
Keduanya hanya mampu saling berpikir di dalam diam dan kenangan tanpa bisa bertanya dan saling memeluk, "Semoga besok aku menemukan kebenaran mengenai, semua hal. Aku harap aku bertemu dengan Deffri," batin Emilia.
Air mata jatuh berderai, "Deff, di mana pun kamu berada tetaplah kuat! Aku dan anak-anak akan selalu menantikanmu. Ya, Allah! Kupinta pada-Mu jagalah suamiku, jauhkanlah dia dari marabahaya, aku tidak ingin dia terluka atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," batin Emilia.
Perlahan Emilia tertidur dengan gelisah, begitu pun dengan Deffri di ranjang di kamar sebelah hanya mampu memandang keindahan sudut Kota Bandung lewat jendela apartemennya, "Ya, Allah! Berilah petunjuk dan jalanmu!" ujar Deffri.
Deffri merasakan kepedihan yang dalam ia tidak tahu mengapa semua ini bisa terjadi kepadanya, ia tak menyangka jika ada yang tega melakukan hal itu.
***
Pagi hari keduanya sudah berada kembali ke kantor polisi dan RS tetapi tak seorang pun yang bisa memberikan keterangan soal Deffri, "Bagaimana mereka bisa mengidentifikasi jika yang mereka cari masih berjalan ke sana kemari dengan wajah berbeda? Aku adalah Deffri," batin Deffri.
Ia melihat kegigihan dan rasa cinta Emilia kepadanya yang selalu saja yakin jika ia masih hidup dengan bermodalkan foto miliknya ia ke sana kemari selama 6 bulan ini, ia selalu saja melihat wajahnya terpampang di layar TV dan Medsos juga selebaran-selebaran yang mencari dirinya tetapi tak juga ditemui oleh Emilia.
Deffri termenung, "Apa yang harus aku lakukan?" batinnya, ia tak tega melihat istrinya yang mengiba dan memohon pada semua instansi yang berkaitan dengan kematiannya.
"Pak Dino, aku ingin kembali ke lokasi di mana pesawat jatuh!" ujar Emilia.
Deffri hanya menganggukan kepala dan membawa Emilia ke sana, "Aku rasa jika selama 6 bukan ini, Ibu masih mencari dan tidak menemukannya, aku rasa dia telah tiada atau mungkin dia sudah menjadi orang lain," balas Deffri perlahan
Deffri ingin memberitahukan kepada Emilia jika dirinya adalah Deffri tetapi ia tak tahu bagaimana cara penyampaiannya.
"Apa! Jangan konyol, Pak Dino! Kasusmu beda dengan Deffri!" teriak Emilia yang masih menyusuri semak belukar di mana bangkai pesawat lepas landas dengan kehancuran yang dahsyat.
Emilia berlinang air mata berjalan menyusuri setapak jalan yang penuh duri dan licin, "Aaa!" jerit Emilia hampir tergelincir jika tidak tangan Deffri menariknya.
"Berhari-hatilah, Em!" ujar Deffri membuat Emilia tercekat menatap Dino.
"Kau! Siapa kau! Mengapa suara dan semua cara yang kau lakukan sangat mirip dengan Deffri?" tanya Emilia langsung pada intinya ia tak ingin lagi berpura-pura jika ia penasaran.
"Em, aku … jika aku katakan yang sejujurnya apakah engkau percaya?" tanya Deffri.
"Apa maksudmu, Pak Dino? Jangan bilang, jika engkau adalah Deffri, Pak Dino! Aku tidak akan percaya!" teriak Emilia di antara isak tangisnya.
"Em, jika kamu tidak percaya, bagaimana aku bisa berkata sejujurnya? Sampai kapan pun engkau mencariku kamu nggak akan bisa nemuin Deffri lagi! Karena aku berubah dengan wajah ini," ucap Deffri.
"Tidak, mungkin!" ulang Emilia.
"Terserah padamu! Kamu percaya atau tidak, tapi inilah aku," ucap Deffri.
"Haha, aku bisa gila! Mengapa kalian begitu tega membuatku menjadi seperti ini? Cobaan apalagi ini," ujarnya tertawa dan menangis.
