I Can Live Without You

I Can Live Without You
Kala cinta dan perselingkuhan berbicara



"Mama …." lirih Keano. 


Krieet!


Keano berpura-pura tidur, ia lebih senang berpura-pura dan bersandiwara di depan papa dan ibu sambungnya, ia tidak ingin mendengarkan banyak omelan dan beraneka ragam caci maki dan hinaan terhadap Emilia sang mama.


"Apa aku bilang, Mas! Keano sudah tidur! Kamu saja yang selalu mengkhawatirkannya," balas Hana.


"Aku rasa dia sedikit hangat tadi selepas makan malam," balas Farel.


"Kamu saja, sih. Terlalu lama menguncinya di kamar mandi," balas Hana.


"Aku tidak suka jika ia selalu merindukan Emilia dan ingin bersama dengan wanita murahan itu!" balas Farel.


"Dari mana kamu tahu jika Emilia wanita murahan?" tanya Hana menatap suaminya. Ia merasa sejak menikah dengan Farel ia hanya memiliki raganya saja tidak dengan hati dan cinta Farel.


"Aku hanya menebak, saja!" balas Farel sekenanya dan meninggalkan Hana, "jika aku jujur aku sangat yakin jika Hana akan marah. Aku tidak akan bodoh, tidak meninggalkan mata-mata untuk mengawasi Emilia. Sialan itu, malah dekat dengan Deffri," batin Farel geram.


Ia menyelipkan kedua tangannya di kedua belah saku celana pantalon, ia menuruni tangga. Seketika kantuknya hilang, bayangan Deffri dan Emilia benar-benar mengusik jiwanya. Ia tidak menyangka jika Deffri benar-benar mampu mengalihkan rasa cinta Emilia yang besar kepadanya.


"Aku akan menghancurkan Deffri, lihat saja. Um, aku harus menyelidiki siapa sebenarnya Deffri," batin Farel. Ia duduk di serambi belakang menatap kolam renang dan rembulan.


Hujan deras mengguyur Kota Lamno, "Emilia pasti tidak menyangka jika aku membawa Keano kemari," batinnya.


Farel memandang hujan deras, bayangan masa lalunya kala bersama Emilia terlintas ….


***


11 tahun yang lalu ….


"Mas, hujannya deras! Bagaimana kita akan pulang?" ujar Emilia dengan manja. Ia tidak menyangka bisa memperistri gadis mungil di sisinya dengan segala perjuangan yang mengerikan untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua Farel yang tak pernah merestui pernikahan mereka berdua.


Namun, cinta berbicara mengalahkan segala hal, "Jangan, khawatir!" balas Farel tersenyum ia memberikan jaket dan helm kepada Emilia juga memakaikannya kepada Emilia.


"Lalu, Mas sendiri bagaimana?" tanya Emilia wanita yang bersifat kekanak-kanakan dan selalu saja cerita dan tersenyum.


"Jangan  khawatir, Masmu ini kuat!" sambut Farel dengan mengangkat tangannya memperlihatkan otot bisepnya.


"Hahaha, um, sedikit terbentuk!" puji Emilia langsung mendaratkan kecupan ke pipi suaminya, membuat Farel tersenyum. Emilia bersifat spontan ia akan melakukan apa pun termasuk kasih sayangnya, ia tidak pernah merencanakan apa pun ia menjalani kehidupan dengan senyuman yang tidak pernah lekang dari bibirnya.


Pertama kali Farel melihat Emilia ia langsung jatuh hati kepadanya karena senyum dan sifatnya yang ceria sehangat mentari pagi, Emilia tidak pernah berpikir buruk pada siapa pun. Farel benar-benar memanjakan Emilia dengan segenap rasa yang dimilikinya. Bunga cinta benar-benar bersemi indah, mereka merangkak dari nol untuk mewujudkan semua usaha dan pengakuan dari keluarga Farel.


Emilia tidak pernah mengeluh jika ia harus kehujanan  dan kepanasan pulang-pergi dari rumah ke perusahaan kecil milik mereka. Emilia tidak pernah mengeluh dibawa makan di emperan kaki lima maupun restoran mewah, "Mas, ini terlalu mahal. Sayang duitnya, bisa untuk menambah modal," Emilia selalu saja berkata demikian, kala Farel membawanya makan di restoran mahal atau membelikan baju mewah untuknya.


