I Can Live Without You

I Can Live Without You
Minyak sebotol kelapa segandeng



Pertanyaan dari Ardhan membuat Deffri menatap lekat ke wajah Ardhan, "Sekarang aku mau tanya, aku rasa Siska adalah wanita yang sangat luar biasa. Tapi  mengapa kamu masih menikahi siri Monic? Apa yang kurang dari seorang Siska? Dia cantik, kaya, pintar! Bahkan, semua saham juga atas nama Siska. Apa kamu tidak takut, jika bercerai dari Siska kamu akan menjadi gembel?" tanya Deffri, "atau memang kamu sebagai lelaki hanya mengandalkan modal tampang doang, minyak sebotol, dan kelapa segandeng, begitu?" sindir Deffri kesal.


Deffri tidak pernah menghina orang tapi akhir-akhir ini ia kerap kali melakukan hal itu, hanya karena ia mencintai dan menikahi janda seperi Emilia,


Ardhan terdiam ia sendiri tidak tahu mengapa, "karena cinta tidak bisa diukur dengan apa pun, Pak Ardhan. Apakah dia sempurna atau tidak, bukan? Begitu, juga denganku! Sejelek apa pun masa lalu Emilia aku tetap menerimanya karena rasa cintaku kepadanya. Tapi, karena aku tahu Emilia bukanlah wanita demikian. Maka aku menikahinya, yang tahu rumah tangga kita itu, ya ... kita sendiri, bukan tetangga Pak!" ujar Deffri.


"Maaf, Pak! Tapi, aku merasa Emilia sangat tidak pantas untuk Bapak," Ardhan masih saja mencoba untuk membuat Deffri meninggalkan Emilia.


"Memang kamu tahu, apa yang pantas dan tidaknya untukku? Sedangkan orang tuaku sendiri pun tidak tahu apa yang cocok dan pantas untukku? Karena aku yang memakainya, bukan kamu!" balas Deffri memandang lekat ke wajah Ardhan.


Ardhan hanya diam ditatap begitu tajam oleh Deffri, "aku curiga mengapa engkau bersikukuh agar aku meninggalkan Emilia? Jangan-jangan kau mencintai istriku?" balas Deffri.


"Apa!" Ardhan terperanjat keringat mengucur di keningnya, "sialan, mengapa Deffri langsung menebak demikian? Apakah semua itu tercetak jelas di wajahku?" batin Ardhan sedikit malu.


"Aku bisa menebak hal itu, karena begitu jelas tercetak di wajah bundarmu, Pak! Aku harap urungkan niat gilamu. Sebelum aku mendepakmu jauh ke Bulan," balas Deffri meninggalkan Ardhan.


"Sialan, aku akan berusaha untuk menghancurkan rumah tangga dan perusahaan milikmu. Dasar, sombong! Baru perusahaan begini saja, sudah belagu! Kau selalu saja mendapatkan wanita yang luar biasa," batin Ardhan menatap kepergian Deffri.


"Apa yang kamu lihat, Mas? Aku ingin kamu menceraikan Monic sekarang juga! Jika tidak, kau lihat apa yang bisa aku lakukan kepadamu," balas Siska meninggalkan Ardhan yang langsung menelan air liurnya.


"Huh! Bagaimana bisa aku menceraikan Monic, aku menyukai dan mencintainya. Aku tidak pernah mencintaimu, Siska! Kau selalu arogan dan mengaturku," batin Ardhan kesal.


Ardhan berjalan lambat, "Apa yang harus aku katakan kepada Monic? Oh, bagus sekali! Aku ada ide," batin Ardhan riang melangkah cepat menuju mobilnya ke rumah Monic.


Sesampainya Ardhan di rumah Monic, ia memasang tampang lelah dan menderita, "Mas! Sudah pulang? Ayo  masuk!" ajak Monic menggamit lengan Ardhan.


"Aku lelah, Sayang." Ardhan berpura-pura ia lelah langsung melonggarkan dasi dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur memijat keningnya.


"Aku tahu, aku akan memijatmu, Mas! Mas, listrik sudah tertunggak, cicilan rumah juga biaya anak-anak, Mas! Kamu sudah lama tidak pulang," ucap Monic.


"Ya, Mas tahu! Tapi, apa kamu tahu, ternyata Emilia adalah istri dari Deffri pemilik Perusahaan Jati Karya. Bukan itu saja, Emilia begitu menguasai segala aset perusahaan. Dia juga mengatakan rumah tangga kita kepada Siska. 


