
"Kau benar-benar, biadab!" ujar Delia dan Hana.
"Kau merayu dan meniduriku, inikah balasanmu?" teriak Delia.
"Dasar, wanita murahan! Kau saja yang bodoh," balas Farrel ingin menampar wajah Delia.
"Hentikan!" ucap Deffri dan Azmi juga Rahman memasuki ruangan.
"Kau harus bertanggung jawab, dengan semua apa yang kau lakukan Farel! Kau akan menikahi Delia hari ini juga jika tidak aku akan memenjarakanmu!" teriak Rahman.
"Aku tidak menyangka kalian benar-benar manusia rendahan!" timpal Deffri, "Azmi, tangkap mereka!" ucap Deffri.
"Apa hak kalian menangkapku?" sanggah Farel.
"Kau masih mungkir, Pak Farel? Semua perkataanmu telah disiarkan melalui siaran langsung yang kau berikan, kau terjebak di permainanmu sendiri," ujar Azmi dengan seragam polisinya.
"Kalian menjebakku!" teriak Farel berang, "aku akan menuntut kalian! Karena menjebakku," tukas Farel.
"Bripda Firman! Bawa kaki tangannya," ujar Azmi.
Bripda Firman membawa dua pelayan, "Apa yang bisa kamu jelaskan tentang semua ini, Pak Farel?" ucap Azmi.
"Apa hubungan mereka denganku?" tanya Farel masih bertahan dengan dirinya.
"Broto, panggil Maya kemari!" ujar Rahman duduk di salah satu sofa.
"Kalian benar-benar kurang ajar!" ujar Farel marah, "kalian menjebakku, aki tidak ada hubungan dengan semua ini!" teriak Farel.
"Kau ingin tahu kebenarannya? Baiklah aku akan menceritakan segalanya!" ucap Rahman.
***
5 jam sebelum acara ….
"Apakah sudah beres semua rencana yang kita lakukan, Farel?" tanya Maya, "aku tidak ingin kesalahan. Aku sudah muak melihat Emilia si wanita munafik seperti Surti itu!" ucap Maya.
Rahman mendengarkan dari balik pintu kamar, "Jadi mereka merencanakan sesuatu? Pantas saja, kamu berubah menjadi sangat baik," batin Rahman.
Ia langsung pergi ke lantai bawah mencari Broto, "Broto! Jawab yang jujur, kamu sudah ikut denganku bukan hitungan hari, minggu, atau bulan. Bahkan, sudah hampir 20 tahun. Kamu tahu bagaimana aku, Maya, Delia, Bukan?"
"Iya, Pak!" jawab Broto takut-takut.
"Katakan ke mana saja kamu diajak oleh Maya? Jangan takut, aku yang menggaji kamu!" ujar Rahman dengan dingin. Broto semakin takut dengan tatapan majikannya yang terkenal baik dan tidak pernah marah.
"A-anu Pak, kemarin Nyonya membawa saya ke toko pakaian yang kemarin Bapak kunjungi, tapi saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Sepertinya Nyonya marah-marah atau bagaimana, soalnya wajahnya menyeramkan Pak, keluar dari toko itu," ucap Broto.
"Oh, setelahnya …."
"Anu Pak, Nyonya membawa saya ke rumah Non Hana. Saya tidak tahu juga apa yang mereka bicarakan, Pak!" ujar Broto jujur.
"Baiklah! Lanjutkan pekerjaanmu!" ujar Broto, " oh,antarkan aku ke perusahaan Deffri!" ajak Rahman, "kamu merencanakan sesuatu, Maya! Aku akan membongkarnya," batin Rahman.
Sesampainya di perusahaan Deffri, "Papa! Mengapa Papa kemari? Bukankah acaranya sekitar 5 jam lagi?" tanya Deffri mengajak mertuanya duduk di kantornya.
"Deff, kamu yakin ingin menikahi Emilia, Nak?" tanya Rahman.
"Tentu, Pa! Bukankah, Papa sudah merestui kami? Memang ada apa?" tanya Deffri bingung.
"Papa hanya ingin bertanya, akan hal itu saja, Nak. Oh, iya siapa teman kamu yang polisi itu?" tanya Rahman.
"Papa ingin mengundangnya juga, katakan tidak usah membawa apa-apa, Papa hanya ingin dia datang ke Hotel B jam 3 sore untuk menemui Papa di kamar 68, Papa tunggu!" ujar Rahman pulang begitu saja.
"Aneh, Papa ini. Ada apa, sih? Tapi, amanat orang tua," batin Deffri menelepon Azmi.
***
Tiga Jam sebelum acara ….
"Baik, Om! Aku akan memasukkan anggotaku sebagai pelayan," ucap Azmi.
