
Deffri membawa Emilia ke rumah Azmi, ia kebingungan harus bagaimana, "Deff kita mau ke mana? Ini rumah siapa?" tanya Emilia di antara sadar dan tidaknya, "Deff, aku mohon! Jangan macam-macam," lanjut Emilia mulai panik dan bergairah.
"Ini rumah Azmi Rahardika, teman kita sekolah dulu! Masa kamu nggak ingat, sih? Sebangku denganku yang kurus kerempeng itu loh," ucap Deffri berusaha menjelaskan sesuatu kepada Emilia.
Ia memarkirkan mobil di dalam garasi, "bersyukur ... nih, garasi nggak penuh mobil. Jika penuh mampuslah, aku! Kirain tetangga aku nyulik anak gadis orang," batin Deffri.
Ia membuka pintu mobil dan membopong Emila yang masih meronta-ronta aneh di gendongan meliuk-liuk bagaikan ular yang ingin merayap di tubuh Deffri, "Em, jangan lakukan, itu? Aku bisa gila …," ujar Deffri kala Emilia mulai berani menyapukan bibirnya ke leher Deffri.
"Deff …!" lirih Emilia begitu menggoda dengan suara parau, serak-serak basah ibarat kerupuk tersiram air. Deffri berusaha untuk membuka kunci rumah, tapi berulang kali anak kunci terjatuh, ia begitu kebingungan mengendalikan sesuatu yang mulai bangun di bawah sana.
"Em, please! Jangan gila, dong!" lirih Deffri, hasratnya seketika mulai jungkir balik bersalto ria di udara.
Bisik-bisik tak jelas mulai bergema dari bibir Emilia bagaikan kumbang yang berdengung aneh, menggoda sesuatu. Deffri segera meletakkan Emilia di lantai dan mengambil anak kunci dan membuka pintu, ia memanggul tubuh Emilia bagaikan sebuah karung beras,
"Nah, ini baru benar!" batin Deffri sedikit lega, karena Emilia sedikit kesulitan untuk berbuat aneh kepadanya. Defri meletakkan tubuh Emilia di sofa namun, Emilia yang terus bergulingan di sofa, membuat Defri khawatir jika dia akan menabrak meja kaca.
Ia kembali meletakkan Emilia di karpet di depan TV, "Emilia, sadarlah!" ucap Deffri ia masih saja mengikat kedua tangan Emilia yang mulai berusaha untuk menarik bajunya, "Deff, panas banget!" keluh Emilia.
Deffri menyalakan AC sedingin-dinginnya, tapi Emilia masih saja bergulingan tak tentu arah.
"Deff, kamu kok begitu tega, sih?" rengek manja Emilia membuat desir aneh di jiwa raga Deffri.
"Em, kamu mengerikan!" ujar Deffri bergidik, "nggak nyangka Emilia bisa selembut dan semenarik itu?" batin Defri, mau tidak mau Deffri melirik ke wajah Emilia yang bersimbah peluh dan mendambakan sesuatu di sana.
"Aku haus, Def!" lirih manja Emilia.
"Bentar!" balas Deffri, ia langsung mencari sesuatu di dalam kulkas, membuat susu hangat dan memberikan kepada Emilia.
"Aku nggak mau ini, Deff! Aku mau yang, itu!" rengek Emilia menatap ke arah tubuh sensitif Deffri.
"Jangan gila, Em! Kamu ini, entar kamu nyesel tahu." Deffri mulai bingung dan jenuh ia benar-benar takut tergoda akan Emilia, ia menyibukkan diri di dapur mencoba membuka ponsel dan mencari si Mbah Google yang serba tahu.
"Deff, tolong aku Deff! Aku sudah nggak tahan, ini …!" lirih Emilia berulang kali.
"Sial, tidak begitu spesifik penjelasan si mbah ini," umpat Defri,
"um, merendamnya di air dingin," ujar Deffri membaca salah satu keterangan si Mbah Google. Ia langsung memanggul tubuh Emilia tetapi Emilia yang sedikit mulai berani untuk menyentuh tengkuk Defri dengan bibirnya.
"Deff ... ayo, dong?" pinta Emilia.
"Coba, kalau kamu sadar. Boro-boro mau bicara manis manja group, ngomong lembut saja senewen, hadeh!"omel Deffri kesal dan lucu. Deffri sempat tergoda untuk mengabadikan segala tingkah laku Emilia namun, ia tak kuasa jika ada yang usil dan mengetahui semua perilaku Emilia akan membuatnya malu.