Deffri langsung merengkuh tubuh Emilia dan membawanya ke pelukan. Emilia menumpahkan tangisan di dada Deffri, "Aku tidak tahu lagi, siapa yang akan aku percayai? Semua ini benar-benar mengerikan dan tidak masuk akal," ujar Emilia.
"Percayalah pada hatimu!" ucap Deffri, "ayo, kita pulang! Hari sudah terlalu malam di sini," ajak Deffri menggendong Emilia yang masih menangis membawanya ke dalam mobil dan meninggalkan tempat tersebut.
"Bukan, begitu! Aku sangat yakin kamu selalu akan mendapatkan kebahagiaan, akan tetapi kebahagiaan itu harus kamu perjuangkan dengan darah, Em!" ujar Emilia.
"Em! Em! Aku bukan Emiliamu, Pak Dinol! Aku Emilianya Deffri, ingatlah itu!" ujar Emilia ketus.
Deffri terdiam, ia mengingat satu tembang kenangan kala mereka masih SMA, ia menyanyikan sepenggal lirik lagu, "Terlalu manis 'tuk dikenang terlalu pahit 'tuk dilupakan!".
Membuat Emilia semakin menangis pilu, ia teringat kenangan kala ia dan Deffri terakhir kali berjalan menikmati pantai dan Kota Karangsari, "Apakah mungkin jika Dino adalah Deffri? Tapi bagaimana mungkin?" barin Emilia.
"Pak Dino kapan kita menikah?" tanya Emilia.
"Pada tanggal 1 januari 2019, kamu menyukai awal tahun yang indah, pernikahan yang sederhana!" ujar Deffri menceritakan bagaimana awal mulanya mereka menikah.
"Berapa tahi lalat di tubuhku?" tanya Emilia karena Deffri benar-benar senang menghitung semua tahi lalat tersebut.
"50 buah! 10 di wajah, 10 di kaki, 5 di tangan kanan dan 5 di tangan kiri, 8 di perut, 2 di dada, 10 di bagian punggung hingga ya … pinggulmu," ujar Deffri melirik ke seluruh anggota tubuh Emilia.
Emilia terdiam, Dino benar-benar menghitungnya dengan tepat seperti yang sering dilakukan oleh Deffri.
"Siapa Guru Bahasa Indonesia kita?" tanya Emilia.
"Ibu Hasnah Silitonga," balas Deffri.
Semua pertanyaan yang dilontarkan Emilia dijawab dengan benar oleh Deffri pembuat Emilia terkesiap. Ia tak menyangka jika ada penjahat yang menyamar bisa mengetahui hal-hal rahasia sekali pun.
"Apakah kamu memiliki pertanyaan lagi?" tanya Deffri.
"Untuk sekarang tidak! Besok kita ke RS saja," usul Emilia, "apakah Dino memiliki tanda lahir di perutnya bergambar bulan sabit yang besar? Dan panjang punggung ada bekas luka?" batin Emilia, "aku akan memeriksanya nanti di apartemen Deffri," batin Emilia memperhatikan Deffri.
Sesampainya di apartemen, "Pak Dino, jika benar kamu adalah Deffri kemarilah!" ujar Emilia berdiri di tengah ruangan kala Deffri ingin beranjak ke kamar.
Deffri melangkah mendekati Emilia, "Buka baju kamu!" perintah Emilia.
Deffri memandang wajah Emilia yang serius, ia langsung membuka baju dan kaos **********.
"Ya Tuhanku!" pekik Emilia melihat tanda kehijauan dan biru di sana, "berbaliklah," perintahnya lagi, Deffri membalikkan badannya, "kau …!" ujar Emilia tak lagi mampu berkata-kata.
"Berikan tanganmu!" ujar Emilia ia memeriksa di antara jari manis dan kelingking Deffri terdapat bercak tanda lahir berwarna merah.
"Apakah kamu ingin melihat tahi lalat di tempat rahasiaku juga?" tanya Deffri tersenyum.
"Sialan!" ujar Emilia bersemu merah.
"Jika itu ada aku yakin kamu adalah Deffri," ujar Emilia yang tak tahu apakah ia harus marah atau menangis. Keduanya hanya saling pandang di dalam diam tak tahu harus bagaimana.