I Can Live Without You

I Can Live Without You
Ribuan pertanyaan di hati Farel



"Jangan khawatir, kami sudah menyewa mafia terkenal dan bengis untuk melenyapkan Deffri," ujar Ardhan.


"Aku tak menyangka usul dari Maya sangat luar biasa, hm. Aku tak menyesal menikahi Maya, apalagi harta warisan dari Rahman sangar luar biasa," balas Budi tersenyum.


"Aku baru tahu ada seorang ayah kandung bisa begitu tega menghancurkan putranya sendiri!" sindir Farel menatap ke arah Budi, "Budi benar-benar mengerikan. Bagaimana bisa seorang ayah melakukan hal itu kepada anaknya sendiri?" batin  Farel, 


"jangan-jangan suatu saat nanti, dia akan melakukan hal yang sama untuk menumpas kami," batin lanjut  Farel curiga.


"Sudahlah, hari telah larut malam. Sebaiknya kita tidur saja. Besok kita pulang ke Karangsari agar Emilia tidak curiga!" ujar Budi.


"Lalu bagaimana menurutmu mengenai Dino?" tanya Ardhan sedikit khawatir, "aku merasa jika tatapannya sangat mirip dan sedingin tetapan Deffri kalau dia sedang marah," ucap Ardhan, ia masih sedikit takut akan ancaman Dino.


"Dia hanyalah pengusaha muda dan dia juga hanya memiliki perusahaan kecil. Selain itu, dia baru pemain pemula. Sebagai pemain pemula di dalam dunia bisnis yang sangat kejam ini. Jangan khawatir, kita akan menendangnya nanti." Budi menepuk bahu Ardhan dengan lembut, "yakinlah, padaku!" lanjutnya meninggalkan keduanya di lobi hotel.


Ardhan hanya termangu menatap kepergian Budi, "Ar, kamu yakin dengan Budi, begitu? Sedangkan dia begitu kejam dengan darah dagingnya. Apalagi dengan kita," lanjut Farel sedikit curiga.


"Hahaha, kamu mengira Budi itu adalah Budi Hariansyah yang sebenarnya, begitu?" tanya Ardhan tertawa.


"Maksud, kamu?" tanya Darel tidak mengerti.


"Kamu terlalu polos Farel, jika Budi adalah orang tua kandung Deffri tak akan ada seorang ayah yang akan tega membunuh darah dagingnya sendiri. Binatang pun tak akan melakukan hal itu," lanjut Ardhan.


"Aku tak mengerti?" tanya Farel masih bingung. Ia hanya mengetahui jika Budi Hariansyah adalah salah satu konglomerat yang ada di Indonesia.


"Sudahlah, suatu saat kamu akan tahu sendiri. Siapa Budi yang bersama dengan kita itu! Jika kamu mengetahui kamu akan mati berdiri!" ujar Ardhan tersenyum mengejek.


"Hei, kau mau ke mana? Kita belum selesai membahas semua ini?" ujar Farel semakin bingung.


"Sudahlah, aku mengantuk!" balas Ardhan melambaikan tangannya menaiki lift menuju kamar.


Farel termenung di lobi hotel, "Aku tak mengerti apa maksud dari semua ini. Aku baru tahu jika aku bekerja sama dengan orang yang paling kejam dan sadis di dunia ini," batin Farel.


Ia berjalan menuju kamar hotel ia melihat seseorang yang sangat ia kenal di sana, "Mama?!" batin Farel.


Ia langsung berlari ingin bertemu dengan mamanya Janti. Namun, ia mengurungkan niatnya ia langsung bersembunyi di balik pilar salah satu penyanggah bangunan hotel bintang lima tersebut.


Farel melihat jika Janti bertemu dengan Sudibyo, keduanya saling berpelukan dan tersenyum memasuki kamar hotel di mana Sudibyo berada di sana.


Farel menyelinap berusaha untuk mendekati pintu kamar hotel, "Sialan, mengapa aku nggak bisa menguping pembicaraan mereka! Apa sih, yang dilakukan oleh Mama di sini?" batin Farel bingung.


Ia menunggu mamanya keluar dari kamar Sudibyo. Namun, sudah beberapa jam berlaku Janti pun tak jua keluar dari hotel. Farel langsung menelepon Janti.


