
"Aku tidak mengapa, Janti! Tapi semua itu tergantung anaknya! Aku juga senang jika Farel menikah dengan Dahlia," ucap Yahya.
"Benarkah Tuan?" tanya Janti tak menyangka jika orang nomor satu di Karangsari akan menerima lamaran janda miskin sepertinya.
"Assalamualaikum!" salam Dahlia pulang kuliah bersama dengan Emilia.
"Waalaikumsalam!" balas semua orang.
"Dahlia, Tante Janti ingin melamarmu untuk putranya Farel. Apakah kamu bersedia Nak?" tanya Yahya pada putrinya.
"Apa? Maaf Ayah, Tante! Aku sudah punya calon suami yang bernama Andri. Aku tidak bisa menikah dengan Farel, "jawab Dahlia tegas.
Penolakan Dahlia membuat Farel tersenyum tetapi kemarahan pada diri Janti. Namun, dia tidak bisa berbuat apa pun, "Tidak bisakah kamu mempertimbakannya lagi, Nak?" tanya Janti berusaha memohon walaupun tidak ketara.
"Maaf, Tan. Saya benar-benar mencintai Andri," ujar Dahlia sopan.
"Maaf, Janti. Anakku sudah memiliki kekasih, aku juga tidak bisa berbuat apa pun," ucap Yahya.
"Iya, tidak masalah. Kami permisi dulu Tuan," ucap janji meninggalkan kediaman Tuan Yahya di sepanjang jalan hatinya merasa gundah dan bersedih impiannya menjadi orang kaya dengan waktu yang sangat singkat harus kandas semua akibat penolakan Dahlia hanya karena ia mencintai pria yang bernama Andri.
Mulai saat itu Janti dengan diam-diam selalu memata-matai Dahlia ke mana pun dia pergi bersama siapa pun sehingga ia mengenal Andri ia melihat Dahlia sangat akrab dengan seorang wanita yang bernama Emilia.
"Apakah seharusnya aku minta tolong saja kepada gadis ini? Karena bagaimanapun aku berharap gadis ini bisa membujuk Dahlia untuk menikah dengan Farel," batin Janti.
Ia berusaha untuk mendekati Emilia, "Permisi! Bolehkah saya duduk di sini?" ujar Janti mendekati Emilia di sebuah kantin di kampus.
"Tentu saja, Bu. Silakan, ada yang bisa saya bantu" tanya Emilia menatap Janti dengan tersenyum.
"Apakah kamu temannya Dahlia?" Janti langsung bertanya tanpa mau membuang-buang waktu
"Iya, ada apa, Bu? "Balas Emilia.
"Apakah benar jika Dahlia memiliki kekasih bernama Andri?" tanya Janti.
"Iya, benar, Bu. Memang ada apa ya, Bu?" tanya Emilia bingung.
"Ibu bisa minta tolong, Nak!" tanya Janti.
"Um, memang apa yang harus saya tolong, Bu?" Emilia beringsut menghadap ke arah Janti.
"Tolong, bujuk Dahlia untuk menikah dengan putraku Farel!" balas Janti penuh pengharapan.
"Maaf, Bu. Saya nggak bisa, Dahlia dan Andri sudah berpacaran dari SMA bahkan mereka sudah berniat akan menikah tahun depan. Maaf, Bu saya tidak bisa," balas Emilia.
"Kamu sombong sekali! Hanya minta tolong begitu saja tidak bisa, baru jadi anak kuliahan udah belagu kamu! Semoga saja kamu tidak laku!" sumpah serapah Janti.
"Lho, mengapa Ibu memarahiku? Salahku apa? Soal cinta itu tidak bisa dipaksa, memaksa apalagi terpaksa Bu. Satu hal yang harus Ibu ingat, jika aku tidak laku, maka anakmu yang akan jadi suamiku! Kau lihat saja.
"Jangan taunya hanya menyumpahi orang saja, Bu! Jika Dahlia dan Andri saling cinta masa aku harus mengikuti permintaan gilamu!" teriak Emilia dengan jutek.
"Apa kau bilang? Kau bilang, 'Aku gila!' dasar gadis aneh. Kau yang gila!" teriak Janti membuat kegaduhan di kantin.
"Emilia! Ada apa?" tanya Dahlia dan Andri yang baru tiba di sana, "Tante Janti? Ada apa ini?" tanya Dahlia.
