
Asih berjalan menyentuh bahu Emilia, "Ada apa, Nak?" tanya Asih mengelus bahu putri kesayangan, aku membesarkannya dengan penuh kasih sayang dari ia masih di dalam kandunganku, Farel memintanya kepadaku dan si abah dengan baik-baik. Berjanji akan membahagiakannya, nyatanya ia menyakiti putriku, batin Asih bersedih dan tidak terima akan semua perlakuan Farel.
"Ma! Apakah kakimu sakit?" tanya Emilia sedikit khawatir, "Ya Allah! Aku melupakan Mamaku," batinnya.
"Tidak, Nak! Hari sudah malam, tidurlah. Besok masih ada harapan, jangan putus asa, Nak! Agama kita mengajarkan agar kita tidak pernah putus asa, selalu ada hikmah dibalik semua penderitaan dan luka." Asih memeluk erat bahu Emilia yang menyandarkan kepalanya di bahu mamanya.
"Ma, aku salah dimana ya? Mengapa kehidupanku begitu keras," ucap Emilia, air mata tak lagi mampu terbendung.
"Sabarlah, Allah ingin menaikkan derajatmu, sabarlah!" hibur Asih, mengecup puncak kepala putrinya. Jauh di relung hatinya ia pun tak kuasa, melihat semua penderitaan putrinya.
Emilia masih terus menangis dalam isakan, Asih membelai punggungnya ia mengingat berpuluh tahun lalu kala ia selalu menenangkan putrinya setiap kali dia terluka bukan karena cinta tapi terjatuh kala bermain, atau banyak hal di dalam belajar di kehidupan.
"Tidurlah, Nak! Besok masih banyak yang harus kita lakukan," ucap Asih.
"Baiklah, Ma! Bolehkah aku tidur bersamamu?" pinta Emilia ia benar-benar rindu akan kasih sayang ibunya.
"Mengapa tidak, Nak! Aku sangat senang, bagaimana jika kita mengenang masa-masa saat kau kecil?" tawar Asih. Membuat Emilia tersenyum.
Keduanya saling berangkulan menuju ke kamar tidur, Asih memeluk Emilia di dalam dekapan hangatnya. Emilia menyentuh tangan keriput Asih, seharusnya aku memberikan kebahagiaan kepadamu Mama, bukan beban. Emilia membatin membalikkan tubuhnya menatap wajah Asih yang teduh, Mama masih tetap cantik walaupun keriput sudah memenuhi seluruh wajah dan tubuhnya, rambutnya tak lagi hitam. Tapi … kasih sayang dan cintanya sangat luar biasa, batin Emilia.
Semalaman Asih memeluk putrinya hingga tertidur, Asih membuka matanya menatap putrinya. Semenjak tadi ia hanya berpura-pura tertidur, Semoga kebahagiaan selalu bersamamu Nak! Aku berharap Allah, melembutkan hati Farel, batin Asih. Ia sudah merencanakan sesuatu di benaknya dengan diam-diam.
Keesokan pagi, kala Emilia sudah pergi bekerja Asih pergi ke tetangganya Mahroni, keponakannya.
"Ada apa, Budhe?" tanya Mahroni.
"Antarkan Budhe ke rumah Farel. Dia telah mengambil Keano," ucap Asih.
"Halah, biarkan saja Mbakyu! Dasar Emilia saja yang tukang selingkuh! Kurang apa coba Farel?" ujar Atun adik ipar Asih.
"Aku hanya ingin melihat cucuku!" balas Asih dingin. Ia tahu, dari dulu Atun tidak menyukai Emilia karena Emilia tidak mau menikah dengan keponakannya.
"Biar saya, antar Budhe!" Mahroni telah mengeluarkan sepeda motor dan langsung membawa Asih ke rumah Farel.
Keduanya seperti pengemis di depan pintu tanpa sedikit pun Farel membuka pintu pagar, "Pak Satpam! Bisakah saya bertemu dengan Keano?" tanya Asih dengan hijab putih memegang terali pagar.
"Maaf, Bu! Pak Farel melarang siapa pun dari keluarga Emilia untuk masuk ke rumah ini," balas satpam bersedih.
"Aku hanya ingin melihat sekali saja, Keano cucuku," ucap Asih memelas.
"Maaf, tidak bisa, Bu!" balas satpam. Asih masih memohon bak seorang pengemis hanya ingin melihat cucunya.
Tin! Tin!
Sebuah mobil mulai masuk ke dalam rumah karena Asih berada di depan pintu pagar, si pemilik mobil yang tidak lain adalah Farel mengklakson mobilnya tak henti-hentinya.
