I Can Live Without You

I Can Live Without You
Kau yang bisa hidup tanpaku



Akhirnya Ardhan berhasil menjauhkan Monic dari Siska, ia begitu bahagia pulang ke rumahnya dan Siska. Ardhan melihat istri cantiknya sedang duduk di kursi goyang, "Kamu sudah menceraikan Monic?" tanya Siska.


"Sudah, Siska! Apa sih, yang nggak aku lakukan untukmu," gombal Ardhan.


"Halah, gombal! Kau pikir aku 'kan percaya begitu saja?" tanya Siska.


"Sis, aku akui aku salah! Tapi kau juga pernah berselingkuh dengan Farel. Kau ingatlah itu, jangan selalu menyalahkan segalanya padaku? Kau seharusnya intropeksi diri. Mengapa aku melakukan semua ini? Aku tidak tahan dengan sikap otoriter kamu! Aku bukan babu kamu, aku suamimu. Ingatlah itu!" balas Ardhan menyalahkan segalanya pada Siska.


"Oh, aku selingkuh karena membalas dendam padamu! Apa yang tidak aku berikan padamu, Ardhan? Nyawa, harta  bahkan rahimku pun telah aku gadaikan semua itu karenamu hingga aku tidak bisa lagi mengandung! Semua itu karena kesalahanmu, Bajingan! 


"Jika kau tidak senang kau bisa angkat kaki dari rumahku ini. Aku tidak peduli jika aku harus jadi janda! Daripada punya suami tahunya hanya makan tidur mulu!" teriak Siska.


Ardhan terdiam, ia langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Mereka sudah tidak lagi sekamar berdua sejak Ardhan menikahi Monic, Siska masih mempertahankan rumah tangganya karena amanat dari ayahnya, "Kalau bukan karena papa, aku sudah memulangkanmu ke dealer!" batin Siska.


***


Sementara Farel makin pusing setiap harinya di mana mamanya Janti tinggal bersamanya begitu juga mama mertuanya Maya. Di mana kedua istrinya selalu saja bertengkar belum lagi Janti dan Maya yang selalu saja saling sindir.


Farel lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah ia sangat lelah menghadapi kedua istrinya yang selalu bertengkar bak tikus dan kucing. Ia merindukan Emilia pernikahannya bersama dengan Emilia yang penuh dengan kemudahan dan rasa damai, "Andaikan aku bisa mengulang waktu …." Farel membatin, ia tak menyangka jika dengan kepergian Emilia sebagian jiwanya pun telah mati, "jika aku tidak terpengaruh akan perkataan mama dan siasat licik Hana dan mama, semua ini tak akan terjadi, "batinnya.


Ia melihat anak-anak sekolah TK di mana Keano bersekolah, ia melihat Emilia telah menjemputnya bersama Deffri dan Amara putri Deffri. Farrel merasakan kesedihan dan kepedihan  di jiwa raganya, ia tidak menyangka jika semua itu mampu menghancurkan batinnya.


Ia merasa Keano dan Emilia semakin jauh meninggalkannya, "Emilia tak lagi bisa tergapai olehku! Ia bisa hidup tanpaku dengan mudah tapi, aku tak bisa hidup tanpanya," lirih Farel yang hanya memandang keluarga mantan istrinya yang bahagia di depan mata. Farel mengikuti mobil Deffri membelah Kota Karangsari mereka menuju pantai dan bermain di sana.


"Aku tidak pernah membahagiakan Keano dan Emilia, aku sibuk dengan duniaku yang tak pernah jelas, aku selalu sibuk dengan perselingkuhanku dengan Hana. Benar kata orang, 'Selingkuh itu indah bila tidak ketahuan,' jika ketahuan hancur segalanya," batin Farel.


Ia ingin berlutut dan meminta Emilia kembali tetapi itu tak akan pernah terjadi lagi. Apalagi Emilia telah banyak berubah kini. Farel melihat jika mantan istrinya lebih berisi, padat, dan bohay belum lagi wajahnya semakin cantik dengan senyuman yang selalu mengembang berbeda saat bersama dengannya dulu.


Emilia selalu penuh dengan kesedihan dan mata sembab belum lagi Farel selalu meninggalkannya sendirian tanpa mau tahu apa yang dirasakan Emilia.


