
Emilia masih berbaring dan berpikir keras akan segala kemungkinan, "Siapa yang telah nekat melakukan semua ini? Dan siapa yang paling diuntungkan?" batin Emilia mulai bertanya-tanya.
Semalaman Emilia tidak tidur ia masih terus berusaha untuk menggapai semua kemungkinan yang membuat segalanya menjadi kacau balau. Namun, ia masih belum menemukan solusi untuk semua itu.
Hingga akhirnya pagi datang, Emilia memutuskan untuk tidak kembali dulu ke Kota Karangsari melainkan pergi ke perusahaan Dino, "Aku ingin tahu perusahaannya beneran ada atau hanya fiktif belaka," batin Emilia.
Ia buru-buru bangun melakukan sholat dan mandi ke luar dari kamar dan mempersiapkan makanan yang bukan kesukaan Deffri.
"Pagi, Em! Kamu sudah rapi banget, mau ke mana?" tanya Deffri bingung, "apakah kamu ingin pulang ke Kota Karangsari!" tanya Deffri bingung, "apakah Emilia akan meninggalkanku lagi?" batin Deffri menatap tajam ke arah Emilia.
"Bukan, aku hanya ingin mengajakmu ke perusahaan! Aku ingin tahu saja, apakah tidak boleh?" tanya Emilia menatap ke arah Deffri.
"Tentu saja, baiklah! Kita sarapan dulu," ujar Deffri senang. Emilia masih menatapnya tetapi kala Deffri melihat sarapan pagi ia hanya terdiam.
"Em, kamu tahu aku tidak suka ikan gurame asam manis! Kamu kok masak gitu, sih?" komplain Deffri.
"Apa iya?" tanya Emilia pura-pura tidak tahu.
"Ya, ampun, Em! Sejak kapan sih kamu lupa? Kamu 'kan tahu kalau aku makan ini langsung alergi? Aku 'kan alergi dengan nanas!" ujar Deffri, "atau kamu masih tidak mempercayai jika aku bukan Deffri, begitu? Lalu aku harus bagaimana lagi, Em? Apakah kita harus tidur bersama dulu biar kamu yakin jika ini adalah aku?" tanya Deffri.
"Apa? Kamu jangan gila!" umpat Emilia walaupun dia sangat merindukan belaian suaminya yang sudah 6 bulan ini tak lagi pernah merasakannya. Namun, ia masih belum yakin jika Dino adalah Deffri.
"Lalu aku harus bagaimana, Em?" ucap Deffri bingung.
"Sudahlah!" balas Emilia mengambil nasi goreng seafood kesukaan Deffri.
"Ini sarapanmu, yang itu biar aku yang makan!" ucap Emilia.
Keduanya makan dengan diam setelah makan mereka pergi ke perusahan Deffri. Ia mengenalkan Emilia kepada semua orang, "Perusahaan kamu sangat hebat, Pak Dino! Sangat maju pesat!" balas Emilia.
"Aku beruntung membuat perusahaan ini dan tidak pernah kemari awalnya. Saat kejadian, aku mengingat aku masih punya perusahaan ini tanpa pernah aku kunjungi karena aku merasa perusahaan ini hanya memberi laba sedikit tiap tahunnya.
"Saat aku di sini selama 6 bulan ini, aku merasakan jika keuntungannya luar biasa. Aku hanya kurang menangani dan memperhatikannya saja selama ini," balas Deffri tersenyum.
Emilia melihat di meja kerja Deffri ada fotonya dan anak-anak. Emilia menyentuh bingkai foto tersebut, "Kamu pasti sangat merindukan kami," ujar Emilia terenyuh, "bukan hanya kamu saja Deff yang rindu! Aku juga sangat merindukan kamu," batin Emilia.
"Tentu, setiap waktu! Aku sangat merindukan anak-anak, celotehan, dan tawa mereka dan sangat merindukan masakan, cerewet, dan belaianmu di tempat tidur, Em! Andaikan saat ini bisa kita melakukannya lagi," tukas Deffri memandang wajah Emilia yang menatap dirinya.
Bayangan wajah keduanya terbentuk dari bola mata menandakan sebuah kerinduan ada di sana. Namun, "Wajah itu! Aku tidak tahu itu wajah siapa? Aku tidak bisa bercinta dengan yang bukan suamiku. Walaupun faktanya kamu adalah suamiku Deff, aku tidak bisa melihat wajah itu. Seakan-akan aku diperkosa oleh orang lain," balas Emilia.
