I Can Live Without You

I Can Live Without You
Cinta kelapa



Emilia dan Deffri tidak menyadari jika kedua anak mereka telah meninggalkan keduanya di dapur, di depan wastafel saling pandang, "Eh, aku-" ujar Emilia bingung.


"Aku tidak memintamu untuk menjawabnya, Em. Aku hanya ingin kamu tahu apa yang aku rasakan, hanya itu, saja!" balas Deffri menggenggam kedua belah tangan Emilia.


"Deff … aku tidak tahu apa yang aku rasakan? Aku masih bingung, kamu tahu aku baru saja bercerai. Antara aku dan kamu, kasusnya berbeda, Deff!" ucap Emilia.


"Aku tahu, Em! Tapi … aku harap jangan pernah menutup pintu hatimu," ujar Deffri masih menggenggam tangan Emilia dan menatap bening indah bola matanya, "aku tahu antara kamu dan aku berbeda kasus, tapi aku dan kamu sama-sama sendiri dan membutuhkan seseorang disamping kita, untuk membesarkan kedua buah hati kita. 


"Amara butuh seorang Ibu dan Keano butuh sosok seorang Ayah, Em. Aku tahu, kamu belum bisa membuka hati kamu, tapi aku harap jangan tutup pintu hatimu, Em!" papar Deffri.


"Maukah kamu menungguku sampai aku siap, Deff?" pinta Emilia menatap wajah tampan Deffri, "kamu cukur tuh, kumis dan jambang kamu. Kamu seperti mafia India saja," balas Emilia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan serius mereka.


"Hahaha, um, kayaknya dulu sewaktu SMA ada yang tergila-gila dengan pria berjambang dan berkumis. Kamu tahu, aku sampai mati-matian ingin menumbuhkan semua ini, sialnya! Nih, tak juga tumbuh, begitu kuliah, gila! Wajahku jadi hutan belantara," balas Deffri tersenyum.


"Hahaha, kamu ini. Memang kamu tahu dari mana, sih? Kamu banyak tahu kisahku dulu. Sementara aku sama sekali tidak mengingatmu," balas Emilia bingung dan membiarkan tangannya masih berada di dalam genggaman tangan Deffri.


"Ya  tahulah, Sayang! Namanya aku suka kamu, kamu yang nggak suka aku. Dahulukan, cintaku ... cinta kalapa, aku cinta kamu nggak apa-apa, tuh!" balas Deffri mengingat rasa kagum dan terpesonanya kepada Emilia.


"Hahaha, masa, sih? Kamu kok nggak ngomong gitu?" tanya Emilia bingung.


"Memang kalau aku ngomong? kamu akan menerimaku?" tanya Deffri menatap Emilia, "ya ampun Em, kamu lagi pacaran dengan si Rian. Jadi, ya ... aku tunggu kamu putus dengannya. Yeah, malah nggak putus-putus, aku kita kamu akan menikah dengan Rian," balas Deffri.


"Tidak, nggak jodoh! Kami pisah saat ia melanjutkan kuliah ke Bandung dan aku di Medan. Ya, begitulah," balas Emilia tersenyum.


"Aku ada nomornya, kalau kamu mau teleponlah, dia!" goda Deffri.


"Yee, buat apa? Dia juga sudah bahagia dengan istrinya, aku bukan pelakor. Aku tahu dia bahagia, aku udah senang kok." Emilia tersenyum menatap wajah Deffry kedamaian dan kebingungannya selalu saja menghentak di sana.


"Ya, siapa tahu!" goda Deffri.


"Ah, yang benar! Ntar aku telepon, kamu cemburu!" goda Emilia membalas.


"Cemburu sih, pasti namanya aku sayang kamu, Sayang. Tapi  kalau kamu merasa Rian bisa buat kamu bahagia dan Keano aku bisa apa?" ujar Deffri, "aku akan rela melepaskanmu asal kamu bahagia Em," lanjut Deffri.


"Masa?" goda Emilia.


"Ya, iyalah!" balas Deffri.


"Itu tandanya kamu nggak cinta sama aku, kalau cinta kamu akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk memperjuangkan dan mempertahankan diriku," balas Emilia.


"Memang kamu mau? Aku pertahankan dan aku  sampai darah penghabisan?" tanya Deffri merengkuh tangan Emilia ke dadanya.


"Aaah, kamu!" balas Emilia menggelitik pinggang Deffri.