Janti : "Halo, Farel! Mama ngantuk, besok saja!" ujar Janti tanpa mau berbicara banyak lagi.


"Mama …," lirih Farel. Selama ini Farel tidak pernah tahu apa yang dilakukan  mamanya untuk membesarkannya, ia hanya tahu, jika mamanya senang berbisnis dengan teman-temannya  dan sering pergi ke luar kota.


"Apakah Mama? Ya, Tuhan! Apakah dugaanku salah?" batin Farel terhenyak.


Ia bersandar dengan posisi tangan di pintu kamar dan kepala di atas tangan bersandar dengan kesedihan di balik pintu Sudibyo. Ingin rasanya Farel menggedor pintu atau menerjangnya tetapi ia sangat merasa malu jika melakukan hal itu, ia hanya berjalan gontai menuju kamarnya.


"Aku harap apa yang aku lihat di sana tadi di sana, itu bukanlah, Mama!" batin  jiwa Farel bersedih, "selama ini aku  selalu bekerja dan menyisihkan uang dari sebagian penghasilan untuknya, bahkan Emilia pun tak pernah bertanya ke mana sebagian gajiku. Sejak aku menikahi Hana dan Delia pun aku tetap membagi setengah dari penghasilan.


"Lalu apa yang dilakukan Mama di sini? Di dalam kamar hotel bersama Sudibyo?" batin Farek bingung. Farel masih terus bertanya banyak hal, segalanya menjadi teka-teki di kehidupannya.


***


Sementara Deffri dan Emilia masih tidur saling berpelukan tanpa mereka sadari, pagi telah datang sayup-sayup suara azan bergema, Emilia dan Deffri membuka mata ingin melakukan kewajiban mereka sebagai Muslim.


"Aaa!" teriak Emilia kaget kala melihat wajah Dino bukan Deffri, "Pak Dino! Apa yang kamu lakukan di kamarku?" teriak Emilia melompat dari tempat tidur dan bruk! Emilia terjatuh tersangkut back cover.


"Em, kamu kenapa? Aku Deffri! Apakah kamu lupa?" ujar Deffri langsung menolong Emilia ia menggendong Emilia ke tempat tidur dan mengurut kakinya yang sedikit memar.


"Pa-pak Dino … oh, Ya Tuhanku! Maafkan aku Mas, aku bisa gila jika terus-terusan begini. "Emilia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menyadari jika pria di depannya adalah Deffri berwajah orang lain.


Deffri hanya menarik napas, "Inilah yang aku takutkan sebenarnya …," kata Deffri kecewa ia meraba wajah tampan di wajah yang bukan miliknya.


"Maafkan aku Mas! Aku hanya … tidak terbiasa dengan wajah itu," balas Emilia bertopang dengan kedua telapak tangan di pipi dengan siku bertumpu ke pahanya mengamati wajah tampan di depannya.


"Apakah wajah ini sangat mengerikan?" tanya Deffri bingung.


"Bukan! Wajah itu terlalu tampan, membuatku ngeri!" balas Emilia masih menatap ke arah Deffri.


"Yee, memang wajah asliku tak begitu tampan?" tanya Deffri menatap ke arah Emilia.


"Wajahmu dulu tampan tapi lebih tampan yang sekarang," balas Emilia.


"Jika yang sekarang lebih tampan. Mengapa kamu jadi takut?" tanya Deffri tak mengerti.


"Karena aku tak mencintai wajah itu! Setampan apa pun wajah seorang pria aku lebih menyukai wajah suamiku sendiri, sejelek apa pun itu. Bagiku, wajah suamikulah yang tampan, walau kenyataannya sangat jelek!" ujar Emilia tersenyum.


"Kamu, ya! Sudah berani mengatakan jika wajahku jelek!" teriak Deffri langsung menggelitik pinggang Emilia.


"Hahaha, ampun Mas! Geli tahu! Aduh," ujar Emilia kala Deffri tidak sengaja menyentuh gundukan kenyal di tubuhnya yang bisa membuat gairah melambung tinggi.


Emilia dan Deffri terdiam saling pandang dengan tapak tangan masih berada di gundukan Emilia terpaku. Deffri bukan malah mengangkat tangannya malah semakin membuat gerakan memutar tak tentu arah.