I Can Live Without You

I Can Live Without You
Kebimbangan dari sebuah rasa Emilia



Maya berusaha untuk tidur tetapi bayangan Deffri akan menikahi Emilia yang ia sendiri pun tidak mengenal siapa wanita tersebut secara gamblang, "Apakah wanita yang kemarin bertemu denganku di sekolah Amara?" batin Maya mengingat wajah Emilia, "aku akan mencari tahu siapa wanita bernama Emilia itu?


"Apa sih yang menjadi kelebihannya? Sehingga Deffri tidak menginginkan Delia yang sangat cantik?" lanjut batin Maya. 


Ia masih mengingat setiap detail wajah Emilia dan putranya, "jadi itu putra Farel? Sangat mirip dengan Farel."


Ia semakin menerka-nerka banyak hal, "aku tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Deffri. Aku rasa Farel akan dengan  senang hati membantumu, aku melihat jika ia tidak begitu menyukai jika Deffri menikahi Emilia.


"Ada apa sebenarnya? Apakah Farel masih mencintai Emilia? Kasihan Hana jika itu benar-benar terjadi," batin Maya.


Maya membayangkan dan berusaha untuk mencari kubu untuk melawan Deffri, "aku harus mencari akal agar Delia dan Deffri menikah! Apa pun caranya," batin Maya.


*** 


Deffri menatap langit kamar ia merasa kehampaan di sisinya ia hanya menatap ranjang itu sudah sangat lama kosong semenjak 7 tahun yang lalu, ia membaringkan tubuh menatap guling di sisinya bayangan Afiqah dan Emilia bergantian di sana.


"Emilia …," lirih Deffri meraba sisi tempat tidurnya yang kosong.


Sebuah hasrat dan kerinduan menyala menerpa jiwa dan raga Deffri sebagai insan biasa yang hanya terbalut kulit, darah, dan hasrat ia pun merindukan sesuatu belaian kasih sayang. 


"Sudah terlalu lama aku puasa, apakah rasa itu masih tetap sana apakah berbeda?" batinnya membayangkan sebuah adegan roman di sana, ia ingin merasakan lagi dan lagi semua biduk rasa cinta yang indah.


"Ya Allah, aku hanya mampu berdoa, jika benar Emilia adalah jodoh yang kamu Engkau kirimkan kepadaku, aku hanya minta dipermudahkan segala-Nya," doa batin Deffri.


Kerinduan dan keinginan juga harapan mulai bersemi di batin Deffri ia benar-benar tidak pernah membayangkan jika rasa cintanya yang dipendam sekian puluh tahun akhirnya menyapa hidupnya yang gersang.


***


Sementara beberapa kilometer dari rumah Deffri Emilia memeluk Keano yang sedang tertidur di sisinya, "Apakah Amara sudah tidur?" batin Emilia bertanya ia masih memikirkan banyak hal mengenai Amara dan Deffri, "apakah aku akan menikahi Deffri? Tapi … aku tak lagi bisa memiliki keturunan," batin Emilia gusar.


Bayangan kesedihan dan kegilaan yang telah terjadi kemarin di kehidupannya mulai membayangi langkah Emilia, ia semakin gamang untuk menatap esok,


"Mungkinkah Deffei berbeda dengan Farel? Apakah semua pria itu sana? Ya Allah, aku harus bagaimana?" batin Emilia bingung. 


Ia turun dari pembaringan membuka jendela memandang gemerlap cahaya Kota Karangsari, "Apakah hidupku harus begini selamanya? Apakah takdirku harus menikah lagi? Aku tidak pernah membayangkan jika hidupku akan seperti ini.


"Aku tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang janda, hah!" lirih Emilia. Ia menatap kerlip lampu di kejauhan menjanjikan sebuah kebahagiaan untuk suatu harapan yang indah.


Bayangan wajah Deffri menari di pelupuk mata, "Mengapa bayangan Deffri selalu menghantui diriku? Apakah aku telah jatuh cinta padanya?" batin Emilia bertanya.


Namun, kenangan pahit saat menikah dengan Farel membuat Emilia semangkin takut untuk merindukan dan membuka hatinya, "bagaimana jika Deffri juga melakukan hal yang sama kepadaku? Oh, Tuhanku, aku bisa gila nantinya!" batinnya.


***


Pagi telah berganti, semua orang melakukan aktivitas masing-masing Emilia telah berada di toko baju miliknya.


