
"Apakah karena kau berjanji dengan Defri begitu?" tanya Farel menatap ke arah Emilia tidak begitu senang atas penolakan Emilia, "apa kau kira Defri pantas untukmu begitu?" tanya Farel menatap wajah Emilia yang cantik alami tanpa polesan apa pun.
"Seharusnya kau menghargai privasiku Farel. Di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi, aku ingin berjanji dan bertemu dengan siapa pun. Aku rasa itu bukanlah hakmu lagi. Seharusnya kau mengerti!" balas Emilia menatap ke arah Farel.
"Kau!" umpat Farel mengepalkan tangan.
"Aku ingin kau menjauhi Defri!" teriak Farel membuat seisi restoran melihat ke arah mereka, "aku suamimu dan aku melarangmu bertemu dengannya!"
"Jangan lupa, aku hanyalah mantan istrimu. Bukan istrimu lagi," balas Emilia.
"Kau!" Farel sudah mulai ingin melayangkan tangannya.
"Ingat Farel, jangan pernah main tangan lagi denganku, aku bisa menuntutmu karena kekerasan dan merendahkan hsrga diriku, aku bukan siapa-siapamu lagi," balas Emilia, "Keano, jika kamu ingin bersama dengan Papa kamu silakan! Mama ingin pulang," balas Emilia berdiri dari duduknya.
"Aku, ikut Mama!" balas Keano meraih tangan Emilia dan keduanya meninggalkan Farel yang hanya memandang ke arah Emilia.
"Sial, wanita ini sudah berani membangkang padaku," batin Farel marah, "apa yang kalian lihat?" teriak Farel pada semua orang. Ia langsung membayar semua tagihan dan mengendarai mobil mengikuti Emilia yang pulang kembali ke tokonya.
Farel melihat Emilia dan Keano tersenyum dan tertawa bahagia di sana, sekeping hati Farel sedikit bersedih dan menyesal, "Mengapa aku dulu tidak menyadari jika Emilia begitu cantik dan sangat baik?" batin Farel.
Ia hanya melihat ke arah Emilia di dalam tokonya dengan tersenyum dan tertawa melayani semua pelanggan. Emilia yang ramah dan bersahaja, wanita yang tidak pernah bertanya penghasilanmu berapa sebulan. Namun ia telah mencampakkan dan menyia-nyiakannya begitu saja.
***
Kenangan berputar ….
"Mas, ayo jalan-jalan yuk! Aku pengen nonton?" ajak Emilia duduk di sisi Farel yang sibuk di depan laptopnya. Wajahnya yang tampak kekanak-kanakan tersenyum riang.
"Aku sibuk! Apakah kau tidak melihat jika aku sedang banyak pekerjaan? Kau bisa pergi sendirian," balas Farel ketus.
"Oh, baiklah. Aku pergi bersama dengan teman-temanku ya?" tanya Emilia meminta izin.
"Pergilah!" balas Farel. Ia tidak peduli kemana pun Emilia pergi ia tidak pernah merasa cemburu maupun berprasangka buruk karena Farel mengetahui jika Emilia benar-benar cinta mati kepadanya, "paling-paling dia pergi bersama sahabatnya Nisa, Amelia dan Merry, atau ke rumah ibu angkatnya bu Marwah, atau bu Yana," batin Farel, "ke mana sih, Emilia paling pergi? Kalau tidak ke rumah teman-teman dan keluarganya. Jika tidak tinggal cari ke toko buku, penyewaan buku atau bioskop," lanjut batin Farel.
Sehingga ia tidak pernah risau ke mana pun Emilia melangkahkan kakinya, ia sangat tidak yakin jika ada pria yang akan mau atau melirik kepada Emilia.
Kehidupan rumah tangga mereka begitu gersang selama 5 tahun pernikahan mereka belum juga dikarunia anak, membuat segalanya menjadi kacau. Namun, karena rasa sayang yang dimiliki Farel dan Emilia mereka tidak pernah mempermasalahkannya apalagi, ke mana pun Emilia pergi tidak menyusahkan dan tidak minta duit sama sekali.
