I Can Live Without You

I Can Live Without You
Sebuah jebakan



Emilia tersenyum dan melangkah ke atas pentas dengan anggun, "Aku tidak pernah menyesal dan lari dari kenyataan Farel, Sayang! Aku tidak pernah menemuimu diam-diam seperti yang sering kau lakukan  selama ini, jika kau rindu padaku. 


"Bahkan, kau juga pernah mengajakku untuk tidur dan cek in di hotel. Aku bukan Hana," ujar Emilia dengan senyuman, "baiklah jika kau ingin berfoto dan berpura-pura bahagia, mari!" ucap Emilia berdiri dengan memeluk putranya.


Ungkapan dan ucapan Emilia bak tamparan di wajah Hana dan Farel, "Apa maksudmu Emilia? Aku tidak pernah berselingkuh dengan Hana!" teriak Farel.


"Apa perlu aku beberkan semua bukti di mana saja kalian cek in?" tanya Emilia, "mati aku! Aku sama sekali tidak memilikinya, kemarin saat Mahroni ingin memberikan semua bukti itu. Aku tidak berniat untuk menyimpan dan melihatnya," batin Emilia galau. 


Namun, hanya keberanian sajalah ia berusaha untuk tidak terlihat cemas, kini ia sudah pintar bersandiwara menguasai semua perasaan, ketakutan  tangisan, dan kemarahannya.


"Baiklah mari kita berfoto!" ajak Farel pada akhirnya, semua orang mulai berbisik-bisik. 


Emilia tidak peduli lagi, "Kau rasakan apa yang pernah aku rasakan Hana," batin Emilia. Setelah acara berfoto ria, Hana memberikan segelas jus jeruk kepada Emilia, tanpa rasa curiga Emilia langsung meminumnya. 


"Minumlah sampai habis, Emilia. Agar kau rasakan semua yang kau katakan akan berbalik kepadamu," batin Hana tersenyum ia sudah memberikan obat perangsang. Hana tersenyum senang di dalam hatinya ia sudah mengatur rencana sedemikian rupa, ia ingin menjebak Emilia dan seorang pria di hotel yang sudah dipersiapkannya.


"Emilia, malam ini Keano tinggal bersama kami, ya? Aku kangen sama dia," ujar Emilia.


"Oh, baiklah!" balas Emilia, kepalanya sudah mulai pusing matanya mulai berkunang-kunang.


"Kamu kenapa, Em? Apa aku suruh Pak Muji saja ngantar kamu, ya?" tanya Hana berusaha untuk berbaik hati.


"Tidak usah, aku bisa sendiri. Terima kasih," balas Emilia, ia langsung mengambil dompet dan tidak sempat untuk berbicara lagi kepada Keano dan langsung pergi dari perusahaan Farel.


Emilia langsung turun melalui lift dan langsung menuju ke jalan raya untuk mencari taksi. Namun, kepalanya semakin sakit dan tubuhnya juga sangat gerah dan panas ada hasrat yang liar mulai menghentak-hentak di sana, "Apa yang terjadi denganku?" batin Emilia bingung, "apa aku salah makan?" lirih Emilia ia berusaha untuk tetap normal tetapi ia sudah mulai di ambang normal. 


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Emilia dan menarik tubuh Emilia, memasukkannya ke dalam mobil. Dua orang pria langsung menidurkan Emilia di jok belakang, "Lepaskan, aku! Dasar, bajingan!" teriak Emilia. Berusaha untuk memukul pria di depannya. 


Namun, kedua pria tersebut lebih kuat sehingga Emilia tidak bisa melawan, "Hana benar-benar luar biasa memberi kita kehangatan yang luar biasa malam ini," ujar seorang pria.


"Kau benar! Kita dapat uang dan kehangatan yang sangat luar biasa," balas seorang lagi.


"Ha-hana … sialan kau, Hana!" teriak Emilia, tetapi hanya jiwanya yang meronta sebaliknya, tubuhnya tidak bisa lagi dikendalikan. Semua hasrat tanpa logika dan tak memiliki rasa malu mulai merayap di sekujur tubuhnya 


Kedua tangan pria tersebut mulai bergerilya di tubuh Emilia, hanya air mata yang mampu ke luar membasahi pipi, "Ya, Allah selamatkan aku!" batin Emilia, ia terus berdoa dan kembali hasrat itu menjelma menghentak-hentak tubuh Emilia yang terus bereaksi ingin lebih dari apa yang dilakukan kedua pria itu.


