I Can Live Without You

I Can Live Without You
Sebuah Rahasia seorang Dino



Emilia terdiam menatap jalanan dari balik dinding kaca restoran bergaya Jepang di supermarket melihat hujan mengguyur Kota Karangsari. Dino mengikuti pandangan Emilia, "Aku harus pulang!" ujar Emilia tiba-tiba.


"Mengapa?" tanya Dino ia ingin sekali berlama-lama dengan Emilia.


"Kedua anakku takut akan petir! Terima kasih atas makan malamnya Tuan Dino, saya harap kerjasama kita di perusahaan saling menguntungkan dan bisa mencapai waktu jangka panjang!" ujar Emilia menjabat tangan Dino. 


Dino tercekat ia baru mengingat jika Amara dan Keano sangat takut hujan petir, "Mengapa aku bisa lupa?" batinnya melihat Emilia yang berlari tanpa tahu harus berkata apa pun atau mencegah Emilia harus bersamanya.


Emilia berlari dengan membawa belanjaannya, "Emilia … apakah kau begitu merindukanku? Seperti aku yang merindukanmu?" batin Dino. Ia mengambil kantong belanjaan dan menuju mobilnya, mengendarai dengan perlahan tapi di tengah jalan ia melihat Emilia tengah berada di tengah hujan sedang mengotak-atik kap depan mobilnya.


"Apa yang terjadi dengan mobil  Emilia?" batin Dino segera menepikan mobilnya, "Ada apa, Em?" tanya Dino dari balik kaca mobilnya.


"Aku tidak tahu tiba-tiba mogok!" ujar Emilia kebingungan ia sudah mengotak-atiknya tapi mesin tetap tidak mau menyala.


"Coba aku lihat!" ujar Dino mengambil alih dengan memberikan payung pada Emilia yang langsung memayungi mereka berdua, Dino mengotak-atik sejenak, "Kamu sudah lama tidak membawa mobil ini ke bengkel, bawalah besok!" usul Dino.


"Ya, kamu benar! Ini mobil suamiku, aku tidak tahu, biasanya dia yang membawanya," jawab Emilia menyesali kebodohannya, "besok aku minta Broto untuk membawa ke bengkel," lanjut  Emilia.


"Mobil ini sudah terlalu tua! Sebaiknya kamu ganti saja dengan yang baru!" balas Dino.


"Tidak! Ini kenangan dari suamiku dan aku tidak bisa menggantinya begitu saja, hanya inilah yang bisa membuatku selalu bersama dengannya," balas Emilia dengan tegas.


"Tapi, mesinnya terlalu tua! Aku kira Deffri juga akan melakukan hal yang sama!" balas Dino.


"Jika dia yang melakukannya aku tak masalah! Tapi, jika kamu tanya aku, aku tak akan melakukannya!" balas Emilia.


"Kamu benar-benar keras kepala, Em!" batin Dino, "Aku rasa sudah bisa, cobalah!" ujar Dino menutup kap mobil, Emilia memberikan payung pada Dino dan menstarter mobil dan benar saja mesin mobil menyala.


"Terima kasih, Pak Dino!" balas Emilia tersenyum.


"Hati-hatilah! Aku akan mengikutimu dari belakang, aku takut jika mobilmu mogok lagi," alasan Dino. Ia hanya takut meninggalkan Emilia di dalam hujan penuh petir dan kondisi mesin mobil yang sudah sangat tua.


"Andaikan aku mengganti mobil itu sebelum pergi," batin Dino, ia semakin bingung harus dari mana kembali pulang ke rumah dan keluarganya, "siapa yang akan percaya jika aku adalah Deffri?" batin Dino semakin bingung.


Ia terus mengikuti Emilia hingga masuk ke pintu gerbang rumahnya, Dino memberikan klakson dan dibalas Emilia, Dino melihat Rahman menantinya di teras balkon dengan syal di lehernya, "Papa … jaga anak dan istriku!" batin Dino meninggalkan rumahnya kembali ke apartemen miliknya di pusat Kota Karangsari.


Memasuki apartemen dan bertemankan seekor kucing, ia hanya menatap selembar foto di dompetnya dimana Dirinya, Emilia, Amara, Keano, Rahman, dan Surti sedang tertawa bahagia.