Farel masih menatap dari balik kaca jendela mobil di salah satu jembatan menatap ke bawahnya di pantai yang indah itu mantan istri dan anaknya juga suami baru beserta anak tiri mantannya sedang bermain istana pasir.


"Kalian sungguh bahagia! Mengapa aku tidak! Kalian tidak boleh bahagia jika aku tidak bahagia. Aku akan merebut Emilia kembali," batin Farel.


Deffri tak henti-hentinya membelai atau memegang pinggang Emilia. Kecemburuaan menyeruak di sana, Farel tahu bagaimana rasa pinggang lembut itu juga rasa tubuh Emilia yang hangat, "Nasi sudah jadi bubur kini segalanya hanyalah tinggal kenangan," batin Farel.


"Ya!" balas Farel dingin, kedua belah lengan sudah digandeng kedua istrinya ia melirik ke arah Hana, "Hana hanya menginginkan hartaku saja dan Delia hanya ingin memanasi dan membalas dendam pada Hana. Bisa-bisanya aku terjebak di antara, dua wanita gila ini! Tak seorang pun yang tulus mencintaiku selain Emilia," batin Farel. 


Ia hanya diam kala kedua istrinya sibuk melayaninya di meja makan, "Malam ini giliran siapa yang tidur denganmu, Mas?" tanya Hana dengan manisnya.


"Aku ingin tidur sendiri!" balas Farel.


"Jangan gitu dong, Mas! Aku sudah menunggumu seminggu lebih," tuntut Hana.


"Kemungkinan Kak Farel lagi capek, biarlah dia tidur sendiri!" balas Delia.


"Delia sedikit mengerti sayangnya dia tak pernah mencintaiku," batin Farel, "ia hanya mencintai pria lain," batin Farel kecut.


"Hei, aku sedang berbicara dengan suamiku! Kamu nggak usah ikutan," teriak Hana.


"Dia juga suamiku!" balas Delia dingin, apa kau lupa Sepupu cantikku?" sindir Delia.


"Kadang-kadang, aku lupa! Karena bagiku tak mungkin seorang adik mengambil suami Kakaknya. Wanita apa itu?" sindir Hana.


"Seorang adik yang banyak belajar dari guru yang handal yaitu Kakaknya. Apa yang dilakukan seorang adik bercermin dari sikap Kakaknya," jawab Delia telak.


"Aku tidak menikahi Albert kalau itu yang kamu maksud! Lagian Albertlah yang suka padaku!" balas Hana kesal.


"Aku juga tidak berniat menikahi Kak Farel, keadaanlah yang membuatku terjebak di sana. Aku juga tidak menyukai Kak Farel dia yang menggoda dan merayuku hingga aku terlena di pelukan dan permainan cintana yang dahsyat," balas Delia.


Farel hanya diam, "Terserah, kalianlah! Bila perlu saling bunuh sekalian, agar aku terbebas dari kalian. Aku sudah lelah," batin Farel masa bodoh terus memakan nasinya menganggap keduanya bak kumbang berdengung di sekitarnya.


Ia malah membayangkan kala Emilia melayaninya makan dengan diam, setiap kali Emilia ingin bercerita mengenai hari yang dilewatinya malah Farel selalu membentaknya, "Aku ingin ketenangan! Bukan keributan!" ujar Farel membentak Emilia, "sekarang aku malah rindu suara Emilia kala dia berceloteh banyak hal," keluh batinnya.


Kini, ia benar-benar mendapatkan ketidaknyamanan bukan itu saja, ia bak domba yang diperebutkan di sana. Farel melirik Janti dan Maya yang hanya diam saja melihat keduanya bertengkar bagai anak kecil, "Apakah kalian bisa tenang! Tidak bisakah kalian berdua mendidik kedua wanita ini untuk bersikap sopan?" tanya Farel pada Maya dan Janti.


"Itu rumah tanggamu, uruslah sendiri kami tak perlu turut campur!" ujar kedua wanita paruh baya tersebut.


"Oh, begitu! Dulu, saat aku bersama Emilia Mama selalu saja turut campur. Mengapa sekarang tidak? Kalian kira aku bahagia dengan menikahi dua wanita gila ini?" teriak Farel melempar piringnya ke lantai.