"Terima kasih, Nak! Kasihanilah orang tua ini!" ujar Rahman.
"Jangan begitu, Om! Aku mengenal Deffri, Afiqah, dan Emilia juga temanku sekolah! Aku akan berusaha untuk membantu semuanya," balas Azmi.
Azmi langsung menyuruh dua orang intel miliknya menyusui memakai pakaian pelayan, keduanya memantau apa yang dilakukan oleh Maya dan dua orang suruhannya yang bukan pelayan. Mereka melihat apa yang dilakukan Farel yang cek in di hotel B dengan nama Delia.
Kedua polisi yang menyamar langsung dengan mudah menyusup ke dalam kamar melihat apa yang mereka lakukan. Mereka menemukan kamera tersembunyi di sana dan melapor kepada Rahman dan Azmi.
Rahman menatap Maya dan mengawasi semua gerak-gerik Delia, Farel, dan Maya. Ia mengikuti semua sandiwara Maya dan berpura-pura tidak tahu, "Aku harus melindungi Emilia, aku takut ... jika Maya ingin menjebak Emilia dengan pria asing sehingga Deffri mengurungkan niatnya untuk menikahi Emilia," batin Rahman mengatur Emilia duduk di sisinya mengenalkan pada semua kolega.
"Anak ini, sangat luwes dan mudah bergaul juga mudah mendapatkan kontrak kerja sama, mirip Afiqah!" batin Rahman. Ia menyuruh Broto untuk mengawasi ke mana pun Emilia pergi bahkan ke kamar mandi, "awasi terus Emilia! Jangan sampai ada yang menyakitinya, begitu juga dengan kedua cucuku," ujar Rahman dingin.
"Baik, Pak!" balas Broto, "Mbok Surti, tolong awasi Keano dan Amara jangan sampai ada yang membawanya, jangan menjauh dari ballroom hotel!" pesan Broto.
"Memang ada apa, To?" tanya Surti bingung.
"Sudah, Mbok lakuin aja, ntar Bapak marah!"
"Ya, sudah!" balas Surti patuh membawa Keano dan Amara duduk manis di ruangan pesta.
***
Satu jam di saat puncak acara ….
"Permisi, Pa! Aku mau ke kamar mandi!" pamit Deffri seusai berdansa dengan Emilia ia merasakan sesuatu mulai kacau di benaknya hingga ia ingin membasuh wajah dan kepalanya, ia merasa pusing, "Aku cemburu, kala Farel bersama Emilia," batin Deffri pergi ke kamar mandi, "kepalaku pusing sekali!" lanjut batinnya.
Saat Deffri mencapai pintu kamar mandi dua orang langsung membekap mulutnya dengan saputangan dan membawanya ke kamar.
Polisi yang menyamar langsung mengikuti mereka, setelah kedua pelayan gadungan ke luar, kedua polisi tersebut memindahkan Deffri ke kamar 68 yang sudah di siapkan Rahman untuk Azmi melakukan penyelidikan.
"Bripda Firman masuklah ke kamar dan matikan semua lampu, berpura-puralah kamu berbaring di sana seakan kamu adalah Deffri. Tubuhmu hampir sama tinggi dan bentuknya, sehingga aku yakin siapa pun yang masuk tidak akan curiga. Untuk sementara Bripda Seno, mematikan saluran lampu ke kamar 69," perintah Azmi.
"Siap, Komandan!" balas keduanya langsung bergerak.
Bripda Firman berbaring di dalam kamar gelap tersebut. Krieet!
Delia masuk dan meraba tubuh Firman dan membuka baju kemudian berbaring memeluk tubuhnya, ia langsung membekap mulut Delia dengan saputangan yang dibubuhkan obat bius. Setelah Firman ke luar dari ruangan, ia kembali ke kamar 68, mereka melihat melalui monitor dari kamera yang dipasang di kamar 69 juga di seluruh koridor hotel dari lantai 1 ballroom dan setiap lantai kamar.
"Farel? Hm, dialah biang keroknya," ucap Azmi geram, "sergap dia, buat dia pingsan juga! Dia harus merasakan apa yang dirasakan oleh mangsanya," lanjut Azmi masih melihat melalui monitor laptop dimana Farel bergerak meninggalkan pesta menuju lift dan menekan lantai 5.
"Kalian berdua masuk kembali ke kamar untuk menyergapnya!" ucap Azmi. Keduanya secepat rubah menyelinap ke kamar 69, bersembunyi di balik pintu.
***
Farel melangkah dengan riang, "Tamatlah riwayatmu, Deffri Hariansyah. Emilia, kau pasti menangis pilu, hahaha!" lirih Farel.