"Aku tahu, aku tergoda ingin mengoperasi wajahku, tapi aku tak tahu apakah itu akan kembali sama atau tidak! Aku takut jika semakin parah," balas Deffri.
"Yang kita pikirkan siapa yang paling diuntungkan di dalam semua musibah kita ini? Apakah kamu punya orang yang sangat kamu curigai, Deff?" tanya Emilia.
"Aku tidak tahu. Jika berbicara mengenai saingan bisnis aku rasa aku punya banyak, tapi aku tidak bisa mengatakan siapa yang akan paling tega untuk melakukan semua itu? Aku tidak tahu, Em!" balas Deffri.
Keduanya kembali diam, Emilia memperhatikan Deffri selalu saja bekerja dengan cekatan, satu hal yang selalu membuat Emilia tak pernah lupa dibalik sibuknya seorang Deffri dia selalu saja punya cara untuk memperhatikan dirinya dan anak-anak.
Tok! Tok!
"Masuk!" ucap Deffri
Seorang wanita cantik masuk dengan tubuh bak peragawati berlenggak-lenggok dengan pakaian super duper ketat di sana, seakan gundukan kembar di dadanya ingin melompat keluar karena tak lagi muat di sanggahan yang terlalu sempit.
"Maaf, Mas! Apakah Mas terlalu sibuk?" tanyanya langsung duduk di meja Deffri.
Ia tak peduli jika ada Emilia di sana, "Ya, saya sangat sibuk sekali! Ada apa Nona Tina?" tanya Deffri.
"Papa mengundang Mas untuk makan malam," ucap Tina.
"Maaf saya sedang bersama dengan calon istri saya! Kenalkan Nona Tina ini calon istri saya, Emilia ini Tina." Deffri langsung membuat batasan, ucapan Deffri membuat Tina sedikit terperanjat.
Tina menatap ke seluruh tubuh Emilia, ia merasa jika Emilia sangat tidak pantas menjadi istri seorang Dino yang sangat tampan.
"Emilia!" ucap Emilia mengangsurkan tangannya.
"Tina!" balas Tina tapi tak menjabat tangan Emilia.
"Kalau begitu bawa saja calon istrimu Mas, biar dia tahu sekalian jika Papa ingin menikahkanku denganmu!" ujar Tina.
"Apa! Kamu ingin menikah, Mas Dino?" tanya Emilia ia sangat marah tetapi ia berusaha untuk mengikuti sandiwara Dino dan Tina, "apa yang sebenarnya terjadi?" batin Emilia penasaran.
"Sepertinya aku sedang sibuk! Aku sudah mengatakan jika aku tidak mau menikahimu. Aku sudah punya calon istri" balas Deffri.
"Tidak apa-apa, Mas! Aku sangat ingin makan malam dengan keluarga Tina!" balas Emilia.
Deffri menatap wajah Emilia bingung, "Maksud Emilia apa, sih? Selama ini aku selalu saja menolak ajakan Tina. Mengapa dia malah memberi kesempatan?" batin Deffri bingung.
"Ayolah, Mas! Ajak aku main-main, kamu selalu saja sibuk bekerja," rengek Emilia menyelipkan tangan ke selipan tangan Deffri membuat Tina mengepalkan tangan.
"Baiklah! Balas Deffri tak kuasa mengabaikan rengekan Emilia, "baiklah, Nona Tina. Katakan saja restoran mana yang akan kami datangi?" ujar Deffri.
"Bukan di restoran tapi sebuah hotel bintang lima di Jalan Setia Budi Mas!" rengek Tina berusaha untuk manja.
Namun, Deffri malah sedikit risih akan sikap Tina yang menurutnya sangat aneh dan ngeselin.
"Maaf, Nona Tina tolong jauhkan tangan Anda dari tangan saya!" hardik Deffri.
Hardikan Deffri membuat Tina sedikit terkejut ia tak menyangka jika Dino melakukan hal itu padanya dan tidak pada Emilia.
"Sialan! Dino benar-benar membuat diriku sangat malu! Aku akan membalas semua perlakuan kalian padaku!" umpat Tina.