"Hahaha, ampun! Ampun, Em! Geli tahu!" balas Deffri berusaha berkelit, "eh, anak-anak ke mana?" lanjutnya.


"Ya, Allah, aku sampai lupa!" balas Emilia celingukan mencari Amara dan Keano. Keduanya berlari mencari ke ruang keluarga, mereka melihat keduanya asyik menonton animasi beruang dan gadis kecil berbaju pink dan memakan sekotak es krim.


"Syukurlah, mereka di sini," ujar Emilia lega.


Kring! Kring!


Ponsel Deffri berbunyi ia langsung mengangkatnya, berbicara dengan cepat dan mengakhirinya. Deffri terlihat sedikit khawatir, "Ada apa, Deff?" tanya Emilia.


"Mbok Surti menelepon, papa Rahman dan mama Maya sedang bertengkar. Mama Maya ibu tiri Afiqah ingin aku menikahi anak gadisnya, Delia," ucap Deffri dengan wajah tidak senang.


"Lalu, mengapa kamu tidak mau? Aku rasa Delia cocok menjadi ibu sambung untuk Amara," balas Emilia secuil rasa di hatinya terluka.


"Kalau kamu lihat dia seperti apa? Kamu juga akan drop, kamu tahu bukan berarti dia tidak seorang wanita, semua orang punya masa lalu. Tapi, aku merasa Delia akan sulit menjadi seorang wanita sesungguhnya yang berkomitmen menjaga keutuhan rumah tangga," balas Deffri.


"Maksud kamu?"


"Suatu saat kamu sendiri akan tahu, Em! Apalagi ternyata Hana istri Farel adalah keponakan dari Maya. Bayangkan, dunia ini benar-benar sempit, aku tidak begitu suka dengan  sikap mama Maya, sehingga aku jarang ke rumah papa Rahman. Aku hanya bertemu dengan papa jika ada urusan di kantor atau di luar kantor saja bersama dengan Amara," papar Deffri.


"Apa? Jadi, Hana ada tautan keluarga dengan almarhumah?" tanya Emilia tak percaya, Deffri hanya menarik napas dan menganggukkan kepala, "dunia benar-benar sempit," balas Emilia, ia sedikit ngeri membayangkan jika ia dan Farel tidak akan pernah lepas.


Deffri menceritakan jika Farel dan Hana bertamu ke rumahnya, tapi ia tidak menceritakan pertengkaran kecil mereka, "Sudahlah, pulanglah Deff. Aku tidak ingin papa dan mama mertua akan semakin bertengkar," ucap Emilia.


"Iya, aku pulang dulu, ya Sayang? Jangan lupa makan, sholat mandi-"


"Minum obat cacing dan tidur, begitu? Kayak masih muda saja, Deff!" balas Emilia tersenyum.


"Anggaplah masa muda yang tertinggal," ujar Deffri tersenyum.


"Kamu ini, nggak malu sama anak-anak!" balas Emilia merona merah.


"Anak-anak kita adalah anak-anak yang luar biasa pengertian. Lihatlah, mereka! Mereka memahami banyak hal dan lebih dewasa daripada kita," balas Deffri.


"Ya, apakah kita terlalu keras mendidik mereka ataukah kehidupan yang menimpa mereka demikian? Aku pun  sudah tak tahu lagi Deff," ucap Emilia menatap kedua buah hati mereka yang masih tertawa bahagia di salah satu sofa berdua menikmati kesederhanaan hidup.


"Semoga kedua anak kita menjadi anak yang baik di dunia dan akhirat, amin!" ucap Deffri.


"Amin!" balas Emilia.


"Sayang, mari kita pulang!" ajak Deffri pada Amara.


"Mengapa kita tidak tidur di sini saja, Pa?" tanya Amara.


"Tidak boleh Kak, kata Mama, 'Kalian boleh tinggal di sini jika Mama dan Om Deffri punya foto pengantin yang gede dipajang di dinding!" jawab Keano.


"Maksudnya? Foto pengantin seperti mama Afiqah dan Papa begitu?" tanya Amara.


"Ya, begitulah!" balas Keano, "benarkan, Ma?" tanya Keano takit salah.


"Iya  Sayang. Itu artinya menikah secara negara dan agama. Jadi, pernikahan itu harus diketahui orang banyak. Agar tidak membuat fitnah dan dosa, Nak!" ucap Emilia.


"Oh, begitu!" balas Amara dan Keano, "lalu, mengapa kalian tidak menikah saja?" tanya Amara dan Keano serempak.