
"Nanti aku akan mengatakan kepada Farel soal uang tunjangannya. Tapi, dengan syarat. Kami akan membiayai Keano jika Keano akan tinggal selamanya dengan kami, jika tidak. Buat apa?" ujarnya.
Hana hanya membuang muka pergi tanpa merasa bersalah sedikit pun, "Mbak, apa yang terjadi?" Mahroni langsung menghampiri Emilia.
"Entahlah, Ron! Mbak lelah rasanya," ujar Emilia masuk ke dalam toko. Keano bermain dengan Deffri dan Mahroni juga Mira. Semua orang sudah bubar, walaupun dengan gosip yang baru lagi yang akan mereka sebarkan.
"Jadi, Mas yang nemuin Mbak Emilia gitu?" tanya Mahroni mulai cemas.
"Iya," Deffri menceritakan segalanya.
Sialan, banget bajingan itu! Lalu Mas Sandi yang menangani kasusnya?" tanya Mahroni.
"Iya, kamu kenal Sandi, Ron?" tanya Defri.
"Iya, lha kami kan satu profesi dan aku kerja di kantor dia Mas," balas Mahroni.
"Oh, pantesan! Syukurlah kalau begitu, kamu bisa menceritakan segalanya sama Sandi mengenai Mbak kamu itu," balas Deffri.
"Iya, Mas. Aku juga udah geram banget lihat Farel dan istrinya, dulu dia yang selingkuh, wajarlah aku rasa jika Mbak Emilia minta pisah. Jarang ada wanita yang akan rela dimadu, apalagi madunya seperti Hana, makan hati berulam jantung!" ucap Deffri kesal.
***
Beberapa hari kemudian, Emilia sedang berada di supermarket. Ia sedang memilih sayur mayur dan keperluan banyak hal, "Emilia," ucap Farel menarik tangan Emilia.
"Farel! Ada apa lagi, sih?" tanya Emilia kesal, "lepaskan atau aku akan berteriak mengatakan kau ingin merampokku!" teriak Emilia kesal.
"Diamlah Emilia! Kau pikir orang akan percaya begitu?" ucap Farel tidak peduli, semua orang memandang ke arah mereka berdua.
"Emilia! Apa yang kau lakukan? Kau selalu saja berusaha untuk merayu Farel! Kamukan tahu jika Farel sudah memiliki seorang istri, kamu nggak tahu malu sama sekali," hardik Janti ibu Farel, yang entah sejak kapan berada di sana.
"Ibu, apakah kau tidak melihat jika tangankulah yang ditarik putramu yang baik itu? Lain kali ganti kacamatamu aku rasa sudah nambah minusnya," balas Emilia kesal.
Janti langsung menatap ke arah tangan Emilio yang dicengkram erat Farel, "Apa yang kau lakukan Farel? Aku sudah bilang wanita ini tidak ada baik-baiknya, kamu saja yang masih saja menemuinya," ucap Janti sengait.
"Ma, diantara kami ada anak yaitu Keano? Wajarkan jika kami masih saling bertemu," balas Farel memberikan alasan.
"Ibu, tolong ajari putramu untuk menjauh dari kehidupanku. Aku sudah nyaman dengan hidupku sekarang, soal Keano … aku tidak pernah melarang kamu untuk bertemu dengan putramu. Tapi, aku tidak suka jika itu hanyalah alasan saja," balas Emilia meninggalkan anak dan ibu di supermarket tersebut.
Emilia semakin kesal, semua orang selalu saja menyudutkan jika dirinyalah yang selalu mengganggu kebahagiaan rumah tangga Farel, "padahal Farellah yang selalu saja mengusikku. Dasar, sialan!" umpat Emilia kesal.
Ia menaiki sepeda motornya dan kembali pulang ke rumah, Keano pergi mengaji di Mushola terdekat, "Mama!" teriak Keano menyalam mamanya dan tersenyum.
"Sudah pulang, Nak?" tanya Emilia.
"Sudah, Ma!" balasnya tersenyum, "Ma, Dika bilang, 'Mama adalah wanita tidak beres,' artinyanya apa, Ma?" tanya Keano menerap ke arah Emilia yang masih memasak.
"Maksudnya, bagaimana? Mama tidak mengerti?" tanya Emilia.
"Dika bilang, 'Mama selalu mengganggu suami orang, dan selalu mencintai Papa Farel, padahal Papa sudah memiliki wanita lain," balas Keano.
"Ya, Allah! Jangan dengarkan Nak! Jika ada yang mengatakan hal itu anggaplah angin lalu, kamu tidak perlu tanggapi ya?" balas Emilia.
