I Can Live Without You

I Can Live Without You
Dansa romantis



***


Deffri telah pulang ke rumah, mereka makan di meja makan bersama Rahman, Maya, Surti, Amara, "Delia ke mana?" tanya Rahman pada Maya.


"Lagi belanja dan menemui temannya," balas Maya cuek, "Mas, dua hari lagi kamu ulang tahun, aku sudah memesan ballroom di Hotel B, untuk perayaan hari ultah kamu Mas.


"Deff, kamu bawalah Emilia! Jika memang kamu ingin menikahinya, mulai sekarang kamu kenalkanlah pada semua keluarga," ucap Maya dengan lembut.


Deffri dan Rahman menatap ke arahnya, "Kamu kesambet apa? Atau kamu lagi merencanakan sesuatu, gitu?" balas Rahman curiga.


"Ya ampun! Selalu saja berpikiran buruk padaku! Sekali-kali berprasangka baiklah padaku, Mas." Maya menatap Rahman dengan cemberut drama klise yang selalu dilakukan untuk menarik perhatian Rahman selama 20 tahun berumah tangga dengannya.


"Bukan berprasangka buruk, Maya. Kamu selalu yang membuat aku pada akhirnya melakukan hal itu, kau tahu. Aku tidak takut kamu bohongi aku, Maya. Aku hanya takut dan sedih karena saat aku mengetahui kebohongan, maka saat itu aku tak lagi percaya kepadamu!" ujar Rahman menatap Maya.


"Aku rasa aku mulai berpikir, benar katamu Mas, kita tidak boleh memaksakan kehendak. Selain itu, aku rasa aku juga tidak ingin kehilangan dirimu. Kita sudah tua, sebaiknya lebih menikmati hidup saja," balas Maya dengan lembut dan manis.


"Kalah manisnya madu!" batin Deffri, "baiklah jika Mama memiliki keinginan itu, aku akan membawa Emilia lusa," ujar Deffri bahagia.


"Iya, Nak! Maafkan Mama ya, selama ini telah mengatur dan mencoba untuk mengganggu kehidupan kamu!" ujar Maya menyesali segala perbuatannya.


"Jangan khawatir Ma! Aku telah memaafkan Mama!" jawab Deffri tersenyum, "aku harap semua itu dari sanubarinya yang paling dalam," batin Deffri.


***


Hari yang dinanti pun tiba, Deffri membawa Amara, Keano, dan Deffri dengan setelan biru langit yang indah. Mereka kompakan memakai baju seragam bagaikan keluarga bahagia.


Farel menatap ke arah pintu gerbang ballroom merasakan sengatan cemburu dan amarah yang menghentak di dada, "Dasar sialan! Kau akan melihat Emilia, pria yang kau cintai akan mengkhianatimu! Selain itu, ini adalah akhir kebahagiaanmu Deffri Hardiansyah!" batin Farel marah ia menggenggam gelas bertangkainya hingga hancur berkeping-keping.


"Mas, kamu kenapa?" ucap Hana menghampiri Farel dan membebatkan tisu ke luka Farel, "sial, jadi benar … Farel masih mencintai Emilia?" batin Hana sakit hati.


Ia membawa Farel untuk mengobati lukanya sementara pramusaji langsung membersihkan kekacauan kecil yang dilakukan oleh Farel.


"Pa, ini Emilia! Emilia ini Papa mertuaku tapi rasa Papa Kandung bagiku," ucap Deffri.


"Kakek!" teriak Keano melihat ke arah Rahman.


"Apa kabar anak baik!" ucap Rahman menggendong Keano ke pelukannya.


"Maaf, Pak! Saat itu saya tidak tahu, andaikan saya menyinggung perasaan Bapak saya mohon maaf," ucap Emilia.


"Oh, anakku! Tidak ada yang perlu dimaafkan, semuanya baik-baik, saja! Kamu sangat baik Nak. Aku hanya minta titip cucuku Amara, sayangilah dia seperti kamu menyayangi putrimu sendiri," pinta Rahman di ulang tahunnya yang ke-65.


"Tentu, saja Pak! Aku berjanji kepada Bapak akan menyayangi Amara!" balas Emilia.


"Terima kasih, Pa!" balas Rahman tersenyum.


"Keano! Ayo, kita main di sebelah sana!" ajak Amara menggandeng Keano.


"Papa," sapa Keano melihat Farel yang berada di sana, sedang berdua dengan Hana dan yang lain yang tidak dikenal oleh Keano.


