I Can Live Without You

I Can Live Without You
Dinding pembatas



"Eh, nggak apa-apa, Bu!" ucap Deffri bingung.


"Oh, kirain ada apa? Istri Bapak tinggal di Bandung juga gitu?" tanya Emilia.


"Bukan, dia …." Deffri bingung harus berkata apa, "apa yang akan aku katakan jika istriku ada di sampingku dan itu adalah dirimu?" batin Deffri bingung.


"Oh, apakah dia pergi dengan membawa anakmu begitu?" tukas Emilia.


"Oh, bukan! Aku yang pergi dan tidak bisa kembali lagi," ujar Deffri.


"Maksudnya? Apakah Pak Dino selingkuh begitu? Kamu keterlaluan ya, pantas sajalah istri Bapak marah untung saja Bapak nggak dicakar-cakar!" ketus Emilia gemas dan marah.


"Bu-bukan seperti itu, Bu!" ujar Deffri semakin bingung dan ngeri membayangkannya.


"Lalu apa penyebabnya?" tanya Emilia memandang sinis ke arah Deffri.


"Begini, Ibu percaya nggak jika tiba-tiba ada yang menculik Ibu dan mengoperasi wajah Ibu menjadi orang lain, terus bagaimana Ibu bisa kembali ke rumah dan keluarga Ibu? Apakah mungkin istri dan anak Ibu akan percaya jika itu adalah Ibu?" tanya Deffri berusaha memberitahu masalah yang sedang dihadapinya. 


"Apa? Itu mustahil sekali, Pak!" balas Emilia.


"Tapi itulah yang sedang aku alami, aku sendiri pun tidak tahu harus mulai dari mana, Bu?" ucap Deffri bingung.


"Apakah Bapak sudah menyelidiki siapa pemilik wajah Bapak itu?" tanya Emilia menatap wajah Deffri yang disangkanya Dino.


"Belum, saya tidak tahu mulai dari mana. Selama ini  tidak ada yang mengenali wajah ini, Bu!" ujar Deffri bingung ia sendiri pun tidak tahu siapa pemilik wajah tersebut bahkan tak seorang pun yang memberitahukan siapa dirinya yang sebenarnya.


Emilia memperhatikan segala hal dan merasa apa yang sedang dihadapi oleh Dino begitu rumit, "Semangatlah, Pak! Jika engkau ingin kembali, pasti selalu saja ada jalan. Sementara suami saya tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak," keluh Emilia menatap lurus ke depan.


"Saya yakin Pak Deffri masih hidup, dia pasti menuju ke arah Ibu," ujar Deffri, "aku sedang bersamamu, Em! Andaikan kamu tahu, aku masih hidup. Ini adalah, aku," bisik batin Deffri terasa sangat perih 


Keduanya terdiam dan berbicara banyak hal hingga pada akhirnya mereka tiba di bandara, "Apakah Ibu mau naik taksi bersama saya?" tanya Deffri.


"Tentu saja," balas Emilia senang, apalagi ia merasa jika bersama dengan orang yang ia kenal lebih nyaman.


"Ibu ingin menginap di hotel apa?" tanya Deffri.


"Um, saya rasa menginap di hotel J saja sekalian besok saya ingin melihat kembali ke tempat lokasi kejadian pesawat itu, Pak!" balas Emilia.


"Oh, jadi Ibu kemari hanya ingin melihat bangkai pesawat itu? Bukan urusan pekerjaan?" tanya Deffri bingung.


"Ya, setiap bulan saya datang kemari, selama 6 bulan ini. Tapi, tak seorang pun yang mengatakan dan memberitahu, jika suami saya masih hidup atau tidak? Selain itu jasadnya pun tidak ditemukan," balas Emilia.


"Oh, um … begini saja! Jika Ibu tidak keberatan Ibu bisa tinggal di apartemen saya. Percayalah, saya tidak akan kurang ajar. Besok pagi saya akan mengantar ibu ke lokasi itu," ucap Deffri, "aku tidak ingin membiarkannya sendirian ke mana pun kamu pergi Em. Aku takut jika ada yang berniat jahat dengan kamu," batin Deffri.


"Tapi … aku tidak ingin mengganggu pekerjaan Bapak!" balas Emilia.


