I Can Live Without You

I Can Live Without You
Sebuah perbedaan



***


Masa kini ….


"Sejak mengenal Emilia, Farel berubah ia lebih menyayangi Emilia dengan penuh kasih sayang. Aku tahu walaupun Emilia berusaha menjadi menantu yang baik. Tapi, aku tak begitu menyukainya. 


"Impianku menjadi mertua dari Dahlia kandas! Aku menemui berbagai orang pintar untuk memisahkan mereka berdua. Tapi, aku harus menunggu selama 10 tahun juga agar mereka terpisah. Begitu aku bertemu denganmu, kamu adalah menantuku yang luar biasa, Hana!" ucap Janti membelai rambut Hana.


"Terima kasih, Mama! Tapi, apa yang akan kita lakukan untuk membuat Farrel melupakan Emilia? Dia begitu mencintai Emilia dengan begitu besarnya. Seakan aku dan Delia bukanlah wanita yang bisa membahagiakan dia dan tak pernah menganggap kami ada." Hana menatap ke arah Janti, yang masih membelai lembut rambut Hana.


"Seperti yang aku bilang kita harus menyingkirkan Delia dan Emilia bagaimanapun caranya?" ujar Janti.


"Baiklah, Mama!" balas Hana menyetujui begitu saja apa yang diinginkan oleh Janti.


Keduanya tidak menyadari jika Farel mendengarkan dari balik pintu, "Kedua wanita ini bukanlah manusia!" batinnya. Ia masuk ke kamar Delia, ia melihat Delia meringkuk di lantai, Farel langsung membopong tubuh Delia dan membaringkannya di tempat tidur.


"Aku akan membawa Delia dari sini, sebelum kedua wanita gila itu menyakitinya. Delia tidak salah sebenarnya tapi karena manusia-manusia serakah itu," batin Farel.


Keesokan paginya, Hana terkejut kala melihat Farel ke luar dari kamar Delia, "Mas, apa yang Mas lakukan di kamar Delia?" tanya Hana.


"Jangan lupa Delia juga istriku," balas Farel dingin. Ia meninggalkan Hana yang berada di depan pintu kamarnya.


"Sialan, kau Delia! Benar kata Mama Janti Delia pun harus mampus!" batin Hana.


"Setelah sarapan, Farel membawa Delia pergi ke luar kota dan menempatkan sebuah rumah di sana.


"Kak Kamu yakin dengan semua ini?" tanya Delia.


"Ya, aku tidak ingin mereka mencelakaimu!" keluh Farel termenung.


"Tapi, bagaimana mungkin Kakak yakin jika mereka tidak akan mencelakaiku? Apa mungkin kak Hana akan begitu teganya?" tanya Delia masih saja tidak mempercayai semua hal mengenai Hana dan Janti.


"Buktinya mereka tega memisahkan aku dengan Emilia, bagaimana mungkin mereka tidak tega melakukan hal itu kepadamu?" balas Farel.


Delia terdiam, "Sudahlah, yang penting kamu di sini," balas Farel menyembunyikan Delia.


***


Sementara Emilia masih membuka toko pakaian di mana toko pakaiannya semakin besar dan semakin maju, walaupun Emilia masih saja takut untuk menyayangi Deffri sepenuh hatinya tetapi sebagai istri dia selalu memenuhi semua tanggung jawabnya, "Deffri begitu mudah untuk diurus dan dicintai," batin Emilia tersenyum mengingat wajah tampan Deffri yang selalu tersenyum dan memberikan cinta yang sama besar kepada kedua anak mereka.


"Hai, Ayang!" sapa Deffri dengan riang di ambang pintu.


"Hai, Mas!" balas Emilia .


"Yuk, makan yuk!" ajak Deffri, satu hal yang dipelajari Emilia jika Deffri sedikit manja dan romantis.


"Hm, memang mau makan apa Mas?" tanya Emilia serius menatap suami sekaligus sahabatnya, "mau aku masakin?" tanya Emilia meninggalkan pekerjaannya pada Mira dan dua asisten lain lagi.


"Kita makan di luar saja! Sekali-kali kamu liburlah," ajak Deffri.


"Baiklah," senyum Emilia mengembang meraih tas selempang dan mengikuti suaminya.


"Kita berjalan saja! Aku ingin makan di restoran dekat sini, sekalian ketemu dengan Azmi, Sandy, dan Normi!" ujar Deffri menyebut semua sahabat sekolah mereka.