Ia sendiri tidak tahu jika ada anak-anak pun mengatakan hal buruk tentangnya, "apakah orang tuanya selalu berkata demikian? Sehingga semua anak-anak bisa mengatakan hal yang tidak masuk akal begitu?" batin Emilia kesal dan sedih ia tidak menyangka jika Keano pun akan menghadapi hal yang sangat menyedihkan.
"Iya, Ma! Mama bagaimana jika besok kita pergi berlibur?" ajak Keano.
"Baiklah! Besok kita berlibur, kamu mau ke mana?" tanya Emilia.
"Ke mana pun jadilah Ma!" balas Keano.
Keesokan pagi ….
Emilia benar-benar ke pantai, mereka berdua membuat rumah pasir dan tertawa dengan berbekalkan makanan yang dibawa di dalam keranjang piknik, "Emilia!" sapa Deffei bersama seorang gadis kecil berumur 7 tahun.
"Hei, Deffri! Apakah ini putrimu?" tanya Emilia senang.
"Iya, ini Amara! Amara, ini Tante Emilia dan ini putranya Keano," ujar Deffri mengenalkan putrinya kepada Emilia dan Keano.
"Halo, Tante, Keano!" sapa Amara ramah.
"Halo, Sayang!" balas Emilia menjabat tangan mungil Amara.
Begitu juga dengan Keano yang tersenyum, "Hai, Adik kecil!" ujar Amara.
"Hai, Kakak besar!" balas Keano. Membuat semua orang tertawa, mereka berempat bermain pasir dan tertawa, makan, dan bermain bola juga berlarian saling kejar di pantai. Amara dan Keano langsung akrab dan keduanya tertawa bahagia.
"Mbak Amara rumahnya di mana?" tanya Keano saat mereka sedang duduk di tepi pantai berempat.
"Di Jalan Ahmad Yani, di Karangsari juga. Kamu main dong ke rumah Mbak!" ujar Amara senang.
"Ma, kapan main ke rumah Mbak Amara?" tanya Keano memandang ke arah Mamanya.
"Um, Mama belum bisa janji tapi nanti kita ke rumah Mbak Amara," balas Emilia tersenyum.
Deffri hanya memandang ke arah Emilia, "Lusa ulang tahun Amara, kalian datanglah!" ujar Deffri.
"Benar Mbak? Mvak mau minta kado apa?" tanya Keano.
"Doa saja sudah cukup!" balas Amara tersenyum.
"Baiklah, nanti pas sholat, Keano doain Mbak deh!" balas Keano tersenyum.
"Terima kasih, Dek!" balas Keano tersenyum dengan lembut.
"Sudah sore, bagaimana jika kita pulang. Kamu naik apa, Em?" tanya Deffri.
"Naik sepeda motor," balas Emilia.
"Baiklah, Keano ikit dengan kami saja. Ntar kami ngikutin kamu dari belakang," usul Deffri.
"Baiklah," Emilia tersenyum.
***
Hari berganti dan bulan pun berganti pertemanan di antara Keano dan Amara sangat akrab mereka banyak menghabiskan waktu bersama dengan Emilia dan Deffri membuat keduanya semakin akrab. Namun, Deffri belum berani untuk mengutarakan isi hatinya karena Emilia masih terlalu fokus dengan usaha dan putranya walaupun Emilia terap menyayangi Amara.
Emilia sering ke sekolah Amara mengambilkan raport atau apa pun yang berhubungan dengan Amara begitu juga sebaliknya.
Sementara sidang yang diajukan oleh Emilia dan Sandi berakhir tidak jelas karena kedua pria yang melakukan tindak kriminal yang diperintahkan oleh Hana ditemukan tewas di penjara tanpa sebab yang jelas.
"Emilia kamu harus hati-hati, bagaimanapun kita tidak tahu apa yang telah terjadi dengan kedua pria tersebut," ucap Deffri.
"Ya, Deff!" balas Emilia. Ia sedikit was-was, "apakah mereka dibunuh begitu, Deff? Tapi bagaimana bisa? Bukankah mereka berada di penjara? Jika mereka dibunuh, berarti penjara saja bisa mereka taklukkan apa tidak mengerikan itu?" ujar Emilia sedikit takut.
Ia sangat takut terjadi sesuatu pada putranya, "Jangan khawatir, jangan takut aku berusaha untuk memberikan pengawalan secara diam-diam pada Keano," ucap Deffei menghibur Emilia.
"Terima kasih, Deff!" balas Emilia twrsenyum.