuhku mengenal pria hanya dia, Ma!" isak tangis Amelia semakin membuncah, ia merasa begitu terhinanya, *j*ika aku tahu begini lebih baik dulunya aku berselingkuh! umpat batin Emilia sedih, alangkah naifnya hidup ini, lanjut batinnya perih.
"Lalu mengapa Farel megatakan demikian, Nak?" tanya Asih masih saja tidak percaya padanya.
"Ma, aku anakmu, bukan? Kau yang mendidik dan membesarkanku, engkau pasti tahu bagaimana sikap dan sifatku, Ma," balas Emilia tak tahu harus bagaimana lagi. Ia tidak memiliki secuil bukti pun untuk membuktikan banyak hal, ia tidak memiliki apa pun untuk mempertahankan harga dirinya. Semuanya menjadi sangat mengerikan.
Asih menatap putrinya dengan derai air mata, "Syukurlah, Nak! Aku senang mendengarnya," balas Emilia tersenyum, "dan tetaplah menjadi yang tebaik, Sayang. Aku percaya kepadamu! Lailahaillallah …." ujar Asih begitu lembut dengan senyuman menghembuskan napas terakhirnya.
"Mama!" jerit Emilia. Ia tidak menyangka mamanya akan secepat itu meninggalkannya, Emilia tidak memiliki siapa pun lagi, tidak Ayah, mama, anak dan suami. Emilia memeluk Asih menangis sejadi-jadinya.
Mahroni dan Defri menyentuh bahu Emilia, "Mbak yang sabar, ikhlaskan Budhe pergi," lirih Mahroni.
"Yang sabar, Em!" balas Defri.
"Roni … Mbak harus bagaimana ini?" lirih Emilia memeluk Mahroni ia tidak tahu lagi harus bagaimana.
"Sabarlah, Mbak. Mari kita bawa Budhe pulang," ujar Mahroni menenangkan Emilia.
Semua hal diurus oleh Mahroni dan Defri mereka berdualah yang sibuk mengurus banyak hal, menelepon sanak saudara. Mobil ambulans membawa jenazah Asih ke rumah untuk terakhir kali, malam itu juga diadakan prosesi pemakaman diiringi bacaan Al-quran sanak saudara berkumpul bersama jiran tetangga.
Farel datang bersama dengan Hana dan Keano, "Nenek!" isak tangis Keano. Memeluk jenazah nenek dan mamanya.
"Keano, Mama rindu, Nak!" balas Emilia.
"Emilia yang sabar! Ikhlaskanlah kepergian Ibu," ujar Farel dengan lembutnya, Emilia menatap dengan kebencian yang luar biasa. Namun, ia berusaha untuk bersabar karena tak ingin di depan jenazah ibunya mereka bertengkar.
"Terima kasih!" balas Emilia dengan diam.
"Jika kau butuh apa-apa, kau telepon aku saja," balas Farel.
"Terima kasih!" balas Emilia. Ia ingin mengakhiri semua ucapan Farel yang selalu sok baik dan dermawan di depan semua orang.
"Mama, Keano ingin bersama dengan Mama!" lirih Keano.
"Boleh, Sayang! Tinggalah bersama Mama," ucap Emilia memeluk putranya air mata tumpah kembali.
"Keano, ayo, kita pulang!" teriak Farel.
"Aku tidak, mau! Semua ini karena ulahmu! Kau yang membuat Nenekku meninggal, aku tidak mau tinggal bersamamu! Kau bukan Papaku, aku benci padamu!" teriak Keano dengan derai air mata.
"Keano …." Farel sudah mengepalkan tangan ingin menyeret Keano, hanya harga dirinyalah yang membuatnya bertahan dan malu untuk melakukannya, sialan, anak ini! batin Farel. Ia tidak menyangka jika darah dagingnya sendiri akan tega melakukan hal itu.
"Aku rasa, Keano ingin Ibunya. Jadi Pak Farel, ikhlaskanlah. Selain itu, Emilia tinggal sendiri aku rasa wajar jika dia menemani Ibunya," ucap Kepala RT, "lagian anak di bawah umur memang kewajiban seorang Ibu untuk mengurusnya," lanjut Kepala RT. Membuat Farel semakin marah.
"Aku tidak ingin putraku menyaksikan perbuatan bejat Ibunya dengan pria itu!" tunjuk Farel menunjuk ke arah Defri.
"Sudahlah, aku mohon! Jangan bertengkar di depan jenazah Mamaku, Keano pergilah bersama Papamu, Nak!" ucap Emilia, ia tidak ingin kekacauan semakin parah.