Seorang wanita yang tidak lain adalah Maya meminta kepada supirnya Broto untuk mengantarkannya ke toko pakaian milik Emilia, "Broto kamu tunggu di sini!" ujar Maya, "jangan katakan kepada Bapak, 'Jika saya kemari,' kamu akan tahu sendiri akibatnya," ancam Maya.


"Baik, Nyonya!" balas Broto, "aduh, matilah, aku! Semalam suaminya sekarang istrinya, apakah yang mereka lakukan kepada si pemilik toko ini? Aku harus bagaimana?" batin Broto cemas.


Maya menatap toko pakaian milik Emilia, "Hanya toko pakaian seperti ini saja, kecil bagiku untuk menghancurkannya," batin Maya senang, "tidak akan ada wanita yang menolak uang, bukan? Begitu juga dengan wanita bernama Emilia ini. Aku yakin dia akan meninggalkan Deffri jika aku beri uang sekoper!


"Hahaha, um! Lihat saja, Deffri! Wanita yang kau cintai tak lebih dari sampah! Buat malu saja," batin Maya senang. 


Ia merasa jika Emilia adalah wanita yang murah digertak dan wanita yang sama dengannya, yang silau akan harta benda. Hingga meninggalkan harga diri miliknya, ia berjalan dengan sebuah kepercayaan yang tinggi memasuki toko milik Emilia.


"Ada yang bisa dibantu Bu?" tanya Mira dengan lembut.


"Saya mau lihat-lihat dulu, selain itu saya mau ketemu pemilik toko ini," balas Maya dengan sinis menatap ke arah Mira.


"Ada perlu apa, Bu? Sayalah pemilik toko ini," balas Emilia menghampiri Maya, "bukankah ini nenek Amara? Deffri sudah menceritakan sekelumit perjodohan yang dilakukan mertua tirinya kepada Deffri.


"Apa yang diinginkan wanita angkuh ini? Apakah dia ingin aku menjauhi Deffri?" batin Emilia semakin bingung.


"Oh, jadi kamu yang namanya Emilia?" ucap Maya menatap Emelia dari ujung kaki hingga ujung rambut mengitari tubuh Emilia dengan rasa kebencian dan ketidaksukaan yang sengaja diperlihatkannya.


"Memang ada apa Bu?" tanya Emilia mengangkat bahunya tinggi-tinggi ia sudah lelah dilecehkan dan dianggap sampah yang tidak berguna, "aku tidak akan menyerah dan membiarkan seseorang untuk menghinaku lagi," batin Emilia.


"Aku hanya ingin menawarkan uang kepadamu! Kamu pastinya tahu siapa aku. Aku adalah ibu mertua Deffri, yeah kau tahu. Kami ingin menjodohkan Deffri dengan wanita yang pantas, bukan seorang janda yang … ya, miskin seperti kamu," balas Maya berhenti tepat di depan Emilia mengipas-ngipaskan tangannya seakan ia tidak suka berhadapan dengan Emilia yang masih menatap tajam ke arah Maya.


Emilia masih menunggu kelanjutan arah dari semua pembicaraan yang akan dilakukan oleh Maya kepadanya, "Saya tidak membutuhkan uangmu, Bu! Saya rasa saya bisa mencukupi diriku dan putraku. Lagian, apa maksud Ibu dengan memberiku uang? Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Emilia, "aku yakin Maya merencanakan sesuatu!" batin Emilia.


"Aku sangat yakin kamu pintar! Kamu juga pasti tahu apa yang aku maksud," pancing Maya.


"Aku tidak bisa menyimpulkan dengan tepat apa yang kau maksud, Bu. Tapi, maaf aku rasa aku bukan wanita sematre dirimu. Selalu silau akan harta dan uang hingga menghalalkan berbagai cara untuk meloloskan semua keinginanmu!" ketus Emilia.


"Katakan saja apa yang kau inginkan? Jika aku bisa mengabulkan akan aku kabulkan! Jika tidak, maaf saja kau harus angkat kaki dari sini!" balas Emilia tegas.


"Sombong sekali! Tokomu pun bisa aku beli! Jika kau tidak mau mengikuti keinginanku dengan menerima uang yang aku berikan atau kau ingin berapa milyar untuk usahamu agar kau tak lagi mendekati Deffri," ujar Maya.