I Can Live Without You

I Can Live Without You
Pencitraan



"Baiklah, Mbak! Aku pulang dulu!" ujar Mahroni. 


"Hati-hati!" balas Emilia. Ia menjemput putranya di sekolah. 


"Eh, ada Mama Keano. Apa kabar?" tanya Riris. 


"Eh, Alhamdulillah baik bu. Ibu nunggu Iqbal ya?" tanya Emilia duduk di sebelah Riris.


"Saya kemarin ke toko, napa tutup?" tanya Riris.


"Mama saya meninggal, Bu." Emilia memandang ke wajah cantik Riris yang berhijab.


"Oh, maaf saya tidak tahu! Saya turut berduka cita ya Bu," 


"Terima kasih, Bu!" balas Emilia tersenyum.


Keduanya bercerita banyak hal dan Emilia tersenyum dengan semua ocehan yang menghibur dari Riris yang periang. 


"Emilia," ujar Farel. Membuat Emilia berjengit ingin rasanya ia menjauhi Farel dan berlari ke mana pun agar tidak bertemu dengannya namun, ia hanya duduk saja. 


"Suaminya, Bu?" tanya Riris.


"Iya!" jawab Farel.


"Mantan suami yang tepatnya Bu," balas Emilia.


"Oh, begitu! Tapi, masih bisa akur ya? Walau sudah berpisah, kalian hebat sekali!" puji Riris menatap ke arah Farel dan Emilia.


"Ya, demi anak Bu! Apa pun kami lakukan," balas Farel dengan bijak dan sok baiknya, "bukankah begitu Em?"  tanya Farel.


Emilia hanya tersenyum menanggapi ocehan Farel yang selalu saja memperbaiki diri dan mencari pencitraan, di depan semua orang, laksana orang yang paling teraniaya se-dunia akan tingkah laku Emilia.


"Aku suka melihat pasangan yang sudah berpisah tapi masih tetap menjalin silaturahmi," balas Riris.


"Tentu, Bu! Dengarkan itu Em," ujar Farel. Ucapannya menyudutkan Emilia, "Siapa pun bisa pencitraan? Lakukanlah sepuas-puasmu Farel! Aku yakin, suatu saat kebenaran akan terungkap. Jika mereka tahu kebenarannya," batin Emilia.


"Em, kamu lagi mikirin apa? Aku tahu sangat berat bagimu dengan kehilangan ibumu, tapi kamu harus terus bertahan dan melanjutkan perjuangan hidup! Kalau kamu butuh apa-apa, katakanlah padaku," ucap Farel, "aku akan selalu membantumu, walaupun kita telah berpisah," lanjut Farel dengan mimik wajah yang benar-benar manis mengalahkan es krim.


"Terima kasih," balas Emilia, "Bu Riris mengapa anak-anak lama sekali pulangnya ya?" tanya Emilia mengalihkan pembicaraan yang membuatnya mulai muak melihat tampang dan tingkah sok kebaikan Farel. Selama ini ia tak pernah menjemput putranya, "biasanya nggak sampai begitu lama?" lanjut Emilia berdiri dari sisi Riris dan Farel yang mengapit dirinya. Ia berjalan menjauh sedikit menoleh ke sana kemari, ia berusaha untuk menghindari kedekatannya dengan Farel, yangembuat Emilia ingin mencakar wajah Farel.


"Duduklah, Em. Nanti juga Keano akan pulang, kamu pasti lelah. Duduklah, nikmati hari sejenak," balas Farel. Membuat Riris tersenyum.


Namun, Emilia hanya diam saja, ia malas menanggapi semua hal. Ia meraih ponsel dan menjawab beberapa pesan masuk, Farel melihat dengan tatapan cemburu dan marah, "Em, apakah tidak bisa nanti saja kamu itu membalas chat kamu?" tanya Farel dengan kelembutan mengalahkan embun.


"Tidak, soalnya ini mengenai pengiriman barang jualan di toko," alasan Emilia.


"Apakah uang yang aku beri untuk tunjangan Keano tidak cukup?" tanya Farel.


Emilia menatap ke arah, Farel, "Uang? Oh, uang yang seratus ribu itu ya? Tentu saja tidak cukup," balas Emilia, "sialan, kapan pula kau kirim uang pada anakmu?" batin Emilia.


Ucapan Emilia menampar wajah Farel, ia tidak menyangka jika Emilia yang selama ini lebih banyak diam dan mengalah kini sudah mulai berani dengan sarkasmenya yang luar biasa, "Farel, apakah Hana tidak ikut?" tanya Emilia tiba-tiba.


"Dia, lagi sibuk di kantor. Jika tidak, aku pasti membawanya," balas Farel.