"Lihatlah! Wanita ini, tidak ingin mengurus Keano bukan? Jadi, buat apa kalian sibuk membelanya!" hardik Farel, membuat semua orang berkasak-kusuk.
"Aku akan menikahi Emilia, sekarang juga di depan jenazah Ibunya. Agar Keano bisa tinggal bersama kami, jika itu yang kau maksud, masa iddahnya sudah habis bukan?" ucap Defri entah keberanian dari mana ia mengatakan hal itu. Ia benar-benar merasa kasihan melihat nasib Emilia.
"Apa!" balas Emilia sontak terkejut. Ia tidak menyangka jika Defri melakukan hal itu.
"Aku rasa, itu sangat bagus! Aku mendukungmu, Mas!" tukas Mahroni.
"Baiklah, pernikahan kita lakukan sekarang juga, surat-surat akan menyusul," balas Khairul selaku Kepala RT.
"Bagaimana Mbak? Apakah kamu ingin berpisah dengan Keano lagi?" tanya Mahroni. Emilia menggelengkan kepala, "jika tidak, menikahlah dengan Mas Defri," balas Mahroni.
"Ta-tapi … Roni-"
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, pikirkanlah kebahagiaan Keano, Mbak!" balas Mahroni menatap sepupunya.
"Hiks, hiks!" Emilia terisak perih, dia bingung harus berkata apalagi.
"Jika kau akan menikahi pria itu, maka Keano selamanya akan bersamaku, aku tidak akan pernah mengizinkan kamu bertemu dengannya selamanya!" teriak Farel marah.
"Apa?! Jika aku tidak menikah, maukah kau memberikan Keano kepadaku sekarang juga?" tanya Emilia.
"Tentu, saja!" balas Farel dengan egoisnya.
"Baiklah, buatlah hitam di atas putih maka aku akan melakukannya," balas Emilia tegas ia hanya ingin Keano ia tidak peduli jika ia tak akan pernah menikah lagi.
Akhirnya, malam itu Emilia dan Farel menandatangani selembar surat pernyataan jika Farel akan memberikan Keano kepada Emilia asal dia tak menikah lagi, mengerikan sekali.
Setelah menandatangani surat pernyataan Farel dan Hana pulang,
"Seharusnya kau bahagia, Mas! Jika Emilia menikah lagi, mengapa kau marah-marah dan menghalangi pernikahan mereka? Apakah kau masih mencintainya?" teriak Hana, yang mengikuti kepergian Farel ke mobil mereka.
"Apa? aku mencintainya? Cuih! Enak saja, kalau kamu ngomong. Aku tidak pernah mencintai wanita murahan itu," umpat Farel, aku masih mencintainya? Yang benar saja, batin Farel, Aku akan naik banding untuk merebut hak asuh Keano jika dia menikah lagi! sungut Farel marah, syukurlah si bodoh itu tidak jadi menikah, lanjut batin Farel senang.
Semua orang mulai berkasak-kusuk tak jelas bagaikan kumbang di sekitar Emilia, kini ia duduk bersama dengan Keano di depan jenazah Asih dan Defri masih berada di depannya setelah prosesi akad nikah yang ditolak Emilia. Defri masih dengan baiknya menemani Emilia tanpa rasa sakit hati maupun dendam.
Emilia tidak lagi peduli apa yang mereka bicarakan, dia hanya menatap wajah Asih yang tersenyum dengan lembutnya di sana, "Mama, andaikan aku tahu, tadi malam adalah malam terakhir kalinya engkau memelukku! Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan segalanya," bisik Emilia, Ma, maafkan aku yang belum bisa membahagiakan dirimu, Ma! batin Emilia.
Kesedihan menerpa jiwa raga Emilia, Mahroni dan Defri berulang kali memberi semangat kepadanya membuat kedua pria itu langsung akrab. Setelah prosesi pemakaman Asih, Emilia merasakan kebingungan ia sendiri tidak tahu harus bagaimana di rumah besar itu tanpa mamanya lagi.
Ia ingin membereskan semua hal, "Emilia, aku pamit pulang, dulu. Besok aku akan datang lagi, setelah dari kantor," ucap Deffri dengan lembut.
"Terima kasih, Deff! Maaf," ujar Emilia menatap wajah Deffri yang tampan.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Em. Yang penting kamu dan Keano sudah berkumpul kembali aku sudah cukup senang," balas Deffri berlapang dada.