"Kamu tahu, Siska mengancamku! Jika aku tidak menceraikan kamu sekarang juga! Maka, semua aset keuangan akan dibekukan oleh Siska," keluh Ardhan.


"Apa? Jadi semua ini karena ulah Emilia? Kurang ajar! Aku akan membuat perhitungan dengannya!" teriak Monic kesal.


"Iya, bagimana aku bisa memberikan kemewahan kepadamu lagi! Aku sendiri pun tidak memiliki apa-apa lagi. Semua sudah dikuasai oleh Siska," ujar Ardhan.


"Akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak!" batin Ardhan. Ia mengetahui begitu mudah memprovokasi istri mudanya yang sangat membenci Emilia.


Monic langsung ke luar dari rumah mengendarai sepeda motor matic ke arah toko pakaian Emilia. Monic memarkirkan sepeda motor dan berteriak di depan toko, "Keluar kau Emilia! Dasar wanita murahan! Baru saja kau menjadi istri seorang direktur kau sudah belagu!


"Apa hakmu mengadu kepada Siska! Sehingga Siska meminta suamiku Ardhan untuk menceraikanku. Dasar, wanita sialan!" teriak Monic marah.


"Mbak Monic percuma kamu marah-marah, mbak Emilia tidak di toko dia di rumah!" ujar Mira.


"Katakan pada majikanmu! Jangan beraninya main belakang! Aku akan meladeninya di mana pun dia mau," tantang Monic.


"Lah, kalau kamu berani main depan. Ya, jangan mau jadi isti simpanan. Memang setiap di simpan itu selalu harum sampai ke mana pun, durian saja di simpan wanginya mengerikan apalagi pernikahan, Mbak! Kalau berani berbuat ya, beranilah bertanggung jawab. Gitu saja repot!" balas Mira.


"Hei, Kamu! Kamu masih gadis, nggak tahu jalan kehidupan kamu ke depannya  jangan sok menggurui," teriak Monic.


"Aku bukan menggurui Mbak, jika nasibku sama kayak Mbak. Aku tidak mengapa? Tapi, aku ingin jadi istri kedua yang sah!" balas Mira.


Monic kesal ia langsung pulang ke rumahnya, ia melihat Ardhan tertidur dengan pulas, "Mas, bangun! Kamu malah enak-enakkan tidur! Kamu harus bertanggung jawab, jika kamu memang ingin selalu bersamaku, kamu harus bilang dengan Siska!" cecar Monic.


"Apa? Jika dia membekukan semua asetku bagaimana?" tanya Ardhan marah.


"Kita bisa memulai hidup baru dengan seadanya," balas Monic.


"Sayang, tidak bisa! Kamu bertahanlah, berpura-pura pada Siska jika kita sudah bercerai demi anak-anak kita, Mon!" bujuk Ardhan, "bagaimana aku bisa hidup sederhana? Jika aku bisa makan tidur dengan enak!" batin Ardhan.


"Lalu, jika Siska membekukan asetmu! Terus kamu ngasih makan apa padaku dan anak-anak?" tanya Monic.


"Tenangkah, aku tetap akan memberi uang belanja padamu, untuk sementara ini pergilah dari kota ini. Aku akan mengirimkan belanjaan padamu dan anak-anak. Aku tidak mau, jika Siska sampai mendatangimu! Itu akan sangat memalukan sekali!" ucap Ardhan.


"Tapi …," Monic sedikit keberatan.


"Tenang saja, aku sudah membelikan rumah untukmu dan anak-anak juga kamu bisa usaha di sana. Aku akan usahain pulang setiap bulan, tapi … untuk sekarang kita harus kucing-kucingan dengan Siska," rayu Ardhan.


Monic terdiam, ia juga tidak bisa mengatakan apa pun, surat pernikahan mereka dari negara pun dia tak punya. Monic menghela napasnya, "Baiklah! Kapan kami pergi?" tanya Monic menyerah.


"Besok! Aku akan urus semuanya termasuk kepindahan anak-anak," balas Ardhan tersenyum menang, "akhirnya satu masalah kelar. Tinggal memangani Siska dan Deffri agar aku bisa memiliki Emilia. Um, tapi sepertinya Farel juga tidak ingin melepaskan Emilia," batin Ardhan termenung memikirkan solusinya.