Berbeda dengan Emilia yang hanya diam saja dan hidup dengan dunianya lebih banyak patuh dan tidak melawan apa pun yang diberi atau tidaknya uang belanja. Emilia tidak pernah komplain hanya diam dan tak banyak menuntut apa pun. Sehingga Farel dengan mudahnya mengelabui Emilia yang terlalu percaya padanya.
"Mas, ini … malam Jumat," ujar Emilia dengan pakaian sangat menggoda yang akan membuat setiap mata memandang akan jatuh melompat, tubuhnya yang putih dan padat berisi sangat menggoda sayangnya Farel telah lelah dengan permainan yang dilakukannya bersama Hana di sebuah hotel siang tadi. Membuat ia enggan untuk memenuhi kebutuhan hak seorang istri, Farel lupa jika ada yang lebih berhak mendapatkan semua sentuhan dan belaian darinya.
"Aku lelah, Emilia. Apakah kau tidak tahu seharian ini aku benar-benar lelah?" ujarnya tanpa sengaja membentak Emilia. Farel pun tidak sengaja melakukan hal itu, "Oh," hanya itu yang terlontar dari mulut Emilia menatapnya dengan mata bening indah yang mulai berkaca-kaca.
Tapi Farel tidak mempedulikannya, ia hanya memeluk guling dan membelakangi tubuh Emilia. Ia hanya merasakan jika tempat tidur hanya bergerak sedikit, Farel masih terbayang wajah Hana yang menggoda siang tadi. Emilia mengambil jubah tidurnya dan ke luar ruangan Farel tidak tahu dan tidak mau tahu Emilia akan pergi ke mana.
Farel hanya mendengarkan jika mixer pembuatan adonan kue berdentang di dapur begitu juga dengan mesin cuci, "Dasar, wanita aneh!" batin Farel tidak peduli, ia tahu jika Emilia selalu membuat kue jika ia sedang bersedih dan kesal atau mengunci dirinya di ruang baca dengan buku-buku yang begitu banyaknya di sana.
Farel sering kali menemukan jika Emilia tertidur di sofa atau di ruang baca bahkan, di dapur bertumpu dengan tangannya di meja makan. Keesokannya Emilia menyiapkan berbagai kue dan makanan terhidang di meja makan namun Farel tidak pernah menyentuhnya.
Masakan Emilia lumayan enak dan ia juga pintar membuat makanan, namun entah mengapa Farel begitu jenuh dengan semua itu. Ia merasa sikap dan sifat yang diperlihatkan Emilia membuat semuanya semakin ada jarak diantara mereka.
***
Masa kini ….
Farel mengingat banyak hal dan menarik napasnya kini disadarinya jika perbuatannya saat berumah tangga dengan Emilia sangat menjijikkan, "Wajar saja, Emilia jengah denganku …." batinnya.
Farel melihat mobil Defri membelok ke toko Emilia membawa paper bag, "Apa yang dilakukan Defri?" batin Farel sedikit terbakar cemburu.
Namun, ia menyadari jika dia tidak lagi memiliki hak untuk ke sana. Ia hanya memandang dengan mengepalkan tangan dan meninggalkan toko Emilia kembali ke kantornya.
"Mas, kamu ke mana saja?" tanya Hana.
"Aku baru menemui Keano," balas Farel dingin. Kini entah mengapa ia merasa jika Hana tak semenarik di awal mereka bertemu. Kini, Farel baru menyadari jika Emilia masih lebih cantik dan lebih dari segalanya dibandingkan dengan Hana.
"Ngapain sih, kamu nemuin dia terus? Aku istrimu Mas?" teriak Hana sedikit marah.
"Lalu? Keano anakku! Jangan lupakan hal itu Hana," ujar Farel tidak peduli. Meninggalkan Hana di ruangannya.
"Sial, kau Emilia! Kau benar-benar bagaikan duri di dalam daging! Kau akan menyesalinya," sungut Hana mengepalkan tangan marah.