"Halo, Keano! Apakah kamu senang di sini?" tanya Farel menatap ke arah Keano.


"Aku sangat senang, Pa!" balas Keano sedikit takut, Keano mundur dan menggamit tangan Amara dan menabrak seseorang, "Keano! Amara? Ada apa?" sapa Deffri menggendong Keano dan menggandeng Amara.


Farel merasakan sakit di hatinya melihat buah hatinya lebih memilih Deffri daripada dirinya, "Sialan, Deffri benar-benar mengambil hati Keano. Semua ini karena Emilia," batin Farel kesal menatap Deffri menjaih membawa Amara dan Keano.


"Hadirin, yang terhormat hari ini adalah ulang tahun Bapak Hidayat yang terhormat! Mari persilakan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan," ujar MC dengan senyuman dan semangat. 


Acara dimulai dengan meriah, masing-masing berdansa dengan pasangan begitu juga dengan Hana dan Farel.


Emilia hanya duduk di sebuah kursi bersama Rahman dan Maya yang bersikap manis kepadanya, "Apa yang direncanakan Nenek Sihir ini?" batin Emilia bertanya.


"Sayang, ayo menari denganku!" ajak Deffri mengulurkan tangan.


"Pergilah Nak!" balas Rahman.


"Baik, Pak!" balas Emilia langsung mengulurkan tangan menyambut tangan Deffri yang langsung merengkuh membawanya ke tengah ruangan dansa. 


Mereka menari dengan romantis dan penuh kasih sayang, "Menyebalkan!" batin Farel melihat ke arah pasangan tepat di sampingnya.


Hana menatap ke arah pandangan maya Farel, "Farel benar-benar mencintai Emilia dan dia tidak bisa melupakannya," batinnya kesal.


Saat adegan tari berganti pasangan, Emilia tidak menyangka ia harus bertukar pasangan dengan mantan suaminya, "Sepertinya kau sangat menikmati tarianmu bersama dengan pacarmu!" hina Farel.


"Tentu saja! Karena Deffri adalah pria yang sangat luar biasa!" ucap Emilia berputar saat Farel memutarnya.


"Apakah kau juga sudah tidur dengannya?" tanya Farel cemburu.


"Apakah kau telah membayangkan hal itu? Andaikan iya atau tidak itu bukan urusanmu!" balas Emilia santai.


"Jadi, kau minta cerai denganku karena kau ingin memilikinya, begitu? Sudah berapa lama kalian selingkuh dariku?" hina Farel.


"Apakah aku perlu menjelaskan banyak hal padamu? Memang kau siapaku?" ejek Emilia.


"Aku suamimu!" geram Farel.


"Mantan! Ingatlah itu! Aku bersyukur berpisah darimu, karena aku


mendapatkan pria yang jauh luar biasa," balas Emilia berputar sekali lagi kembali ke pelukan Deffri. Emilia yang langsung melingkarkan tangan ke leher Deffri.


"Apakah kamu tidak ingin bertanya apa yang ditanyakan oleh Farel,  Deff?" tanya Emilia.


"Tidak, Sayang! Itu tidaklah penting bagiku, yang terpenting kau adalah segalanya dan aku percaya kepadamu!" balas Deffri tersenyum riang.


"Oh, Deff! Aku menyayangimu!" balas Emilia merasakan sebuah kebahagiaan di sana.


Acara dansa telah berakhir, Emilia pergi ke kamar mandi. Sementara Deffri masih ngobrol dengan beberapa orang yang dikenalnya di sana, Maya diam-diam menyelinap memberikan  sesuatu ke dalam minuman, "Antarkan minuman ini kepada Tuan Deffri!" ucap Maya.


"Baik, Nyonya!" si pelayan langsung membawa nampan dan menghampiri Deffri yang langsung mengambil minuman.


Maya melihat dari balik hiasan bunga di dalam ruangan, "kau akan menjadi menantuku! Lihat saja! Dan wanita itu cih, dia akan merasa paling buruk di dunia ini," batin Maya senang langsung masuk ke ruangan berpura-pura merapikan tasnya menghampiri Rahman yang tersenyum menyambutnya.


Deffri meminum habis jus yang diberikan oleh pelayan, seketika ia merasakan pusing. Ia ke luar dari ballroom hotel ingin ke kamar mandi tetapi dua orang pria langsung menyergapnya membawa Deffri ke sebuah kamar bernomor 69.


Membaringkan Deffri di sana, membuka semua bajunya, "Ayo, kita lapor kepada Tuan dan Nyonya Maya," ucap