I Can Live Without You

I Can Live Without You
Tersisih



"Ingat Emilia jika kau menikah lagi, maka Keano akan jadi milikku selamanya. Ingatlah, itu!" ancam Farel langsung meninggalkan toko pakaian Emilia. 


"Kau, terlalu egois Farel! Kau bisa menikah dan seenaknya melarang Emilia menikah, pria macam apa kau!" sindir Defri. 


Namun, Farel tidak menggubrisnya, ia berjalan dengan santai meninggalkan Emilia dan Defri yang masih memandang kepergiannya, "Def, aku harap jangan terlalu sering kemari. Kamu tidak mengenal siapa Farel, dia bisa melakukan apa saja. Ancaman yang dikatakannya itu pasti dilakukannya," balas Emilia.


"Maafkan aku, Em! Aku hanya tidak suka dengan cara dan perangainya. Sebagai lelaki aku pun jijik melihat kelakuannya yang egois dan arogan. Seharusnya bukan begitu caranya jika dia ingin memperbaiki keadaan, seandainya dia pun masih mencintai dan menyesali perpisahan kalian, bukan begitu caranya," balas Defri.


Keduanya tidak menyadari jika Hana menguping setiap pembicaraan keduanya, "Bajingan, kau Farel! Aku seperti tidak ada artinya, bagimu. Jangan-jangan apa yang dilakukan oleh Defri benar adanya, jika Farel masih mencintai dan menyesali perceraian mereka," batin Hana. Ia meninggalkan toko Emilia dengan perasaan campur aduk antara marah dan benci juga sakit hati, "lihatlah, Farel! Aku kan membuat kamu melupakan Emilia," batinnya,


Hana mengendarai mobilnya dengan marah dan kesal.


***


Seminggu kemudian ….


"Kamu harus datang di acara ulang tahun perusahaan sekaligus ulang tahun Keano, hari Minggu besok," ujar Farel memberikan surat undangan bersama dengan Hana.


"Datanglah Emilia, bagaimanapun Keano adalah anak kalian dan anakku juga, kami menunggu kedatanganmu!" timpal Emilia.


"Baiklah, aku pasti akan datang!" janji Emilia walaupun jauh di lubuk hatinya ia sedikit tidak nyaman.


"Baiklah, kami akan pulang. Datang ya, Em! Demi Keano," pesan Hana dengan sangat manis.


"Baiklah!" balas Emilia.


Emilia dan Mira hanya memandang kepergian pasangan di depannya, "Mbak, kamu beneran mau datang ke acara itu?" tanya Mira sedikit khawatir.


"Apakah aku punya pilihan lain lagi, Mira? Tidak ada, bukan? Lagian, demi Keano, biarlah!" balas Emilia berusaha untuk berpikir positif.


"Sepertinya, aku tidak yakin jika Sundel Bolong itu akan berbuat baik? Rasanya mengerikan," balas Mira bergidik.


"Kamu ini, berpikirlah yang positif agar hasilnya positif juga. Ayo, jangan terlalu banyak mengeluh, tidak baik!" kata Emilia menepuk bahu Mira, "apakah pesanan kita sudah datang?" tanyanya.


"Sudah Mbak! Aku sudah mengecek segalanya, sepertinya tidak ada yang salah dan semua hasil dari konveksi Jaya Tekstil bagus semua, begitu juga dengan desainnya sangat bagus sesuai dengan harganya yang  lumayan mahal, Mbak. Aku yakin, pelanggan  tidak akan kecewa," jawab Mira tersenyum.


Waktu terus , "Selamat ulang tahun, putra, Mama!" ucap Emilia mengecup kedua belah pipi putranya yang sedang tidur.


"Mama! Terima kasih!" ucap Keano senang, ia mendapatkan kejutan kue tart dan sebuah kado berisi kotak pensil dan peralatan melukis.


"Wah, hebat sekali, Ma! Aku suka," teriak Keano begitu antusiasnya memeluk Keano.


"Um, mengapa kita tidak pergi bersama-sama, Ma?" tanya Keano sedikit cemas.


"Tidak Sayang, Mama ada pekerjaan sedikit di toko. Ini hari Minggu kasihan Mbak Mira kalau ditinggal sendirian, lagian Papa sudah menyiapkan kejutan buat kamu, Nak!" ucap Emilia.


"Baiklah," balas Keano menurut. Emilia merasa sejak kematian Asih Keano lebih banyak menjadi anak yang penurut dan tidak rewel dan nakal lagi, ia mulai memahami banyak hal.