"Aku hanya ingin meminta tolong memanggilkan kamu, tapi kenapa dia marah-marah dan mengatakan tidak mengenalmu, Nak!" balas Janti bersilat lidah.
"Kau! Aku tidak menyangka selain otakmu licik kau juga pintar bersilat lidah!" ketus Emilia.
"Hei, Dahlia! Apa sih kurangnya putraku?" tanya Janti.
"Tante, kak Farel tidak ada kurangnya. Tapi, aku tidak mencintainya! Begitu juga dengannya Tan! Percayalah, kak Farel akan dapat wanita yang lebih baik kedepannya," balas Dahlia.
"Awas, kalian ya! Aku tidak akan memaafkanmu! Seharusnya kau menikah dengan putraku, Dahlia! Bukan dengan pria itu," teriak Janti dengan marah.
***
Masa sekarang ….
"Itulah awal mula aku bermusuhan dengan Emilia, sejak saat itu. Tuan Yahya tidak lagi peduli kepadaku, ia benar-benar tidak menyukai semua apa yang aku berikan dan yang kulakukan, semua kebaikanku.
"Itu semua karena Emilia! Aku benci Emilia, hingga Farel membawa Emilia ke rumah," ujar Janti.
***
Masa lalu ….
"Mama! Mama!" teriak Farel ia berjanji ingin mengenalkan kekasih hatinya hari ini kepada Janti.
"Ada apa, Nak? Mana kekasihmu?" tanya Janti ke luar dari kamarnya.
"Ada di ruang tengah, Ma!" balas Farel.
"Emilia, ini Mama. Mama ini Emilia," ucap Farel mengenalkan kedua wanita di depannya. Tapi kedua wanita itu saling pandang dan tidak ada yang bergeming sedikit pun.
"Apakah kalian saling kenal?" tanya Farel bingung.
"Aku tidak setuju jika kau menikahi wanita tidak tahu sopan santun ini!" teriak Janti matah.
"Aku akan pulang saja, Mas! Mulai sekarang kita putus saja!" ucap Emilia meninggalkan rumah Farel.
"Emilia! Emilia, tunggu!" teriak Farel berusaha untuk mengejar Emilia yang berlari ke sepeda motornya dan meninggalkan Farel yang masih mengejarnya.
"Farel, sudahlah! Jangan kita teruskan hubungan kita ini," ucap Emilia, ketika Farel langsung berdiri menghadang Emilia.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Farel bingung.
"Tanya saja, Ibu kamu. Apa yang telah dilakukannya kepadaku! Sudahlah, menjauhlah dariku!" Farel langsung menjauh kala Emilia ingin meninggalkan tempat tersebut. Farel kebingungan ia langsung berlari kembali ke rumah untuk bertanya kepada mamanya.
"Mama! Ada apa sebenarnya, Ma?" tanya Farel bingung.
"Pokoknya, Mama tidak suka jika kamu memiliki hubungan dengan wanita itu! Aku tidak mau tahu," balas Janti kesal.
"Ma, tapi ada apa ini? Kalian berdua tidak memberi kejelasan apa pun! Bagaimana aku bisa tahu?" tanya Farel kebingungan.
"Kau mau tahu? Wanita itu telah menghina Mama kamu! Dia bilang, 'Kamu tidak pantas bersanding dengan Dahlia,' memang siapa yang pantas!" tanya Janti masih kesal dan marah.
"Ya, ampun Ma. Dahlia sudah menikah dengan pria yang dicintainya. Bisa-bisanya Mama masih berpikir 'kan hal itu. Mama … yang pantas menikah denganku itu ya Emilia, Ma!
"Mengertilah Ma, cinta tidak bisa dipaksa Ma, mengapa Mama jadi begini, sih?" tanya Farel bingung melihat kelakuan Mamanya yang semakin hari semakin aneh.
"Jadi, kamu mau menikahi wanita itu juga? Aku tidak akan setuju sampai aku mati! Dia wanita yang tidak akan pernah aku akui sebagai menantuku!" teriak Janti.
Farel hanya diam saja, menunggu kemarahan Janti mereda. Farel tahu jika Janti sedang marah ia akan menyumpah serapah sehingga lebih baik Farel diam dan menunggu saja hingga kemarahan Janti mereda.