I Can Live Without You

I Can Live Without You
Bahu tempat bersandar kala menangis



Deffri melangkah cepat dan langsung menarik tubuh Emilia merengkuhnya di dalam dekapannya, "Deff …!" lirih Emilia kaget ia malu Deffri berulang kali menemukan dirinya di titik terapuh dan terendahnya.


"Menangislah! Bahuku cukup lebar untuk menampung tangismu," balas Deffri.


"Hiks, hiks!" tangis Emilia semakin tumpah di dalam dekapan Deffri. Hati Deffri begitu luruh dan hancur ia tidak menyangka wanita seperti Emilia benar-benar hancur terluka.


"Deff … aku …!"


"Ssst, menangislah jangan ditahan, jika itu membuatmu lega. Aku tahu bagaimana perasaanmu, Em. aku pasti akan merasa salah jika melarangmu menangis karena bagaimanapun, apa  yang kamu rasakan sangat menyesakkan. 


"Mungkin sebagian orang tidak akan memahami apa yang kamu rasakan. Tapi, bagiku ... aku memahaminya,


percayalah … tumpahkan tangismu sampai kau tak lagi bisa untuk menangis lagi, Em. Jangan tahan semua derita yang kamu rasakan lupakanlah segala sakit dan perihmu, aku ada untukmu. 


"Bahuku selalu saja ada untukmu, kapan pun kamu membutuhkannya. Janjiku, sebagai sahabatmu!" balas Deffri.


Emilia benar-benar menangis ia menumpahkan segala keluh kesah yang dipendam selama beberapa tahun terakhir yang dirasakannya. Ia merasa damai di bahu bidang Deffri, Emilia sedikit merasa malu ia langsung menarik kepalanya.


"Terima kasih, Deff!" ujar Emilia, maaf bajumu jadi basah oleh air mata dan ingusku!" lanjut Emilia merasa bersalah meraih tisu di meja kerjanya dan berusaha untuk melap sisa tangis di baju Deffri.


"Emilia, biarkanlah. Jika engkau menangis  tanpa air mata itu baru aneh," balas Deffri menggenggam kedua tangan Emilia.


"Aku … mengapa kamu tidak tidur, Deff?" tanya Emilia menatap wajah Deffri.


Emilia menyeka ingus dan air mata, "Entahlah, Em. Jika aku tidur aku tidak tahu jika engkau menangis," balas Deffri.


"Maafkan, aku! Aku selalu membuatmu khawatir," ujar Emilia.


"Sudahlah, kamu sedang apa?" tanya Deffri melihat sekelilingnya.


"Aku hanya mengecek barang, aku … kasihan melihat Mira telah banyak membuatnya meng-handle semua pekerjaan sendirian. Rasanya aku tidak bertanggung jawab sekali," ujar Emilia.


"Jangan khawatir, Roni selalu menemani Mira. Aku rasa mereka akan menjadi mitra suatu saat nanti," sambut Deffri.


"Maksudmu? Mitra hukum begitu? Oh, aku lupa bukankah Mira mengambil fakultas hukum ya?"  lanjut Emilia. Kini, ia menyadari telah banyak membuang waktu, "seharusnya aku tidak akan menangis. Seharusnya aku mencari keberadaan Keano," balas Emilia menatap ke arah Deffri.


"Mantap, ini baru seorang Emilia Tantri yang aku kenal. Semangat!" balas Deffri tersenyum.


"Terima kasih Deff!" 


"Sesama teman-"


"Tidak perlu ucapan terima kasih!" sambut Emilia.


Keduanya tertawa bersama, Emilia menyeka air matanya dan tersenyum. Keduanya menghabiskan waktu dengan memeriksa semua stok barang yang masuk ke toko pakaian milik Emilia.


*** 


Seminggu kemudian ….


"Jadi, Farel membawa Keano ke Kota Lamno?" tanya Deffri menatap Azmi.


"Ya, jika kamu mau kamu bisa bawa Emilia ke sana. Agar segalanya menjadi jelas," balas Azmi.


"Baiklah, aku akan membawa Emilia ke sana," ucap Deffri tersenyum bahagia, "aku tak ingin Emilia selalu saja menangis dan bersedih. Kau tahu, ia hanya terlihat tegar di luar dan terlalu rapuh di dalam. Aku ingin dia juga merasakan kebahagiaan, aku tahu perceraian begitu mengerikan baginya.


"Walaupun aku tidak tahu apa yang telah ia lewati di masa pernikahannya, aku hanya berusaha membuat dirinya tersenyum. Terima kasih, Bro!" balas Deffri.


"Syukurlah, aku bisa membantu Emilia. Aku harap kamu jangan mengecewakannya, Deff!" Azmi menatap ke arah Deffri.