Pukul 08.00 Keano benar-benar dijumput oleh Muji sang supir untuk membawanya ke rumah Farel, "Bu, Keano saya bawa," pamit Muji.


"Iya, Pak. Hati-hati! Keano, jangan nakal ya Sayang," ucap Emilia melambaikan tangan melepas kepergian putranya yang melambaikan tangan dari dalam mobil.


Emilia langsung pergi ke toko dan membereskan semua pekerjaannya, pukul 19.00 ia berangkat menggunakan taksi ke  perusahaan Farel. Ia termenung, ia mengingat dulu ia sering datang ke perusahaan yang dirintis mereka berdua dari nol sehingga perusahaan berkembang dengan pesat dan memiliki 3 buah anak cabang. Namun, saat perpisahan terjadi Emilia tidak mendapatkan apa pun selain fitnah dan air mata.


Emilia menarik napas dan menyiapkan seluruh jiwa dan mentalnya untuk masuk ke dalam ruangan dengan menenteng sebuah kado lain untuk Keano dan Farel. 


Semua mata tertuju padanya, " Ah, syukurlah. Kau punya keberanian untuk datang juga, Emilia! Setelah apa yang kamu lakukan terhadap putraku Farel. Dari dulu juga sudah kubilang, jika kau tidak akan pernah pantas menjadi menantu di rumahku. Farel saja yang tidak pernah percaya," sindir Janti sang ibu mertua yang sangat kejam kepada Emilia.


"Iya," balas Emilia berusaha tersenyum dan tidak meladeni ucapan Janti.


"Ngapain sih, wanita itu datang kemari, Jeng?" tanya seorang wanita seumuran Janti dengan sinis menatap ke arah Emilia yang berjalan dengan anggun mengenakan dress berwarna hijau mint.


Emilia terlihat sangat cantik dan anggun, "Mama!" teriak Keano menyongsong mamanya. Keduanya berpelukan sejenak.


Farel melihat dari jauh, sang mantan dengan anggun memasuki ruangan ia sangat memahami sikap dan sifat Emilia, "Dia tidak mungkin, tidak datang. Apalagi, demi Keano. Emilia akan melakukan apa saja!" batin Farel tersenyum puas.


"Tersenyumlah, kau Farel. Kau akan melihat apa yang akan terjadi nanti!" batin Hana tersenyum menyambut uluran tangan ucapan selamat dari semua orang yang menghampiri mereka.


"Selamat ulang tahun, Sayang!" ucap Emilia memberikan kado dan meletakkan kado untuk Farel di tumpukan kado lain.


Emilia memilih duduk di kursi paling sudut ia merasa sangat risih menjadi pusat perhatian semua karyawan dan semua orang di sana. Seakan ia memiliki kebobrokan yang sangat luar biasa, "Ya, Tuhan! Cepatlah acara akan dimulai," batin Emilia mulai resah.


Satu demi satu acara dimulai, akan tetapi ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk berswa foto bersama dengan putranya ia hanyalah sesuatu hanya sebagai objek pelengkap di sana, "Aku sendiri tidak tahu mengapa aku kemari?" batin Emilia. Ia seperti orang asing dan tersisih di sana, ia hanya melihat putranya Keano begitu bahagia dengan tersenyum mendapatkan ucapan dan pelukan juga banyak kado.


Emilia merasa ia sudah tidak dibutuhkan lagi sehingga ia ingin pulang, Emilia meninggalkan ruangan aula perusahaan, "Acara belum habis, Emilia! Mengapa kau ingin meninggalkan ruangan ini? Apakah kau tidak tahan melihat kebahagiaan kami?" sebuah suara lewat pengeras suara bergema. 


Ucapan Hana membuat langkah kakinya terhenti sejenak, ia memutar tubuh menatap ke arah Hana, "Sudah kuduga," batin Emilia. Ia hanya berdiri berusaha untuk menghadapi segalanya dengan ketegaran. Ia memandang ke arah Keano yang masih terbengong menatapnya dari atas pentas. 


"Naiklah, kemari Emilia. Berfotolah dengan kami! Mengapa kau harus pergi jika acaranya belum selesai? Apakah kau malu untuk menghadapi kenyataan jika kau tak bahagia di luaran sana?" tanya Farel, "ayo, menangislah Emilia! Kau pasti menangis," batin Farel.


Air mata sudah mulai mengambang di pelupuk mata Emilia, "Jangan menangis Emilia. Hadapilah, kenyataan, jika kau lari maka, mereka akan selalu saja mengolok dan mengatakan kau tidak bahagia," batin Emilia.