"Oh, pantas!" balas Emilia mencoba main game. Ia tidak tahu caranya agar mengusir Farel, "dia juga berhak untuk menjemput putra kami," batin Emilia terdiam.


"Aku mau saja Bu, Emilia yang tidak mau. Bahkan, dialah yang meminta cerai," ucap Farel.


"Lho, mengapa Bu? Bukanlah Pak Farel baik?" puji Riris.


"Jodohnya habis, Bu! Aku rasa Farel lebih bahagia bersama dengan istrinya sekarang, yaitu Hana daripada saya, Hana lebih bisa menjadi istri yang lebih memuaskan Farel. Bukankah begitu Farel?" sindir Emilia. 


Kini, ia sudah mulai lelah, jika harus mengalah, "Kau terlalu pintar menjatuhkan dan menyudutkanku  mengapa aku tidak sekaligus saja merendahkan diriku serendah-rendahnya sehingga tak seorang pun yang bisa merendahkanmu lagi?" batin Emilia.


"Eh, um. Ya, begitulah Bu," balas Farel sedikit kikuk dan gugup.


"Dasar, pria! Sudah dapat istri yang cantik ya, begitu itulah, selalu membanding-bandingkan istri pertama dan keduanya mana yang bagus. Aku rasa hanya segelintir wanita yang mau dimadu, Pak Farel." Riris menatap ke arah Farel dengan tatapan kesal, ketika ia merasa jijik dengan apa yang diperlihatkan oleh Farel.


Farel tidak menyangka jika ia kena batunya disemprot oleh Riris, "Jadi Bu  Emilia janda, ya? Mau nggak aku jodohkan dengan kakak sepupuku? Orangnya baik, lembut, nggak kasar, dan kaya Bu?" tanya Riris kepada Emilia.


Pertanyaan Riris sontak membuat Farel berjengit seakan beribu duri berada di kursi yang didudukinya, ia mengepalkan tangan. Emilia menatap ke arah Riris, "Um, gimana ya Bu. Untuk saat ini, sepertinya aku masih ingin sendiri Bu," balas Emilia.


Ucapan Emilia membuat hati Farel sedikit lega, "Jika kamu berani menikah lagu Emilia, aku akan mengambil Keano dari sisimu," batinnya.


"Nanti kalau kamu mau aku kasih deh, nomor ponselnya," ujar Riris tersenyum. Keano dan Iqbal berlari bergandengan tangan, "Mama!" teriak Keano memeluk mamanya dan sedikit bersembunyi di balik punggung Emilia, "Ma, aku tidak ingin ikut dengan Papa!" ucap Keano.


"Tidak! Papa hanya ingin menjenguk Keano saja," balas Farel, "Papa ingin mengajak Keano makan bersama Mama, iyakan Ma?" pinta Farel.


Ingin rasanya Emilia menolaknya namun, melihat wajah Keano yang tiba-tiba bahagia membuat Emilia tidak sanggup untuk menolaknya, "Benarkah Ma?" tanya Keano menatap ke arah Emilia.


"Iya," balas Emilia tercekat. 


"Benarkah, Pa?" tanya Keano melihat ke arah Farel dengan sedikit takut-takut.


"Tentu, saja!" balas Farel tersenyum, "Ayo, masuk ke dalam mobil!" ajak Darel.


"Tidak, usah Farel! Aku naik sepeda motorku saja. Katakan, makan di mana aku akan mengikutimu!" balas Emilia. Ia malas seruangan dengan Emilia.


"Baiklah, kita makan di restoran J," balas Farel sedikit kecewa.


Emilia mengendarai sepeda motornya bersama dengan Keano yang tidak ingin berpisah dari Emilia. Sesampai di restoran J. Mereka duduk dan memesan makanan seakan mereka adalah pasangan yang sangat bahagia, "Demi Keano, biarlah!" batin Emilia menekan rasa muak dan benci pada Farel.


"Kamu mau nambah lagi, Em?" tanya Farel entah sejak kapan ia hanya memanggil dengan sebutan "Em" pembuat Emilia teringat aka  Defri.


"Apakah kalian ingin menonton bioskop?" tanya Farel.


"Tidak, aku ingin ke toko ada perlu!" balas Emilia cepat.


"Bagaimana denganmu, Keano?" tanya Farel selalu saja menggunakan Keano.


"Um, aku terserah Mama, Pa!" balas Keano menatap ke arah Emilia.


"Maaf, Sayang. Mama ada pekerjaan, lain kali saja ya?" balas Emilia.


"Baiklah, Pa lain kali saja!" balas Keano tersenyum.


"Baiklah, tapi hari ini aku benar-benar libur untuk hari ini," balas Farel.


"Maaf, aku tidak bisa!" balas Emilia dingin.