Deffri membawa Emila ke kamar mandi menghidupkan shower dan meletakkan Emilia di bawahnya ia terus menyirami tubuh Emilia.
"Deffri, kamu gila!" teriak Emilia. Namun, Deffri tidak peduli ia terus saja menyemprot tubuh Emilia, Deffri melihat sedikit demi sedikit tubuh Emilia menggigil, ia nerusaha untuk ke luar dari bathtub. Namun, Deffri kembali memasukkan Emilia ke sana, ia mengikat kedua kaki Emilia agar tidak bisa bergerak.
"Kumohon, berbaringlah, Em. Demi kebaikan kita bersama, aku mohon," ucap Deffri, "kamu mau marah terserah! Daripada kita melakukan dosa, lebih baik begini saja!" umpat Deffri.
Semalaman Emilia berada di bathtub berendam hingga ia mulai lelah dan tertidur di sana, "Kasihan sekali, kamu Em. Kamu ngapain aja, sih? Sampai bisa begini?" batin Deffri.
"Hadeh aku pakaiin baju apa nih, anak?" Deffri mulai bingung. Ia mengingat jika di mobilnya ia baru saja membeli baju untuk Surti pengasuh Amara putrinya, "pakai baju Surti sajalah," batin Deffri langsung mengambil baju tersebut dari dalam mobil.
Deffri mulai panik bagaimana caranya mengganti baju Emilia, "benar-benar, sial! Apakah aku harus tertawa atau menangis, sih? Ini namanya makan buah simalakama, dimakan aku mati nggak dimakan aku keracunan," Deffri menggeleng-gelengkan kepalanya. Antara hasrat kelelakian dan ketabahan mulai berperang di jiwanya.
Ia melihat lekukan tubuh Emilia yang menggoda, "ckckck, dilihat berdosa ... nggak dilihat … mubazir, ampun Makk! Salah apa aku?" keluh Deffri menelan ludahnya.
Bisikan malaikat dan setan mulai bergerilya adu senjata untuk menggoyahkan dan meneguhkan iman seorang Deffri Hardiansyah.
Ia mulai membopong Emilia ke tempat tidur tamu milik Azmi menutupi tubuh Emilia dengan selimut dan mulai melepas satu demi satu baju Emilia dan menggantinya dengan sebuah Daster.
"Mengapa wanita selalu saja menggunakan banyak benang, sih? Pemborosan!" umpat Deffri tangannya mulai bersentuhan dengan kulit Emilia yang sangat lembut bak pualam, tangannya mulai gemetar tak karuan.
Keringat dingin membanjiri tubuh Deffri ia bingung, bayangan keindahan malam-malam yang pernah dilewati bersama Almarhumah Afiqah istrinya mulai merayu mengajaknya mengulangi hal itu. Sebagian jiwa Deffri ingin menembus pertahanan keimannya sebagian lagi ingin bertahan, "aku tidak ingin, menyakiti Emilia! Aku juga tidak ingin, Amara putriku akan mendapatkan hukuman karena perbuatan bejatku," mantra yang berulang-ulang dilafalkan oleh Deffri benar-benar manjur.
Ia bernapas lega dan jatuh termenung di lantai merebahkan tubuh menikmati dingin lantai, Deffri memejamkan mata menikmati sesuatu yang mulai menyiksa dirinya di sana, "sebaiknya aku pindah ke ruangan lain. Jika tidak! Aku bisa gila!" umpat Deffri.
Ia ke luar dari kamar di mana Emilia tertidur, Deffri melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi, "Gila! Jadi hampir 8 jam, aku nemenin Emilia dengan keabnormalannya?" batin Deffri, "Emilia kamu benar-benar menyiksa kejantananku!" umpatnya kesal.
Suara Adzan bergema dari Masjid, ia langsung mandi menuntaskan hasrat yang tertinggal di sana. Ia tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi dilema yang sedang menyerangnya, "jika ini ujian! Mengapa ujiannya harus seperti ini?" ketusnya murka di bawah shower.
Deffri berharap dinginnya air mampu menuntaskan segala hal yang menyiksanya ia menyudahi acara mandi dan menunaikan kewajibannya sebagai muslim.
Deffri mulai mengantuk, dan ia tertidur di sofa di ruang keluarga.