"Benarkah?" Emilia menatap ke arah Deffri dengan antusias ia merasa baru kali ini ada orang yang peduli dengan perasaannya terhadap suaminya.


"Tentu saja, Bu!" balas Deffri.


"Terima kasih, Pak Dino. Begini, Pak. Bagaimana jika kita saling bantu, Bapak membantu saya menemukan suami saya dan saya akan membantu Bapak untuk menemukan siapa yang telah berbuat demikian kepada Bapak?" ucap Emilia memberi semangat.


"Baiklah, Bu!" balas Deffri dengan senang hati, "paling tidak aku tidak akan berjauhan dan selalu bersamanya," batin Deffri senang. 


Sesampainya di apartemen, "Silakan masuk, Bu. Itu kamar Ibu," ucap Deffri mempersilakan Emilia untuk beristirahat.


"Terima kasih, Pak!" balas Emilia.


Keduanya masuk ke kamar masing-masing, setelah menyelesaikan Sholat Isya masing-masing ke luar dari kamar, di depan pintu keduanya saling pandang dan menundukkan kepala, "Aku susah memesan makanan, kita makan saja, tidak usah memasak atau ke luar, Bu. Soalnya tidak ada apa-apa di dapur saya," balas Deffri.


"Tidak apa-apa, Pak!" balas Emilia.


Delivery membawakan pesanan Deffri, "Mari makan Bu," ajak Deffri keduanya duduk di kursi di meja makan.


"Wah, ini makanan kesukaanku, opor ayam!" ujar Emilia senang, Deffri hanya tersenyum.


Mereka makan dengan diam, "Mengapa rumah ini dan aroma di sini seperti rumahku sendiri? Pengharum ruangan ini adalah kesukaan Deffri. Semuanya sangat mirip dengan Deffri bahkan, nomor sepatu dan sandal, kerapiannya semuanya mirip dengan Deffri," batin Emilia bingung.


Diam-diam Emilia memperhatikan  Dino, "Cara makan Dino yang sangat mirip dan cara dia memegang sendok, cara Dino membaca koran dan membalas pesan di gawainya semuanya mirip.


"Aneh, apakah ada orang semirip itu di dunia?" batin Emilia. Ia benar-benar memori harika setiap detail apa yang dilakukan oleh Dino, hatinya selalu berdebar tak karuan kala mata mereka saling bertatapan.


"Maaf, Pak Dino saya ingin beristirahat," ujar Emilia, ia semakin takut untuk terus mengamati setiap segala kemiripan Dino dan Deffri. Emilia merasa kerinduan kembali mengusik jiwanya terhadap Deffri.


"Iya, silakan Bu!" balas Deffri tersenyum.


Emilia setengah berlari masuk ke kamarnya, "Sebaiknya aku lebih baik menginap di hotel, daripada di apartemen ini. Dino benar-benar membuat aku merasa jika dia adalah Deffri  pandangan matanya, apakah ada orang yang tidak memiliki hubungan darah tapi semua kelakuan dan sikap juga sifatnya mirip? Walaupun berbeda wajah?" batin Emilia bertanya.


Ia membolak-balik tubuh bayangan Deffri menari di pelupuk mata, "baru saja aku merasakan jatuh cinta kembali pada Deffri, ia harus pergi jauh dari hidupku. Apakah aku tidak boleh bahagia? Apakah takdirku harus hidup sendiri selamanya?" batin Emilia bingung.


Sementara Deffri masih di depan TV sebagian jiwanya masih berada di ambang pintu kamar Emilia berharap ia bisa menembus dinding tersebut dan mendekap erat istrinya. Deffri mematikan televisi dan pergi ke kamarnya tepat di depan pintu Emilia ia ingin membuka dan masuk ke dalam.


"Aku punya kunci duplikatnya, tapi aku tidak tahu apakah itu akan sangat etis? Bisa-bisa Emilia akan menuduh dan melaporkanku akan tindakan pelecehan, itu akan sangat mengerikan," batin Deffri, ia secepatnya ia masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Berbaring di ranjang dengan menyentuhkan sebelah telapak tangan ke dinding kamar sebagai pembatas antara dirinya dan Emilia sang istri, "Ya, Allah! Sampai kapan cobaan ini akan kami lalui?" batin Deffri bingung,


ia ingin meronta dan menangis tapi ia tetap tidak mampu untuk melakukan  hal itu.