"Iya, serius! Kamu tahu nggak kalau Normi itu istrinya Sandy!" ucap Deffri sambil menggandeng tangan istrinya berjalan di trotoar menuju ke restoran, sepanjang jalan mereka berbicara banyak hal dan tertawa.


"Eh, Emilia mau ke mana?" tanya salah satu tetangga dengan senyuman.


"Eh, Bu. Mau makan, mari!" sapa Emilia tersenyum.


"Beruntung banget ya, tuh si Emilia dua kali menikah dapat orang tajir semua!" ujar si wanita.


"Orang selalu mengatakan banyak hal yang terlihat, padahal jika mereka tahu yang sesungguhnya Farel bukanlah orang kaya, kami merangkak dari nol!" batin Emilia termenung, "sedangkan Deffri orang kaya pun orang tuanya telah telah mengatakan aku tak mendapatkan apa pun bila Deffri tiada, menyedihkan.


"Jika aku tidak mencari makan, apakah aku masih hidup untuk kedepannya? Sedangkan aku bekerja saja mereka melupakan pekerjaanku," lanjut batin Emilia berkecamuk ia merasakan kesedihan di jiwa raganya.


"Em, ada apa?" tanya Deffri memandang ke arah Emilia. 


"Tidak ada apa-apa!" balas Emilia menggelengkan kepala, tetapi Deffri mengetahui apa yang menjadi kegundahan hati Emilia.


"Jangan dengarkan apa kata orang, jadilah dirimu sendiri Emilia," ujar Deffri.


Emilia hanya menganggukan kepala dan tersenyum, mereka sampai di restoran dan saling berbicara dengan ketiga sahabat mereka, "Nggak nyangka kamu bisa nikah juga tuh sama si Emilia!" ujar Normi.


"Ya, Alhamdulillah siapa sangka!" balas Deffri tersenyum.


"Eh, Deff besok beneran kamu mau pergi ke Kota Bandung untuk perusahaanmu cabangmu?" tanya Sandy.


"Rencana tapi aku belum ngomong juga sama Emilia," balas Deffri.


Emilia tercekat ia merasa antara dirinya dan Deffri tidak begitu saling mengenal. Namun Emilia hanya diam saja, "Mungkin Deffri memang belum ingin pergi," batin Emilia.


Mereka berbicara banyak hal, tetapi Emilia merasa ia sangat jauh di sana ia tak bisa menggapai Deffri, "Deffri terlalu kaya dan tinggi! Aku hanyalah wanita biasa," batinnya bersedih.


Emilia tetap tertawa dan tersenyum 2 jam kemudian Deffri membawa Emilia pergi ke taman kota dan ke pusat perbelanjaan dan menonton bioskop, "Em, besok aku ingin ke Bandung untuk pembukaan cabang perusahaan di sana, aku harap kamu izinkan aku pergi ya?" pamit Deffri setelah mereka usai nonton.


"Ya, berhati-hatilah!" balas Emilia tersenyum.


"Kamu jaga anak-anak ya? Aku tidak  ingin anak-anak kesepian dan bersedih, juga titip Papa Rahman dan Mbok Surti!" ujar Deffri seakan ia akan pergi jauh.


"Ya, ampun Deff! Ada atau tidak adanya kamu, aku tetap akan menjaga mereka, karena mereka adalah keluarga dan bagian dari hidupku sekarang," balas Emilia tersenyum bahagia.


Keduanya saling bergandengan tangan dan tersenyum seharian hingga malam Deffi membawa Emilia menyusuri Kota Karangsari, "Deff, kamu nggak lelah? Bukankah besok mau ke Bandung? Aku tidak ingin kamu kecapean," Emilia mengingatkan suaminya  terkadang Emilia memanggilnya dengan sebutan mas kadang nama depan Deffri.


"Entahlah, Em! Rasanya aku tidak ingin pergi dan meninggalkan anak-anak! Tapi, aku harus pergi! Bagaimanapun papa Budi menyuruhku untuk ke sana," ujar Deffri.


"Deff, sebenarnya mama kamu sudah lama meninggal?" tanya Emilia bingung karena Deffri tidak pernah mengajaknya ke rumah kedua orang tuanya.


"Sudah! Sekitar 20 tahun yang lalu, malah! Kapan-kapan aku ajak berziarah ke makamnya di Pekanbaru. Papa sudah menikah lagi, hubungan dengan papa tidak berjalan dengan baik sejak 20 tahun yang lalu," ujar Deffri menatap deburan ombak.


"Oh," balas Emilia melingkarkan tangan ke pinggang suaminya.


"Ayo, pulang aku ingin merasakan kehangatan tubuhmu istriku sayang!" balas Deffri.