"Maukah kau menikah denganku, Emilia?" tanya Farel dengan berlutut di Gundaling-Berastagi dengan setangkai bunga rumput.


"Tentu, saja aku mau! Mintalah pada abah dan mama," balas Emilia berhamburan ke pelukan Farel.


"Apakah permintaanmu, Emilia Sayang?" tanya Farel. Ia bermaksud memberikan apa pun yang akan diminta oleh Emilia.


"Aku hanya ingin kehidupan penuh cinta dan kasih sayang sampai aku mati!" balas Emilia tersenyum memandang Farel.


"Hanya itu?" tanya Farel bingung.


"Ya, hanya itu! Terima kekurangan dan kelebihanku sebagai wanita, apa pun yang terjadi di depan nanti. Jangan pernah saling meninggalkan." Emilia menatap ke arah Farel, dengan penuh cinta. Cinta benar-benar membutakan mata hati seorang Emilia wanita berumur 22 tahun yang penuh impian sederhana di dalam hidupnya bersama dengan pujaan hati.


"Tentu, saja!" balas Farel merengkuh Emilia di dalam dekapannya.


Sebulan kemudian mereka menikah, mereka benar-benar bahagia menjalani hari penuh cinta dan kasih sayang. Emilia tidak pernah rewel ia selalu berusaha memenuhi segalanya sebagai istri ia tidak pernah menuntut apa pun, ia selalu mensyukuri berapa pun uang yang diberinya. 


Pertengkaran kerap kali terjadi di tahun ketiga dan keempat tahun pernikahan di mana anak tak kunjung datang dan keguguran terus menerpa. Masing-masing mulai menjauh dan berjalan di kehidupan masing-masing walaupun keduanya masih saling menyayangi.


"Aku sibuk dengan pekerjaanku dan semua kolega, begitu juga dengan Emilia yang sibuk di toko buku dan bioskop, ia tak lagi tertawa ia mulai membenci jika ada sahabat kami yang hamil. Emilia terus meminta berkunjung ke dokter kandungan. Semua dokter telah didatangi dan hasilnya selalu saja harus bersabar.


"Masing-masing mulai berubah, segalanya mulai tak lagi sama, kala usia pernikahan mulai menginjak tahun kedelapan, keguguran kembali menerpa Emilia ia sudah semakin gila.


"Ia lebih banyak mengurung diri di kamar, walaupun ia masih tertawa dan tersenyum dengan semua orang di luar rumah. Namun, di dalam rumah ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar mandi dan kamar saja." Farel membatin mengenang segala masa lalu mereka.


Farel mulai mengenal Hana, ia mulai mendapatkan celah kebahagiaan bersama Hana. Entah mengapa setiap kali Emilia minta jatah Farel sedikit enggan ia takut jika Emilia hamil dan keguguran lagi, maka Emilia semakin gila. Ia takut Emilia semakin jauh darinya. Namun, apa yang dilakukan Farel semua penolakan dan teriakan juga hardikan yang dilakukan Farel benar-benar menghancurkan hati Emilia.


***


Masa kini ….


Farel menatap hujan ia mengingat pelukan hangat Emilia dengan kedua tangannya yang mungil berada di pinggangnya menembus hujan.


Keajaiban terjadi, Emilia hamil dan Keano lahir, "Seharusnya dengan hadirnya Keano kami bahagia," batinnya, "tapi … aku terlanjur menyukai Hana, sehingga aku mulai menjauh dan semakin jauh. Apalagi, usaha toko pakaian Emilia semakin maju, ia tak lagi peduli jika Farel memberi atau tidak uang kepadanya. Emilia berusaha untuk memenuhi segalanya sendiri.


"Mengapa aku dulu tidak pernah bertanya? Apakah Emilia punya masalah? Bagaimana repotnya dia mengurus Keano?" batin Farel menyesali segalanya.


Sehingga pada akhirnya Emilia meminta cerai darinya tanpa ada angin dan hujan berulang kali Emilia minta pisah darinya. Walaupun Emilia tidak pernah mengungkap perselingkuhan Farel dengan Hana. 


"Aku tidak akan menceraikanmu, Emilia! sampai kapan pun!" teriak Farel.


Namun, di satu sisi ia juga harus bertanggung jawab pada Hana karena Farel telah merenggut kehormatan Hana.