Kedua pria tersebut begitu berhasrat ingin menuntaskan segala hal yang ingin mereka lakukan kepada Emilia, "Lepaskan, aku! Aku mohon, aa … biarkan aku pergi!" lirih Emilia penuh amarah dan sesuatu yang mulai menyerang.


Ciieett! Brak!


Sebuah mobil langsung menghantam mobil tersebut membuat mobil penculik langsung menabrak trotoar dan sebuah pohon di sana. Kedua pria yang ingin berbuat asusila kepada Emilia terhuyung dan menatap kaca mobil yang pecah. Seorang pria langsung membuka pintu, buk! Buk!


"Jahanam, siapa yang telah melakukan hal ini kepada Emilia!" umpat Defri kesal. Defri langsung menuju ke mobil, "siapa yang menyuruh kalian!" teriak Defri.


"Hehehe, wanita itu sungguh menggoda dan luar biasa, kau ingin menikmatinya sendirian begitu?" ujar pria tersebut.


"Dasar, sialan!" balas Deffri langsung meninju wajah pria tersebut.


"Hahaha, hajar saja kami! Kami tidak peduli!" teriak pria tersebut.


Defri langsung menelepon polisi, berselang beberapa menit mobil patroli polisi langsung datang, "Ada apa Def?" tanya Azmi.


"Tangkap dua cecunguk sialan ini. Siksa bila perlu," balas Defri, "aku takut, jika aku yang akan mengintrogasinya bisa-bisa aku membunuhnya!" teriak Deffri ia telah menghajar kedua pria tersebut sedangkan si supir sudah kabur.


"Apa yang dilakukan mereka?" tanya Azmi bingung.


"Mereka berusaha untuk memperkosa Emilia, dia ada di dalam mobilku. Kamu lihatlah!" ujar Defri.


Azmi langsung menuju ke mobil Deffri ia melihat Emilia sudah mulai mengerang dan meliuk-liuk bagaikan ular kepanasan, "Mereka memberinya obat perangsang? Bajingan mana yang telah melakukan hal ini? Apakah kedua manusia picik itu?" tanya Azmi.


"Aku tidak tahu, aku hanya melintas aku melihat mereka memasukkan seorang wanita ke mobil dan aku mengikutinya, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi aku melihat wanita itu meronta-ronta dan aku menabrak mobil mereka dan kau tahu.


"Siapa wanita itu? Dia adalah Emilia." Defri mengatakan sejujurnya kepada Azmi yang tidak lain adalah teman sekolah mereka.


"Maksud Kamu? Emilia Tantri?" Azmi menatap ke wajah Emilia, ia melihat Emilia sedikit tertutup oleh rambut yang menutup sebagian wajahnya. Tubuhnya tertutup oleh jas milik Defri, "Iya, Emilia Tantri!" ucap Defri masih menahan amarahnya.


"Ya, Tuhan! Sial, sudah kamu bawa Emilia ke dokter. Tapi, aku tidak tahu apakah dokter bisa mengobatinya atau tidak. Biasanya hanya membiarkannya saja atau ya, menuntaskannya," ujar Azmi memberinya solusi. 


"Kau gila! Aku masih waras, walaupun aku mencintai dan bisa saja aku menikahi Emilia … tapi itu akan menyakitinya, Azmi! Kamu ngasih ide yang jelas dong!" omel Defri.


"Lha, mau gimana lagi? Hanya itulah solusi yang aku tahu, masalahnya sepertinya belum ada obatnya Deff?" ujar Azmi.


"Ke mana aku akan membawanya? Aduh, aku bisa gila jika begini terus-terusan," lirih Defri.


"Kamu bawa ke rumahku, um … ingat jangan aneh-aneh di rumahku?" ujar Azmi, "dosanya tujuh turunan tahu! Hahaha," ejek Azmi.


"Sial, lo! Aku punya anak perempuan dan aku juga tidak ingin anakku akan mengalami hal itu," umpat Defri. Ia langsung mengambil kunci dari tangan Azmi.