"Budhe, minggir!" teriak Mahroni menarik Budhenya ke samping agar tidak tertabrak mobil, "dasar, bajingan!" geram Mahroni.
"Farel!" teriak Asih langsung masuk ke pelataran rumah Farel, di kala pintu pagar terbuka.
"Bolehkah Ibu melihat Keano? Emilia sangat merindukannya," balas Asih.
"Boleh mari, Bu!" ajak Farel dengan lembutnya.
Mahroni langsung mengikuti Asih, "Apa yang akan dilakukan pria ini?" batin Mahroni curiga. Farel memanggil Keano yang langsung memeluk neneknya, "Nenek!" teriaknya bahagia menciumi anaknya begitu juga Asih, ia menoleh ke belakang mencari mamanya.
Asih memahami apa yang dilakukan oleh Keano, "Mama tidak ikut, Nak! Dia sedang bekerja," balas Asih. Keano hanya tersenyum, ia tidak berucap apa pun. Namun, Asih tahu jika Keano pun merindukan sang Ibu.
"Mama kamu, tidak ada waktu untuk menjengukmu! Kau tahu kenapa? Dia sibuk berselingkuh dengan pria yang bernama Deffri," tukas Farel.
"Apa maksudmu, Nak?" tanya Asih.
"Ibu tidak tahu? Pria itulah yang telah merusak rumah tangga kami! Emilia meminta cerai karena dia! Demi lelaki itulah ia memintaku bercerai denganku," teriak Farel marah.
"Apa?" Asih terkejut. Ia tidak menyangka jika putrinya akan melakukan hal itu.
"Jadi, Ibu tidak tahu selama ini? Kasihan sekali! Mereka telah lama berselingkuh Bu, makanya aku pun menceraikannya," balas Farel, mampus kau Emilia! batin Farel tertawa, aku ingin kau merasakan amukan Ibumu! batinnya.
"Apakah kau memiliki bukti Farel?" tanya Asih.
"Bukti? Aku sudah membuangnya sayang sekali! Lagian itu akan membuat keluarga malu akan tabiat putrimu yang memalukan. Mereka berulang kali cek in di hotel-hotel," tukas Farel.
"Astaghfirullah!" lirih Asih seketika kepalanya pusing dan ia mendadak lemas.
"Budhe! Budhe!" teriak Mahroni memeluk budhenya, "jika terjadi apa-apa dengan Budhe Asih, kau akan tahu akibatnya, Bajingan! Kau yang berselingkuh dengan Hana, pintarnya kau!" teriak Mahroni.
"Nenek!" teriak Keano ketakutan memegang tubuh Neneknya yang pingsan. Keano langsung mengambil segelas air dan memberikan kepada Mahroni yang langsung mengusapkan ke wajah Asih.
"Mahroni …." Asih menatap nanar ke wajah Mahroni dan Keano, air mata berlinang di pipi keriputnya, "putriku … apakah mungkin?" lirihnya.
"Sudahlah Budhe, mari kita pulang. Buktinya dialah yang menikah terlebih dahulu, maka dialah yang berselingkuh, bukan?" jawab Mahroni menatap bengis kepada Farel.
"Kau tidak perlu membela kakak sepupumu. Itu adalah fakta!" balas Farel sengit.
"Sekali lagi kau menjelek-jelekkan mbak Emilia! Awas kau!" ancam Mahroni.
"Silakan! Kau pikir aku takut, aku bersyukur menceraikan wanita murahan itu!" umpat Farel.
Mahroni menggendong Asih yang mungil di gendongannya Keano berlari mengejar neneknya, "Keano, Masuk!" teriak Farel. Membuat Keano langsung menghentikan langkah hanya menatap nenek dan temannya pulang. Ia berjalan gontai menuju rumah dan ingin memasuki kamarnya.
"Heli, anak tak tahu diuntung! Sudah syukur aku mengurusmu!" teriak Farel. Namun, Keano hanya diam berdiri mematung menatap Farel.
"Aku sangat tidak beruntung jika kau adalah Papaku!" balas Keano. Entah dari mana anak yang baru menginjak umur 3 tahun bisa mengucapkan kata itu.
"Apa kau bilang! Dasar, anak kurang ajar!" hardik Farel, yang langsung menjewer kuping Keano, "sekali lagi kau membangkang maka aku akan membunuh mamamu. Ingatlah itu!" ancam Farel.
Keano hanya menatap sedih ke wajah Farel, Mama, maafkan Keano. Aku juga rindu, batinnya.