I Can Live Without You

I Can Live Without You
Menghapus hitamku



"Ayo, pukul! Jika kamu mau masuk penjara, Kak, sekarang ada hukum KDRT, jadi jangan semena-mena padaku. Jika pada istri-istrimu yang lain kamu bisa sesuka hatimu, tidak padaku!" jawab Delia menantang Farel membuat Farel terdiam dan mengurungkan tangannya.


"Aku menyesal bisa menikahimu!" teriak Farel.


"Terserah! Aku pun tidak berharap akan menikahimu," balas Delia menatap lurus ke depan, "jika bukan karena balas dendamku pada Hana, aku tidak akan menggodamu," balas Delia.


Membuat Farel tercekat, "Apa?" tanya Farel tidak mempercayai pendengarannya. Ia tidak menyangka jika tidak semua wanita akan mudah tergiur dan jatuh cinta kepadanya, "jadi kau melakukan semua itu hanya ingin menjebakku?" tanya Farel.


"Ya, aku hanya ingin melukai Hana dan tidak berniat untuk menikah denganmu!" balas Delia, "jadi jika kau bilang kau menyesal dan kau ingin bercerai denganku, silakan aku tidak peduli!" balas Delia tersenyum manis.


"Brengsek! Dasar wanita gila!" umpat Farel mengendarai mobil meninggalkan bandara ia tidak ingin Delia melihat kehancuran hati dan jiwa raganya, "untuk kedua kalinya aku dicampakkan wanita, dulu Emilia dan kini Delia. Tapi, jika akai menceraikan Delia aku tidak bisa melawan mama dan Hana yang terlalu menempel kepada mama.


"Sebaiknya aku menggunakan Delia untuk membantuku melawan Mama agar aku bisa mendapatkan Emilia lagi. Lagian bukankah Delia tidak mencintaiku? Dia akan dengan mudah aku ceraikan," batin Farel melirik ke arah Delia yang diam menatap lurus ke depan.


Wajah cantik Delia hanya diam membisu tiada lagi binar kebahagiaan di sana, "Apa sebenarnya yang terjadi?" batin Farel, sekeping hatinya merasa terenyuh kala melihat kesedihan Delia di sana, "apa sebenarnya yang sudah dialami Delia? Apakah Hana benar-benar menyakitinya?" batin Farel bertanya.


Ia semakin kencang mengemudikan mobilnya, "apakah kamu ingin makan sesuatu?" tanya Farel pada Delia.


"Tidak! Aku hanya ingin pulang! Jika Mama kamu di sana, aku ingin pulang ke apartemenku saja," balas Delia. 


"Jangan! Sebaiknya, kamu pulanglah ke rumah bersamaku, bagaimanapun kamu adalah istriku," balas Farel.


"Benarkah?" balas Delia.


"Ya," balas Farel.


"Yes! Aku akan membuatmu bertekuk lutut dan benar-benar jatuh cinta padaku! Kalaupun tidak! Tidak mengapa? Aku hanya ingin menjadi duri di dalam daging, buat Hana," batin Delia.


Farel membawa Delia pulang bertepatan saat mereka masuk, Delia dengan manjanya menggamit lengan Farel, "Mas!" sapa Hana kesal melihat keceriaan di wajah Delia.


"Hm, ada apa? Aku sedang lelah, Delia benar-benar menguras tenagaku, aku ingin istirahat di kamar Delia saja," balas Farel, menatap sekilas ke arah Hana dan Janti.


"Farel! Hana juga istrimu, kamu harus adil!" teriak Janti.


"Jangan khawatir Ma, aku baru saja menikah, seminggu ini aku ingin bersama dengan Delia. Bukankah saat beberapa tahun selingkuh dengannya dulu, Emilia tidak pernah ribut? Mengapa sekarang dia harus ribut?" tanya Farel egois.


Kata-kata Farel menohok hati Hana, ia tidak nyangka jika Farel benar-bemar menyalahkan segalanya kepadanya,


"Mama!" rengek Hana.


***


Sementara Deffri dan Emilia menjalani hari penuh kebahagiaan saat melihat kedua buah hati mereka tersenyum dengan girangnya. Namun, di hati Emilia ia masih saja takut jika kejadian pernikahannya dengan Farel akan terulang lagi. Ia tidak ingin merasakan sebuah rasa sakit hati lagi, "Benarkah cinta Deffri hanya padaku? Jika tidak bagaimana ke depannya nasibku dan Keano? Aku juga tidak bisa pisah dengan Amara," batin Emilia.