"Tentu saja! Percayalah padaku," balas Deffri.


"Baiklah, aku 'kan kembali ke kantorku! Salam sama Emilia," ucap Azmi meninggalkan Deffri.


Ia langsung mengendarai mobilnya di lampu merah ia melihat seorang anak kecil menjajakan bunga, "Tolong, beri padaku semua tangkai mawarmu, Nak!" pinta Deffri.


"Nih, Om!"


"Berapa semuanya, Nak?" tanya Deffri menatap wajah mungil penuh binar bahagia.


"100 ribu Om!"


"Nah, sisanya gunakanlah untuk beli sandalmu," ucap Deffri memberikan 3 lembar uang seratus ribuan.


"Wah, terima kasih, Om!" ujar anak wanita tersebut bahagia berlari menyelinap di antara keramaian lalu lalang kendaraan. Deffri hanya tersenyum memandang ke arah anak tersebut menghilang secepatnya, "Anak yang luar biasa kuat," batin Deffri.


Ia langsung mengendarai mobil menuju ke toko pakaian milik Emilia, "Nih, buat kamu!" ucap Deffri memberikan kuntum mawarnya.


"Oh, indah sekali, Deff!" balas Emilia tersenyum.


"Aku mau bilang, besok kita ke Lamno," ujar Deffri. 


Emilia mengerutkan keningnya, "Memang ngapain ke sana?" 


"Ada kejutan buatmu, aku sangat yakin kau 'kan bahagia bila kamu mengikuti saranku untuk ke sana," balas Emilia.


"Kamu serius?" tanya Emilia.


"Ya, aku serius! Kita naik mobil saja," balas Deffri.


"Baiklah!" balas Emilia mengikuti saja apa kata Deffri ia sangat yakin jika Deffri tidak akan menyakitinya.


Keesokan pagi, mereka langsung pergi ke Kota Lamno, hampir seharian mereka berkendaraan menikmati kota indah tersebut dan keduanya berada di depan rumah mewah.


"Deff, ini rumah siapa?" tanya Emilia.


"Lihat, saja!" balas Deffri. Keduanya melihat ke dalam rumah, sebuah mobil memasuki rumah dan Emilia melihat Keano ke luar dari dalam mobil sedang berjalan gontai dengan memakai sebuah piyama berwarna biru.


"Keano!" teriak Emilia langsung ke luar  dari dalam mobil berlari mengejar Keano memasuki pintu pagar, "putraku, Keano," lirih Emilia bagai mimpi. Ia terus berlari ia sangat takut jika Keano akan menghilang secepat kilat.


"Keano!" teriak Emilia.


"Mama!" teriak Keano berlari menyongsong mamanya keduanya berpelukan dan menangis, "Mama aku rindu Mama hiks, hiks!" tangis Keano pecah.


"Jangan menangis, Sayang! Ini Mama, Nak. Kita akan pulang, Sayang," balas Emilia memeluk dan mengecup seluruh wajah Keano.


"Tapi, Ma! Papa akan memukul dan memarahi Mama, aku tidak mau kalau Mama akan menderita," balas Keano.


"Mama, tidak peduli, Nak! Mama hanya ingin bersama denganmu, Nak!" ujar Emilia.


"Hei! Siapa yang menyuruhmu menemuinya?" teriak Farel terkejut ia tidak menyangka jika Emilia berhasil menemuinya, dia langsung menghampiri keduanya berniat ingin menyeret Emilia.


 "Hentikan, Farel! Aku membawa surat dari pengadilan jika Keano berada dibawah pengasuhan Emilia Tantri. Bukankah saat bercerai kamu mengatakan tidak memiliki anak? Lalu mengapa sekarang kamu terlalu heboh mengklaim jika Keano putramu? 


"Semua itu karena kau tidak ingin memberi tunjangan, pada Keano, bukan? Dan tidak mau membagi harta gono-gini kepada Emilia!


"Nih, jika kau keberatan kau bisa mengajukan banding sekarang juga!" ketus Deffri melemparkan surat keputusan dari pengadilan.


Farel langsung mengambil surat tersebut dan membacanya, "Sialan! Aku tidak percaya akan hal ini. Kalian lihat saja! Aku akan naik banding," teriak Farel marah 


"Silakan!" balas Deffri.


"Emilia, Keano! Ayo, kita pulang!" ucap Deffri memapah Emilia dan Keano yang masih saling berpelukan dengan posisi Emilia berlutut untuk menyamakan dengan tinggi Keano.


"Emilia! Keano! Jika kalian berani ke keluar dari pintu pagar itu, aku akan menghancurkan kalian!" teriak Farel marah.