"Kamu begitu dekat di sisiku, tapi terlalu jauh untuk kugapai," batin Dino atau Deffri. Ia sendiri pun tak tahu mengapa ia bisa menjadi orang lain dengan wajah berbeda, ia hanya tahu pergi ke Bandung tapi ia tak sampai di Bandung. Ia bangun di jalanan dengan wajah berbeda, ia masih beruntung memiliki ATM dan surat menyurat atas nama Keano, Afiqah, Emilia, dan Amara tanpa disadari istri dan anaknya.


Ia harus memakai nama Dino mengubah semua identitasnya selama 6 bulan, ia harus ke Bandung sebagai Dino untuk membangun usahanya tanpa diketahui semua keluarga termasuk papanya yang serakah.


Deffri terdiam, "Siapa sebenarnya yang sudah melakukan semua ini padaku?" batinnya, "apa maksud dan tujuannya? Jika mereka ingin aku mati seharusnya mereka membunuh aku saja! Bukan menyiksaku, aku tak bisa mendekati anak-anak dan istriku, aku merindukan mereka," batin Deffri.


"Azmi! Ya, Azmi! Aku harus menghubungi Azmi dan Sandi, aku rasa hanya merakalah yang bisa membantuku," batin Deffri, "untuk sementara biarlah aku menjadi Dino," lanjutnya ia membelai kucing jantan yang tertidur di sofa.


Ia masuk ke tempat tidur dan terdiam menerawang membayangkan wajah Emilia, ia rindu akan istri dan anaknya, "Ya Allah, sampai kapan semua ini berakhir?" batinnya, "besok aku akan ke Bandung," lirih Deffri.


Selama 6 bukan ia tak pernah tidur nyenyak setiap ia memandang ke cermin ia selalu saja melihat orang asing di sana, "Siapa pria ini?" batinnya bingung.


"Apakah aku bersalah padanya?" lirih Deffri bingung, ia mencoba untuk tidur.


Keesokan pagi …. 


Deffri bergegas ingin pulang ke Bandung ia ingin mencari kembali jati dirinya yang hilang. Deffri duduk di pesawat dengan diam ia memakai kacamata, ia tahu wajah yang dipakainya sangat tampan dan entah mengapa yang mengubahnya memilih wajah yang begitu tampan melebihi wajahnya yang dulu.


"Maaf, permisi!" ujar suara yang dikenalnya.


"Emilia?" ujar Deffri, "eh, maaf, maksudku Bu Emilia!" ralat Deffri.


"Oh, Pak Dino! Mau ke Bandung juga?" tanya Emilia sedikit bahagia ia selalu merasa jika ia bersama dengan Deffri.


"Iya, mungkin seminggu pulang ke Bandung, baru kembali ke Karangsari lagi," jawab Deffri.


"Um, aku duduk di situ!" balas Emilia menunjuk kursi di sebelah Deffri.


"Oh, silakan!" balas Deffri, "Ya, Allah! Biasanya aku selalu membeli dua kursi penumpang karena tidak ingin diganggu dan bersebelahan dengan orang lain tapi kali ini aku lupa!" batin Deffri.


Ia membantu istrinya untuk memasukkan koper ke bagasi dan Emilia duduk dengan nyaman. Deffri merasakan rasa senang dan takut di dalam waktu bersamaan. Ia takut melakukan kesalahan, ia takut jika ia akan melakukan hal konyol dengan memeluk atau mengecup Emilia bahkan lebih parah jika ia akan menyeret Emilia ke tempat tidur. 


Sementara Emilia akan membencinya seumur hidup, "Itu adalah hal yang paling gila! Jika aku dituduh memperkosa istriku sendiri!" batin Deffri, "ini adalah hal yang paling gila yang pernah aku alami. Sialnya, Emilia pun tidak akan percaya jika aku adalahlah Deffri. Apa yang harus aku lakukan?" batinnya.


Deffri masih termenung dengan segala kemungkinan sementara ia begitu sangat rindu akan Emilia, "Suami mana yang tak akan merindukan istri dan anaknya? Suami mana yang tak akan ingin pulang ke peraduannya?" batin Deffri terus bergemuruh marah dan tersiksa. 


"Ada apa Pak Dino?" tanya Emilia melihat Dino yang biasanya selalu berusaha tersenyum dan ceria kala bersamanya tapi tiba-tiba menjadi diam seribu bahasa.