"Em, ayo, kita ke kantorku! Aku ingin mengenalkanmu kepada seluruh karyawanku," ujar Deffri.


"Oh, baiklah!" balas Emilia. Ia mengirimkan pesan kepada Mira dan Mahroni untuk meng-handle toko pakaiannya.


Deffri benar-benar membawa Emilia dan mengenalkannya kepada seluruh karyawannya, "Wah, Nyonya sangat cantik sekali!" puji karyawan di belakang Emilia.


Mereka merasa jika Emilia sangat baik dan bersahaja, "Bukankah itu Emilia mantan istrinya Farel Setiawan?" batin Ardhan suami Monic, "Maaf, bukankah kamu adalah mantan istri Farel begitu?" tanya Ardhan salah satu pemilik saham di perusahaan Deffri.


"Oh, iya, Pak!" balas Emilia tersenyum, ia tidak bisa menghapus hitam yang pernah terjadi di masa kelam hidupnya. Semua itu adalh sebuah perjalanan cinta Emilia.


"Wah, berarti rumor itu benar adanya? Jika Nyonya Emilia memang berselingkuh dengan seorang pria? Aku tidak menyangka jika pria itu adalah Pak Deffri begitu?" ujar Ardhan, "aku kira Pak Deffri adalah seorang pria sejati, nyatanya ia seorang PEBINOR," lanjut Ardhan di depan semua orang.


"Maaf, Pak! Jika Bapak menghina suamiku aku sangat tidak suka, aku bertemu dengan Pak Deffri setelah aku berpisah, kamu bisa mencari buktinya," ujar Emilia kesal.


"Sudahlah, Sayang! Hal seperti itu tidak perlu kamu beberkan," balas Deffri, "aku tidak menyangka jika Ardhan mampu mengucapkan hal itu? Aku salah apa? Lagian aku tidak pernah turut campur dengan semua urusan pribadinya?" batin Deffri ia memeluk pinggang ramping Emilia untuk mengenalkan kepada semua orang dan penanam saham.


Seorang pria tua di sudut menatap semua itu dengan rasa jijik dan tidak suka, "Ternyata yang dipilih Deffri lebih hina dari Afiqah!" batinnya dia adalah Budi Hardiansyah ayah dari Deffri.


"Jadi, Nyonya Emilia adalah mantan istri Farel Setiawan itu ya? Wah, pantesan dia 'kan yang selingkuh katanya, ya? Berarti rumor itu benar?" ujar seorang wanita yang tidak lain adalah Siska istri Ardhan.


"Sudah cukup! Aku lelah menjadi hinaan semua orang yang tidak pernah tahu mengenai kehidupanku tapi berusaha jika mereka tahu, jika kau mau tahu kamu boleh bertanya pada seluruh Kota Karangsari siapa yang berselingkuh sebenarnya?" balas Emilia.


"Wah, tidak menyangka ya, jika seorang Nyonya Emilia selain, ya ... begitulah dia juga bermulut tajam," ucap Ardhan memeluk bahu istrinya Siska.


"Tuan Ardhan yang terhormat! Jangan melempar batu sembunyi tangan, dan kau Nyonya Ardhan, pergilah ke Perumahan Kasuari, nomor 25. Kau akan menemui siapa yang berselingkuh dan telah menikah siri hingga menghasilkan dua orang putri, carilah wanita bernama Monic, tolong pulang Pak Ardhan anakmu selalu meminta makan dan menginap di rumahku! Aku kasihan melihatnya.


"Jangan pintarnya buat anak dan cecer cairan cintamu di sana-sini tanpa tanggung jawab, kemudian mempermalukan orang lain untuk menutupi borokmu! Dan kau Nyonya Siska yang terhormat. 


"Aku mengenalmu walaupun kau tidak mengenalku, kau bilang aku yang selingkuh dari Farel? Bukankah kau juga pernah selingkuh dengan suamiku? Apakah aku perlu membeberkan berapa uang dari slip ATM Farel yang melayang ke ATM-mu?" tanya Emilia membuat semua orang terkesiap.


Ardhan dan Siska langsung menunduk malu, mereka langsung buru-buru kabur dari ruangan tersebut.


Emilia terdiam, Budi di sudut ruangan terkesiap melihat menantunya kali ini bukan sebagai wanita yang terlihat rapuh dan lembut seperti yang terlihat di wajahnya melainkan seseorang yang sangat mengerikan bila dia diserang.